unita
Print This Post Print This Post

Di awal abad 19, Hong Kong Hanyalah Pelabuhan Kecil

Posted in Pariwisata by Redaksi on April 20th, 2008

Hong Kong (SIB)
Di awal abad 19, Hong Kong hanyalah pelabuhan kecil dengan penduduk berjumlah ribuan. Namun sekarang, populasi pulau kecil di Laut China Selatan ini sudah melebihi 7 juta jiwa.
Populasi yang padat ini membuat lahan di Hong Kong sangat langka. Perumahan dan perkantoran lalu dikembangkan vertikal, bahkan sampai berpuluh-puluh lantai ke atas.
Begitu turun dari Bandara Internasional Hong Kong di Pulau Lantau pada Sabtu (12/4) malam lalu, pemandangan sudah dipenuhi pencakar-pencakar langit. Lampu-lampu puluhan gedung pencakar langit itu bersinar terang. Tak terbayangkan berapa besar energi yang dibutuhkan untuk menghidupi itu semua.
Gedung-gedung itu bukan hanya berdiri di dataran rendah, di pusat-pusat kota Hong Kong. Ketika detikcom bepergian ke gunung tertinggi di Hong Kong, Victoria Peak, gedung-gedung pencakar langit bak pohon-pohon yang berjejer.
Meski merupakan puncak tertinggi, Victoria Peak tak luput dari pembangunan gedung. Bangunan Terminal Atas the Peak Tram yang bernama the Peak Tower berdiri megah hingga beberapa lantai.
Tak jauh dari sana, tampak sebuah kondominium berlantai 4 bergaya Victoria. Beberapa kali detikcom melihat mobil-mobil mewah melintas turun dari bangunan dari bangunan itu.
“Banyak orang-orang kaya Hong Kong memilih tinggal di Victoria ini,” ujar pemandu wisata E Ling yang mengantar rombongan wartawan dan tim Telkomsel ke kawasan yang bersuhu adem itu, Minggu (13/4) lalu.
Sekali lagi, E Ling mengatakan, bertempat tinggal di ketinggian memiliki feng shui yang baik menurut kepercayaan Tionghoa. Sehingga, tak usah heran, jika di puncak-puncak bukit yang tersebar di pulau Hong Kong dan Kowloon, telah bertengger rumah-rumah dan gedung-gedung tinggi.
Di pusat kota seperti Causeway Bay, gedung-gedung dibangun secara vertikal. Bahkan tempat parkir pun bertingkat, dengan tarif yang selangit. Di bagian bawah gedung mungkin terlihat seperti mal yang mewah, diisi butik-butik perancang kenamaan dunia, namun ketika dilongok ke atas, tampak pakaian sedang dijemur.
Itulah apartemen-apartemen sempit yang diisi jutaan rakyat Hong Kong. Biar sempit, tapi harga apartemen itu bisa selangit.
“Untuk 300 feet (persegi), harganya HKD 10 juta,” kata E Ling. Jika 1 meter disetarakan 3 kaki, maka itu berarti apartemen seluas 100 meter persegi memiliki harga hampir Rp 12 miliar.
Untuk diketahui, upah minimum Hong Kong adalah HKD 3.850. Sehingga, bisa dibayangkan, betapa sulitnya seorang pekerja kerah biru memperoleh tempat tinggal dengan ukuran yang lumayan.
Karena space yang terbatas itu, tak mengherankan jika warga Hong Kong suka menikmati liburan bersama keluarga di restoran atau tempat-tempat publik. Pada hari Minggu, biasa kita lihat sekeluarga mulai dari nenek sampai cucu duduk bersama di restoran.
“Tak mungkin nenek mengundang semua anak dan cucunya duduk bersama di apartemen yang sempit,” kata E Ling yang ibu dan neneknya berasal dari Palembang itu.
Mungkin itulah harga dari pembangunan luar biasa di Hong Kong.
TKI Rendezvouz & Berorganisasi di Victoria Park
Victoria Park atau Taman Victoria pada hari Minggu berubah menjadi ‘Indonesia Park’. Ribuan tenaga kerja Indonesia (TKI) memilih taman terbesar di Hong Kong itu sebagai tempat bertemu dan bahkan berorganisasi.
“Pada hari Minggu, Victoria Park ini berubah jadi ‘Indonesia Park’,” kata E Ling, pemandu wisata yang mendampingi wartawan yang diundang Telkomsel, termasuk detikcom, di Hong Kong, Minggu (13/4).
Penasaran dengan pernyataan E Ling, Minggu sore itu, detikcom kemudian menyambangi taman yang memiliki berbagai jenis arena olahraga itu. Seorang kawan lama, yang kebetulan aktivis sebuah LSM yang getol memperjuangkan buruh migran, menemani detikcom.
