TV Pakistan Tayangkan Gambar “Penyerangan” Bhutto
Islamabad (SIB)
Teka-teki siapa yang menyerang mantan Perdana Menteri Benazir Bhutto usai mengikuti kampanye di Rawalpindi kemungkinan tak lama lagi akan segera terjawab. Sebuah stasiun televisi Pakistan, Minggu (30/12) menayangkan gambar detik-detik saat Bhutto ditembak. Bhutto tewas ditembak dan dibom saat menyapa pendukungnya dari atap mobil saat meninggalkan kampanye di Rawalpindi. Pemerintah Pakistan menuduh jaringan teroris Al Qaeda berada di balik serangan itu.
Dalam gambar yang ditayangkan stasiun Dawn News Television, terlihat dua pria yang menyerang dan membunuh pemimpin oposisi Pakistan. Stasiun itu memperlihatkan tiga gambar yang dikatakan diperoleh dari seorang fotografer amatir.
Salah satu gambar memperlihatkan dua pria berdiri di luar kerumunan orang sebelum Bhutto pergi. Salah seorang pria itu masih berusia muda, mengenakan kacamata hitam, kaos warna putih dan mantel hitam. Di sebelahnya berdiri seorang pria dengan wajahnya tertutup selendang putih, yang dikatakan Dawn pelaku pemboman.
Sedangkan dua gambar lainnya memperlihatkan pria muda itu mengarahkan pistol ke arah Bhutto saat meninggalkan kampanye. Jarak pria itu dari Bhutto sekitar 10 kaki dan berdiri di sebelah kiri kendaraan yang ditumpangi Bhutto. Saat wajah Bhutto berpaling kearahnya, pria itu langsung mengarahkan senjata. Pihak berwenang menyatakan tiga tembakan ditembakkan ke Bhutto sebelum pembom bunuh diri meledakkan bom.
Siapa Pembunuh Benazir Bhutto?
3 Hari setelah kematian PM Pakistan Benazir Bhutto, dunia masih bertanya-tanya siapa pembunuhnya. Intelijen, gerakan militan Islam, kelompok etnis atau faksi militer? Semua bisa punya motif.
Pemerintah langsung menunjuk hidung Al Qaeda. Namun sejumlah analis politik mengatakan tidak sesederhana itu. Pemerintah Pakistan pada kenyataannya juga menyokong militan Islam di Kashmir dan Afghanistan.
“Semua sudah tahu kalau pihak intelijen berhubungan dengan para militan dan kelompok sektarian sejak pendudukan Sovyet di Afghanistan,” ujar pakar politik Pakistan, Hasan Askari kepada AFP, Minggu (30/12).
Meskipun pemerintah Pakistan kerap menggembar-gemborkan perang melawan terorisme, menurut Askari, banyak pihak menilai itu sebagai standar ganda. Para kepala dari 3 badan intelijen Pakistan adalah personel atau pensiunan militer yang punya masalah dengan keluarga Bhutto.
Bhutto saat lolos percobaan pembunuhan pada Oktober 2007, langsung menuding faksi Jenderal Zia ul-Haq, orang yang menggulingkan ayahnya pada 1977. Presiden Parvez Musharraf juga adalah panglima militer. Keputusannya menjadi sekutu AS membuatnya dimusuhi kelompok garis keras.
“Kelompok-kelompok ini bertujuan menghabisi para pemimpin Pakistan, menyerang target-target yang bisa mengganggu institusi negara, dan mengganggu stabilisasi Pakistan untuk kepentingan agenda mereka,” ujar pejabat badan anti terorisme yang enggan disebut namanya.
Kelompok etnis di utara Pakistan juga menjadi daerah persembunyian Al Qaeda termasuk pentolan mereka Osama Bin Laden. Kelompok militan membenci Bhutto yang populer dan dinilai pro AS. Pembunuhan Bhutto dinilai untuk merongrong pemerintahan Musharraf yang menekan kelompok militan.
“Walau pemerintah Pakistan tidak terlihat diuntungkan dari tewasnya Bhutto, mereka bertanggung jawab atas lemahnya kondisi keamanan,” kata pakar politik Lahore University, Rasul Baksh Rais.
