Antisipasi Protes Film Anti Islam Fitna, WNA akan Dilindungi dari Sweeping
Jakarta (SIB)
Penyebarluasan film anti Islam, Fitna, besutan politikus Belanda, Geert Wilders, dimungkinkan akan menyulut kemarahan ormas Islam di Indonesia. Pemerintah siap melindungi warga negara asing (WNA) dari kemungkinan sweeping ormas-ormas Islam di Indonesia.
“Kita kan bangsa yang besar, ya kita lindungilah mereka,” ujar Menbudpar Jero Wacik di Gedung Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Minggu (30/3).
Jero mengaku belum mendengar rencana ormas untuk mensweeping warga asing. Namun dia berharap hal itu tidak terjadi. “Ya itu nggak ada (sweeping). Saya belum dengar,” kata Jero.
Film Fitna terus memicu protes dari berbagai kalangan muslim dunia. Akibatnya film yang disebarluaskan lewat website liveleak.com dihilangkan dari server tersebut. Namun pada website youtube.com, film tersebut masih tersedia.
Yahudi Belanda Kutuk Fitna
Film anti Islam, Fitna, terus menuai protes. Kecaman tidak hanya berasal dari kalangan umat Islam. Kelompok Yahudi pun mengecam film yang dibuat oleh anggota parlemen Belanda, Geert Wilders tersebut. Film ini dinilai kontraproduktif untuk memerangi kelompok ekstrimis.
Pusat Organisasi Yahudi Belanda menilai Wilders melakukan generalisasi yang salah. Film berdurasi 15 menit itu antara lain menampilkan pandangan umat Islam terhadap Yahudi. Di film itu disebutkan, berdasarkan Alquran Yahudi itu disamakan dengan kera dan babi.
Film juga memperlihatkan demonstrasi sejumlah orang yang tidak mempercayai adanya Holocaust dan memuji Adolf Hitler yang membantai orang Yahudi.
“Wilders mempresentasikan grafik peningkatan jumlah umat Islam di Eropa dengan gambar dari sken serangan teroris, ini mensugesti bahwa semua muslim itu potensial teroris,” kata Kepala Pusat Informasi dan Dokumentasi Israel, Dr Ronny Naftaniel kepada Haaretz.
Film Wilders yang isinya mengompilasi demo sejumlah muslim yang mengusung kebencian terhadap Yahudi, merupakan fakta adanya pertentangan di masyarakat Belanda. Tapi hal itu justru kontraproduktif untuk memerangi ektrimis. (detikcom/g)




Komentar