Setelah Dikepung, 6 WN China Disandera di Aceh Berhasil Dibebaskan
Jakarta (SIB)
6 Warga negara China disandera di Aceh berhasil dibebaskan. Kelompok kriminal bersenjata diketahui menyandera mereka dan meminta tebusan uang.
“Kini sudah dapat dibebaskan, semua dalam kondisi sehat,” kata Kapolda Aceh Irjen Pol Rismawan saat dihubungi lewat telepon, Selasa (29/4).
6 Warga China itu yakni Liang Jian (27), Peng Yin Xiang (45), Huang Ming San (27), Wie Ke Song (25), Wie Fu Zang (26), Yu Xing Guan (48). Selain 6 WNA itu, juga ada seorang WNI bernama Kamaludin yang ikut disandera.
Mereka diketahui disandera kelompok bersenjata laras panjang pada Sabtu 26 April di Gayo Luwe, Nanggroe Aceh Darussalam. Para warga asing itu berkunjung ke NAD untuk melakukan eksplorasi guna kepentingan investasi.
Diketahui para penculik sempat meminta tebusan uang Rp 300 juta. “Motif belum kita ketahui, mungkin masalah uang saja,” ujar Rismawan.
Pihak Polda Aceh mengerahkan 30 personel Brimob dan Densus 88 Anti Teror guna memburu para pelaku ke sejumlah lokasi yang dicurigai.
“Kelompok belum diketahui dari mana karena melarikan diri dan sedang dilakukan pengejaran,” tandas Rismawan.
Dikepung
“Kelompok bersenjata itu melepaskan sandera setelah aparat kepolisian dan TNI mengepung kawasan tersebut, Selasa (29/4),†kata Kabid Humas Polda NAD, Kombes (Pol) Jodi Heryadi, saat dikonfirmasi ANTARA melalui telepon di Banda Aceh, Selasa.
Ia menjelaskan, ketujuh WNA itu bebas dalam keadaan sehat dan hingga kini masih diamankan di Mapolres Gayo Lues.
“Kita memeriksa keberadaan mereka di Aceh dan paspor yang digunakan masuk ke wilayah ini, sebab WNA tersebut tidak melaporkan keberadaannya ke polisi di Aceh karena mereka masuk lewat Medan,†tambahnya.
Masalah tersebut juga telah dilaporkan ke Kedubes RRC di Jakarta. Lokasi penyanderaan WNA sejak Sabtu (26/4) itu berada di kawasan hutan Desa Pasir Putih, Kecamatan Pinding.
Jodi menjelaskan, aparat kepolisian bersama TNI terus memburu tujuh orang pelaku penyanderaan terhadap WNA tersebut di kawasan hutan perbatasan Gayo Lues dengan Aceh Timur itu.
“Kita mengerahkan kekuatan cukup banyak, sekitar 100 personil gabungan TNI dan Polri untuk mengejar kelompok penyandera yang dilaporkan juga menggunakan senjata laras panjang di kawasan hutan tersebut,†tambahnya.
Kelompok penyandera itu mungkin ketakutan sebab banyaknya kekuatan aparat keamanan yang dikerahkan ke lokasi, sehingga mereka meninggalkan sandera sebelum ditemukan petugas di kawasan hutan itu, ujar Kabid Humas Polda NAD mengutip laporan Kapolres Gayo Lues. (detikcom/Ant/d)




Komentar