Tewasnya Bhutto menambah panjang daftar pembunuhan politik yang menimbulkan perdebatan sepanjang masa. Jenderal Zia ul-Haq, dua saudara Bhutto, Murtaza dan Shahnawaz, PM pertama Pakistan Liaqat Ali Khan, dan kini Bhutto, semua tewas tanpa jelas siapa yang bertanggung jawab.
Putra Bhutto Siap Ganti Ibunya
Partai Rakyat Pakistan (PPP) berencana memilih pemimpin baru setelah ditinggal Benazir Bhutto. Putera Bhutto yang baru berusia 19 tahun, Bilawal, siap maju dalam pemilihan ketua partai.
Bilawal saat ini masih berkuliah di Oxford University Inggris. Para pengurus partai mengatakan dia adalah calon kuat pemimpin baru PPP. Keputusan Bilawal menjadi ketua partai, akan ditetapkan dalam rapat komite sentral PPP di Naudero, kampung halaman Bhutto.
“Bilawal adalah kandidat utama, namun partai harus memutuskan melalui proses konsultasi,” ujar pengurus partai PPP yang tidak disebut namanya kepada AFP, Minggu (30/12).
Para pejabat PPP mengatakan akan mengambil keputusan apakah akan ikut atau tidak dalam pemilu Pakistan 8 Januari 2008 mendatang. Selain Bilawal, anggota dinasti Bhutto yang lain juga akan menjadi calonnya. Mereka adalah Sanam, adik perempuan Bhutto, Asif Zardari, suami Bhutto, dan anggota senior PPP Makhdoom Amin Fahim.
Sanam yang berusia 50 tahun kini menjadi satu-satunya anak mantan PM Zulfiqar Ali Bhutto yang masih hidup. Sang ayah dulu juga dieksekusi pada 1979 dengan UU Keadaan Darurat Pakistan.
Menurut PPP, jika Bilawal terpilih, partai akan membentuk badan penasehat sampai Bilawal selesai kuliah dan bisa secara penuh memimpin partai. Meski demikian, para analis politik di Pakistan lebih menjagokan Zardari, Fahim dan ketua PPP Provinsi Punjab Makhdoom Shah Mahmood Qureshi.
Pemilu Pakistan Terancam Tertunda
Pesta demokrasi di Pakistan yang akan digelar pada 8 Januari 2008 mendatang terancam tertunda. Ini dikarenakan kerusuhan yang merebak pasca tewasnya Benazir Bhutto.
Namun sepenuhnya hal ini tergantung pada pertemuan yang akan digelar oleh komisi pemilihan pada Senin 31 Desember.
“Kerusuhan yang terjadi mempengaruhi proses pencetakan surat suara, logistik, dan personel yang ada. Dan sangat mungkin untuk ditunda,” tulis komisi pemilihan dalam rilisnya seperti dikutip AFP, Sabtu (29/12).
Selain itu di beberapa tempat situasi keamanan tidak kondusif untuk menggelar pemilihan. Tambah lagi tewasnya Bhutto, yang juga salah satu kandidat membuat kertas suara yang telah dibuat menjadi tidak berlaku.
Sementara itu Partai Rakyat Pakistan, penyokong Bhutto baru akan menentukan sikap untuk ikut pemilu atau tidak pada Minggu 30 Desember. Dan pemilu di Pakistan akan kurang kredibel bila partai ini tidak turut serta.
Namun sepenuhnya partai ini mengecam pemerintah yang mencoba menutupi penyelidikan pembunuhan Bhutto. Kerusuhan yang merebak di negara berpenduduk 160 juta jiwa ini menyebabkan 38 orang meregang nyawa, sedang 53 lainnya menderita luka-luka.
Sedang dari Amerika Serikat dilaporkan bahwa pihak Gedung Putih mendesak pemerintahan Pervez Musharraf untuk mengusut tuntas tragedi kematian Bhutto.
“Pemerintah Pakistan mempunyai tanggung jawab untuk melakukan penyelidikan dan melaporkannya kepada warga Pakistan,” kata juru bicara Gedung Putih Tony Fratto.