Teman yang bernama Ipang itu mengajak detikcom menuju pojok yang disebutnya ‘Air Mancur’. Di sana, Ipang menemui sejumlah TKI yang sedang sibuk menulis kertas-kertas berukuran HVS.
Ternyata mereka sedang menulis undangan kepada sejumlah rekan mereka yang lain. Di kop surat terpampang ‘Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia di Hong Kong (ATKI-HK) Basis Air Mancur’.
Nita, seorang TKI asal Kendal, sibuk menulis tempat rapat umum 3 bulanan yang terlewatkan diketik di surat undangan itu. Di samping Nita, rekannya yang bernama Ganika sibuk menandatangani surat-surat itu. Ganika adalah sekretaris basis ATKI Air Mancur.
“Undangannya itu untuk 30-an orang teman,” kata Ganika kepada detikcom.
Nita dan Ganika adalah dua contoh TKI yang memanfaatkan satu-satunya hari libur dalam seminggu untuk berorganisasi. Mereka mungkin minoritas dari 180 ribu TKI di Hong Kong yang memilih melakukan kerja sukarela dan mulia memperjuangkan nasib teman-teman mereka yang kurang beruntung.
Basis Air Mancur yang digerakkan Ganika dan Nita adalah 1 dari 4 basis ATKI yang berlokasi di sekitar Victoria Park. Satu basis lagi di Macao dan satu lagi di Kowloon.
ATKI berperan dalam mendorong Konsulat Jenderal RI untuk Hong Kong memperjuangkan TKI boleh melakukan side contract TKI dengan majikan mengatasi kelaliman agen-agen penyalur TKI yang banyak memotong pendapatan TKI. “Kami sudah berunjuk rasa beberapa kali,” kata Ipang.
Menurut Ipang yang sudah bergelut dengan advokasi TKI selama 3 tahun, setiap bulan itu pasti ada saja kasus baru menimpa TKI yang ditangani ATKI.
“Saat ini sekretariat ATKI ada 30-an TKI yang melarikan diri dari majikan. Ada juga yang hamil karena ditipu laki-laki,” kata Ipang.
Masalah terakhir ini sering muncul karena mayoritas TKI yang bekerja di Hong Kong adalah perempuan. Mereka rawan menjadi incaran laki-laki hidung belang yang pura-pura memacari untuk diambil kehormatan dan harta mereka.
Efek samping lain dari minimnya TKI laki-laki adalah maraknya fenomena lesbianisme di kalangan TKI. Tak jauh dari lokasi Ganika dan Nita berkumpul di basis organisasinya, sepasang TKI yang notabene perempuan terlihat saling berciuman bibir.
Inilah Victoria Park, tempat TKI ber-rendezvouz dan berorganisasi. Hmmm…
Foto Bareng ‘Bruce Lee’ dan ‘Jacky Chan’ di Victoria Peak
Terminal Atas the Peak Tram merupakan bangunan terpadu dengan berbagai fungsi lain termasuk museum lilin Madame Tussaud. Di dalam museum yang terletak di terminal bernama the Peak Tower itu, Anda akan menjumpai Jacky Chan, Bruce Lee, Andy Lau, Mao Zedong dan banyak tokoh dunia lainnya.
Tentu saja bukan orang-orang terkenal itu langsung yang dijumpai, melainkan patung lilin mereka. Museum lilin ini terletak di lantai satu the Peak Tower.
Begitu turun dari trem yang berada di lantai dasar the Peak Tower, kami langsung naik ke lantai yang lebih tinggi. Begitu tiba, akan kentara terlihat ruangan museum yang didominasi warna merah. Tampak patung lilin Bruce Lee sebagai display di dekat counter pejualan tiket.
Kami lalu membeli tiket masuk seharga HKD 120. Namun, sebelumnya, beberapa anggota rombongan wartawan dan Telkomsel, sudah langsung berpose bersama patung Bruce Lee yang terlihat mengenakan baju training ketat berwarna kuning.
Begitu tiket sudah di tangan, pemandu wisata kami, E Ling, mengingatkan bahwa semua patung boleh foto bareng kecuali patung Jacky Chan. Patung Jacky Chan ini terletak di dekat pintu masuk museum.
“Untuk foto bersama Jacky Chan, harus membayar tambahan,” kata E Ling pada hari Minggu (13/4) lalu itu.
Namun, tak peduli harus membayar, beberapa orang peserta rombongan tak terkecuali detikcom langsung mengambil posisi berfoto. Jepret! Berbagai gaya pun dikerahkan supaya tampak seakan-akan benar-benar bersama bintang film kenamaan Hong Kong itu.
