Surya Tour
Print This Post Print This Post

Krisis Beras Mulai Landa Negara Asia Tenggara

Posted in Berita Utama by Redaksi on Maret 31st, 2008

Filipina (SIB)
Para petani di Filipina mengingatkan kemungkinan naiknya harga beras sebagai hasil dari berkurangnya suplai bahan pangan yang terjadi di negara mereka dan seluruh dunia. Berkurangnya stok bahan pangan dunia juga mendorong pemerintah Filipina menandatangani kesepakatan impor beras dengan Vietnam guna menjamin ketersediaan stok beras negara tersebut. Dewan Petani Beras Nasional mengatakan, kekurangan stok periode Juli hingga September bisa memicu kenaikan harga beras hingga 60 %, berdasarkan harga rata-rata saat ini. Meski pemerintah memberi jaminan pada rakyatnya bahwa cadangan stok beras akan terpenuhi, namun tetap mengakui harga beras akan terus melonjak. Selain semakin menipisnya suplai beras dunia dan tingginya permintaan, ke depannya tekanan terhadap harga beras datang dari terus membubungnya harga minyak dan pupuk. Saat ini harga beras di Vietnam dan Thailand—yang berada di antara sejumlah negara pengekspor beras utama dunia—telah menyentuh level US$ 500 per metrik ton atau naik sebesar 25 % dari harga bulan lalu.
Konsumsi beras Filipina mendekati 12 juta metrik ton pertahunnya. Namun, gagal panen dan hilangnya lahan pertanian beras telah mengakibatkan penurunan stok beras hingga 10-15 persen. Baru-baru ini, Vietnam menyetujui ekspor beras ke Filipina sebesar 1.5 juta metrik ton. Saat ini, negara bekas jajahan Spanyol tersebut berencana mengimpor lagi lebih dari 2.2 juta metrik ton beras tahun ini, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya guna menambah cadangan stok beras mereka. Naiknya harga beras di Filipina juga tidak dapat dipungkiri adanya permainan oleh para tengkulak dan penimbun beras, yang memaksa Presiden Macapagal Arroyo menginstruksikan Menteri Pertanian, Arthur Yap agar turun langsung ke lapangan guna memantau gudang-gudang penyimpanan dan penyaluran beras subsidi pemerintah. Presiden Arroyo sendiri menggunakan isu beras dalam kampanyenya untuk bisa duduk sebagai presiden pada 2001, yang mengatakan bahwa pemerintahannya akan membuat Filipina menjadi negara swasembada beras. Walau janji tersebut belum terbukti hingga saat ini, namun direktur eksekutif Institute Peneliti Beras Filipina, Dr Leocadio Sebastian meyakini bahwa dalam waktu dekat, impian Filipina menjadi negara swasembada beras bisa terwujud, bahkan di pemerintahan saat ini yang akan habis masa tugasnya pada 2010 mendatang.
“Kami harus meningkatkan ladang produksi kami yang saat ini masih di bawah Vietnam dan Indonesia. Kami juga harus membangun lebih banyak lagi sistem irigasi, pembibitan dan manajemen teknologi penanaman,” demikian papar Dr Sebastian seperti dilaporkan harian The Straits Times, Kamis (27/3).
Krisis yang terjadi di Filipina tersebut ternyata juga dialami oleh sejumlah negara Asia Tenggara lainnya. Di Indonesia sendiri, pemerintah mulai mempertimbangkan rencana pembatasan ekspor beras demi menjamin ketersediaan cadangan stok dan menstabilkan harga beras di dalam negeri. Rencana tersebut mencuat di tengah adanya kekhawatiran bahwa selisih harga pasar domestik dan luar negeri bisa memicu produsen beras lokal menjual berasnya ke pasar luar negeri, yang sudah barang tentu akan mengacaukan suplai dan harga beras nasional. Saat ini harga beras di pasar nasional Indonesia berada dikisaran US$ 516 hingga US$ 653 pertonnya, yang terpaut jauh dengan harga beras ekspor yang berada dikisaran US$ 618-745 pertonnya.
“Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena harga beras domestik jauh lebih murah ketimbang harga pasaran internasional. Ini akan memicu penjualan ke luar negeri,” papar Menteri Pertanian, Anton Apriyantono.
Kebijakan yang lebih tegas juga diterapkan pemerintah Kamboja. Baru-baru ini, PM Hun Sen mengeluarkan perintah larangan ekspor beras selama dua bulan dengan tujuan menghentikan lonjakan harga beras lokal yang telah menyentuh level US$ 1 perkilogram, naik dari harga sebelumnya sekira US$ 0.40. Hun Sen juga meminta rakyatnya untuk tetap tenang menyikapi kenaikan sejumlah harga bahan pokok, khususnya beras dan menyalahkan para pedagang yang mengambil keuntungan dari selisih harga beras dunia sebagai pemicu naiknya harga beras nasional Kamboja. PM Kamboja juga memerintahkan operasi pasar di sejumlah daerah, seperti provinsi Kandal, Kompong Thom dan Kompong Cham dan melaporkan setiap pelanggar peraturan.
Di Thailand, peningkatan harga beras di pasaran internasional dan ketidakstabilan kurs dollar AS memaksa penghentian bantuan makanan kepada lebih dari 140.000 pengungsi Myanmar yang melarikan diri ke Thailand. “Harga beras saat ini hanya akan membunuh kami,” ucap Jack Dunford, kepala konsorsium penyedia makanan, tempat tinggal dan bantuan lainnya kepada pengungsi etnis minoritas yang berada di sepanjang perbatasan Thailand-Myanmar. Dengan kenaikan harga beras sebesar 50 persen dalam dua bulan belakangan ini dan penurunan kurs dollar AS terhadap mata uang bath Thailand, Dunford mengatakan dirinya harus menalangi kekurangan anggaran sebesar US$ 5.8 juta agar bisa menutupi selisih rasio suplai makanan saat ini. Bersama dengan kebutuhan lainnya, seperti bahan bangunan, sabun dan anti nyamuk, rasio suplai makanan tersebut juga akan dikurangi menyusul mulai berkurangnya pendonor yang memberikan bantuannya. Jika gap tersebut tidak ditutupi, pengungsi hanya akan di suplai 12 kg beras perbulannya tanpa bahan makanan lainnya. Program penambahan gizi anak dan perawatan kesehatan juga terpaksa ditinjau ulang dan bahkan dihentikan jika kondisi tersebut terus berlangsung. (AP/Xinhua/TST/LBN/g)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.