AKSI BALAS DENDAM
Kematian mantan Perdana Menteri Benazir Bhutto oleh penembakan dan pemboman oleh orang tak dikenal, memicu aksi balas dendam. Dua pembom bunuh diri berusaha membunuh seorang pemimpin senior partai berkuasa di timur Pakistan. Namun usaha itu gagal karena bom yang mereka bawa lebih dulu meledak. Usaha percobaan pembunuhan itu berlangsung saat anggota-anggota partai politik Bhutto bersiap mengadakan pertemuan membahas apakah akan memboikot pemilu 8 Januari menyusul terbunuhnya pemimpin karismatik mereka.
Kongres Partai Rakyat Pakistan (PPP) yang berlangsung di tengah-tengah pecahnya kerusuhan di seluruh Pakistan dan simpang siur penyebab kematian mantan perdana menteri itu, juga direncanakan akan membacakan keinginan terakhir Bhutto serta mencari penggantinya.
Dua pria yang mengendarai sepeda motor berusaha membunuh Ijazul Haq, pemimpin senior partai Liga Muslim Pakistan-Q, di kota Bahawalnagar. Namun usaha mereka menemui kegagalan karena bom yang mereka bawa keburu meledak.
Haq lolos dari serangan bunuh diri karena dia tidak berada di dalam rumah saat penyerang menyerang. Haq adalah mantan menteri keagamaan saat pemerintah melancarkan operasi militer melawan kelompok militan yang bertahan di sebuah masjid di Islamabad yang menewaskan lebih 100 orang.
Demikian dikatakan kepala polisi distrik, Zafar Abbas Bukhari, seperti dilansir Associated Press, Minggu (30/12). Ini merupakan serangan bunuh diri pertama di Pakistan sejak tewasnya pemimpin oposisi Benazir Bhutto pekan lalu, memicu pecahnya kerusuhan di seluruh negara itu.
Kerusuhan massal di kalangan pendukung Bhutto sejak Kamis lalu telah menewaskan sedikitnya 44 orang dan menimbulkan kerugian mencapai puluhan juta dolar. Perusuh juga menghancurkan 176 bank, 34 SPBU, 72 kereta api, 18 stasiun kereta api dan ratusan mobil serta toko.
Izinkan Jenazah Bhutto Digali
Pemerintah Pakistan akan mengizinkan jenazah Benazir Bhutto digali untuk penyelidikan jika partai yang dia pimpin meminta hal tersebut, kata juru bicara Kementerian Dalam Negeri, Brigadir Javed Cheema, Sabtu (29/12). Dia mengatakan laporan pemerintah mengenai kematian Bhutto dalam suatu serangan bunuh diri pada Kamis (27/12) adalah fakta mutlak — dan hanya fakta.
Sementara itu Menteri Luar Negeri Inggris David Miliband mengatakan, dirinya tidak mempunyai bukti untuk membantah pernyataan Pakistan yang menghubungkan kematian Benazir Bhutto dengan Al-Qaeda. Saat berbicara kepada para wartawan di luar gedung Komisi Tinggi Pakistan, di London, Sabtu, dia menyatakan Pemilu masih bisa diselenggarakan pada bulan depan, namun hal itu tergantung partai-partai politik yang terlibat dalam Pemilu di Pakistan.
“Kami tidak mempunyai bukti untuk membantah laporan dari Pakistan,” katanya sesudah menandatangani buku belasungkawa bagi Bhutto. “Tentu saja sangat penting bahwa suatu penyelidikan penuh dilaksanakan dengan secara menyeluruh.”
Ketika ditanya tentang kelangsungan Pemilu, dia mengatakan: “saya pikir Pemilu bisa dilaksanakan pada delapan Januari, namun apakah hal itu akan terlaksana, itu tergantung partai-partai politik di Pakistan, terlebih lagi keputusan dari PRP (Partai Rakyat Pakistan).” “Pesan yang ingin saya sampaikan saat ini adalah bahwa setelah 48 jam duka cita akibat tragedi yang mengerikan ini, 48 jam berikutnya adalah saat untuk persatuan dan tanggung jawab.”
Kata-kata Terakhir Bhutto: Panjang Umur Bhutto!
Mantan PM Pakistan Benazir Bhutto tewas dalam kampanye di Rawalpindi, Pakistan. Kata-kata terakhir dari mulutnya adalah “Panjang umur, Bhutto!”. Sungguh tragis. Itulah kesaksian penasehat politik Bhutto, Safdar Abbassi kepada The Sunday Telegraph seperti dilansir AFP, Minggu (30/12). Abbassi duduk di belakang Bhutto dalam mobil kampanyenya di Rawalpindi.