Selesai berfoto, kami terus masuk ke dalam museum. Pada ruangan pertama, tampak berbagai bintang film dan artis Mandarin kenamaan seperti Michelle Yeoh yang berkewarganegaraan Malaysia itu. Seorang peserta tur dari Telkomsel langsung pasang aksi seakan mencium Yeoh dengan menggebu-gebu.
Setelah melewati sejumlah artis itu, kami tiba di ruangan yang menampilkan patung-patung lilin sejumlah tokoh dunia. Mulai dari Presiden AS George W Bush, pendahulunya Bill Clinton, mendiang Diktator Irak Saddam Hussein, Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev, sampai ke mantan pemimpin Jerman Adolf Hitler.
Tampak pula sejumlah patung lilin mantan pemimpin-pemimpin besar China kontemporer seperti Chiang Kai Sek, Mao Zedong, Deng Xiaoping, Jian Zemin dan lain-lain. Patung Presiden China sekarang, Hu Jintao, juga terlihat begitu natural seakan baru turun dari pesawat.
Meninggalkan ruangan tokoh-tokoh politik itu, tampak sejumlah patung figur-figur dunia seperti Albert Einstein dan aktor-aktor Hollywood. Nah, anehnya, patung bintang film kenamaan Hong Kong, Andy Lau, salah satunya.
“Patung Andy Lau satu-satunya yang tak terbuat dari lilin. Dia terbuat dari plastik,” kata pemandu wisata kami, E Ling. “Patung Andy Lau soalnya sering dielus-elus, makanya diganti plastik,” kata E Ling kemudian tersenyum.
Jika dibandingkan, patung Andy Lau memang yang paling banyak menarik perhatian kaum Hawa. Patung yang rapi mengenakan jas itu begitu berdiri gagah sehingga seringkali kaum Hawa berpose sambil memeluknya.
“Jantungku sampai deg-degan,” komentar Ayu, satu dari dua perempuan yang ikut dalam rombongan kami usai berfoto bersama ‘Andy Lau’ itu.
Lalu dari Andy Lau, kami harus naik lift ke lantai yang lebih atas. Di lantai atas ini, patung-patung yang dipamerkan adalah artis dan aktor dunia seperti the Beatles, Madonna, Marilyn Monroe, Kylie Minogue, Queen dan lain-lain. Itulah akhir petualangan kami di Museum Madame Tussaud.
Aberdeen Marina, Teluk dengan Feng Shui Terbaik di Hong Kong
Feng Shui merupakan elemen terpenting dalam hidup orang Tionghoa, termasuk di Hong Kong. Nah, salah satu tempat yang dipercaya memiliki feng shui yang terbaik di Hong Kong adalah Aberdeen Marina.
“Hong Kong hampir setiap tahun dilanda taifun. Tapi meski taifun, Aberdeen selalu tenang,” ungkap E Ling, pemandu wisata yang mendampingi sejumlah wartawan dan tim Telkomsel yang berkunjung ke Hong Kong, Minggu (13/4) lalu.
“Aberdeen memiliki feng shui yang paling bagus,” imbuh E Ling yang beribukan orang Palembang dan berbapak asli Hong Kong itu.
Aberdeen terletak di dekat pelabuhan Victoria, Kowloon, Hong Kong. Diapit pegunungan di kiri kanan, Aberdeen yang menjorok ke daratan menjadi aman dari angin kencang. Permukaan air Aberdeen pun tenang.
Dengan kondisi yang seperti itu, Aberdeen sejak berabad-abad lalu telah menjadi tempat bersandar favorit para nelayan Hong Kong. Namun dewasa ini, Aberdeen berkembang menjadi Marina untuk yacht, meski kapal nelayan yang disebut ‘Sampan’ masih bertahan.
E Ling kemudian mengajak rombongan yang berjumlah lebih dari 10 orang itu menaiki sebuah sampan yang dikemudikan warga asli Hong Kong. Terdapat 3 dermaga untuk menaiki sampan yang terbuat dari kayu ini.
Setiap orang harus membayar HKD 55 untuk sebuah tur yang disebut ‘Sampan Ride’ itu. “Namun jika penumpangnya lebih dari 10, kelebihannya didenda HKD 100,” kata E Ling.
Di sampan yang memiliki lebar 3 meter dan panjang 8 meter itu, kami duduk di pinggir-pinggirnya. Tak usah ketakutan kehujanan atau kepanasan, karena sampan ditutupi tudung.
Pengemudi kapal yang tak bisa berbahasa Inggris itu mulai mengerahkan kemudinya untuk membawa kami berkeliling di Aberdeen. Sampan mulai membelah air laut berwarna biru yang tampak bersih itu.
Pemandangan pertama yang tampak adalah beberapa orang membersihkan yacht yang bersandar. Ada puluhan yacht tertambat di sana.
Tak jauh, tampaklah floating restaurant yang terkenal itu. Restoran terapung ini merupakan sebuah kapal seukuran tanker yang dialihfungsikan menjadi rumah makan berlantai 3. Eksterior dan interior kapal dipermak tak ubahnya istana-istana kerajaan. Sayang kami hanya melewati restoran ini.
Perjalanan kemudian diteruskan mengarah ke hilir yang semakin dekat ke laut. Di kiri-kanan marina, tampak gedung-gedung tinggi menjulang. Posisi berdiri gedung-gedung ini sangat menakjubkan, karena ada yang berdiri menjulang di atas bukit-bukit di sekitar marina.
Keberadaan bangunan-bangunan ini membuat feng shui Aberdeen memburuk. Ditambah dengan berpindahnya pusat pengembangan industri China ke Shanghai dan Shenzhen, feng shui keseluruhan Hong Kong mendapat angin saja.
“Feng Shui daerah ini tidak lagi bagus. Kabut datang hampir setiap hari. Jika dulu angin bertiup dari Hong Kong, maka sekarang bertiup ke Hong Kong,” kata E Ling dengan bahasa Indonesia yang hampir sempurna.
Lupakan feng shui, di tengah perjalanan, kami menjumpai sejumlah sampan bertingkat dengan ukuran yang beberapa kali lebih besar dari yang kami naiki.
“Houseboat. Houseboat,” kata sang pengemudi sampan dengan dialek Mandarin yang kental ketika menyebut istilah Bahasa Inggris untuk rumah perahu.
Rumah perahu itu merupakan tempat tinggal bagi warga Hong Kong. Tampak aktivitas laiknya rumah terjadi, misalnya memasak dan bercengkerama di atas rumah perahu itu.
Setelah berjumpa rumah perahu itu, sampan yang kami naiki berbalik arah kembali ke dermaga. Ternyata hanya begitu saja wisata ‘Sampan Ride’ ala Hong Kong itu, sebuah wisata sederhana yang harusnya juga biasa dijumpai di kota-kota Indonesia yang memiliki banyak sungai.
Naik Gunung Tertinggi Hong Kong
Setelah dari Aberdeen Marina, perjalanan selanjutnya adalah mendaki gunung tertinggi di Hong Kong yang dinamakan Victoria Peak. Tapi mendaki gunung setinggi 552 meter di atas permukaan laut ini tak perlu capek, Anda tinggal menaiki trem.
Trem ini beroperasi setiap hari, bahkan di hari Minggu dan libur nasional. Trem beroperasi dari pukul 07.00 sampai 24.00, dengan keberangkatan per 10 sampai 15 menit rata-rata.
Terminal Bawah sarana transportasi yang bernama the Peak Tram ini terletak di seberang Konsulat Jenderal Amerika Serikat. Dari luar, Anda tak menyadari bahwa bangunan seperti mal itu adalah terminal trem.
Untuk menaikinya, Anda tinggal merogoh kocek HKD 22 untuk sekali berangkat dan HKD 33 untuk bolak-balik. Bagi anak kecil (berumur 3-11 tahun) dan manula (di atas 65 tahun), cukup HKD 8 untuk sekali naik dan bolak-balik HKD 15.
“Kalau bisa duduk di sebelah kanan,” pesan E Ling, pemandu wisata yang mendampingi sejumlah wartawan dari Indonesia dan tim Telkomsel yang berkunjung ke Hong Kong, Minggu (13/4) lalu itu.
Pesan E Ling itu ternyata benar. Di sisi kiri trem yang menanjak sampai 27 derajat menyusuri lereng Victoria Peak itu hanya terlihat tebing. Pemandangan luar biasa terpampang di sebelah kanan trem yang hanya terdiri dari 2 gerbong itu.
Sayang cuaca tak mendukung saat detikcom berkunjung itu. Kabut tebal menutupi pemandangan, namun beberapa kali tampak pemandangan teluk Victoria yang menghadap Samudera Pasifik. Gedung-gedung pencakar langit menjulang seperti berusaha menyaingi Victoria Peak.
“Hong Kong itu kan subtropis. Ketika musim panas yang sangat menyengat, dulu warga Hong Kong berwisata ke the Peak ini. Kalau dulu berjalan kaki, sekarang tinggal naik trem,” kata E Ling.
Seperti disebutkan dalam situs thepeak.com, jalur trem ini sudah beroperasi sejak 1888. Jika dulu dengan sistem manual yang kuno, maka mulai Agustus 1989, trem beroperasi dengan sistem yang terkomputerisasi dan tingkat keamanan tinggi.
Hanya dalam hitungan menit, trem telah membawa kami menuju Terminal Atas yang berada di ketinggian 397 meter di atas permukaan laut. Dan sekali lagi, jangan bayangkan terminal trem seperti laiknya stasiun kereta. Tunggu ceritanya pada tulisan berikutnya. (o)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.