Menurut Abbassi dalam hari naas itu, Bhutto memilih mobil pertama dari dua mobil konvoi. Abbassi ikut di dalam mobil itu dan duduk di belakang Bhutto. Di tengah kerumunan massa, Bhutto mengeluarkan badannya lewat sunroof mobil dan melambaikan tangan kepada pendukungnya.
“Nar-e Bhutto! (Beri salam untuk Bhutto!),” Abbassi berseru mengomando massa. “Jeay Bhutto! (Panjang umur Bhutto!),” kata Abbassi meniru seruan Bhutto. Tiba-tiba terdengar letusan, Bhutto rubuh. “Dia tidak berkata apa-apa. Saya pikir dia bingung akibat tembakan. Kami sungguh tidak sadar,” lanjut Abbassi.
Lalu terjadi ledakan dan serpihannya mengenai mobil. Bhutto berlumuran darah dan mereka pun baru menyadari Bhutto tertembak. Istrinya, Naheep Khan meletakkan kepala Bhutto dalam pangkuannya. Kerudungnya dia pakai untuk menahan aliran darah di leher Bhutto.
Bhutto masih hidup saat dilarikan ke ICU, namun dokter tidak dapat menyelamatkan nyawanya. Meskipun banyak saksi yang menjelaskan kematian Bhutto, pemerintah Pakistan menegaskan, Bhutto tidak tewas karena peluru melainkan benturan dengan atap mobil saat ada ledakan bom. Kisah versi pemerintah ditolak mentah-mentah oleh Partai Rakyat Pakistan (PPP), partai pendukung Bhutto.
Sharif TARGET PEMBUNUHAN
Pasca pembunuhan pemimpin oposisi Benazir Bhutto, Pakistan kian mencekam dan situasi politik pun kian tak menentu. Para pemimpin politik lainnya di Pakistan juga berada dalam ancaman pembunuhan. Setidaknya demikianlah peringatan yang dikeluarkan pemerintah Pakistan, Sabtu (29/12).
Nawaz Sharif ––yang saat ini dianggap sebagai pemimpin oposisi paling terkemuka di Pakistan–– adalah salah satu dari sekian banyak politisi oposisi yang dinilai sebagai target pembunuhan berikutnya. “Ada beberapa orang yang kini terancam nyawanya dan kapanpun kami menerima informasi kami akan menyampaikannya kepada pihak terkait,†terang Brig. Javed Cheema, jubir Kementerian Dalam Negeri Pakistan dalam sebuah konferensi pers di Islamabad, Sabtu.
Selain Sharif, Cheema juga menyebut nama sejumlah politisi lain seperti pemimpin sebuah partai oposisi Islam Maulana Fazlur Rehman, mantan menteri Perkeretaapian Sheikh Rashid dan mantan menteri luar negeri Aftab Sherpao sebagai target pembunuhan. Namun ia tidak menyebutkan darimana ia mendapatkan informasi itu dan kelompok mana yang merencanakan aksi pembunuhan tersebut.
Aftab Sherpao telah beberapa kali selamat dari usaha pembunuhan, terakhir kali dalam pemboman di sebuah masjid di Charsadda, barat laut Pakistan dimana ia dan ribuan umat Muslim tengah merayakan Hari Raya Idul Fitri. Dalam peristiwa itu sedikitnya 56 orang tewas. Sharif sendiri sejak kembali dari pengasingan ke tanah air belum pernah sekalipun ada usaha pembunuhan terhadapnya.
PAKISTAN AKAN HANCUR
Dalam perkembangan terpisah, merespon keputusan pemerintah untuk tidak menunda pemilu, Nawaz Sharif mengatakan jika pemerintah meneruskan rencana menggelar pemilihan parlemen, maka keputusan itu akan “menghancurkan negaraâ€.
“Jika pemerintah tetap menggelar pemilu 8 Januari, maka akan terjadi kehancuran diri yang bukan hanya kehancuran bagi pemerintahan sendiri namun juga akan menghancurkan negara tersebut,†tukas Sharif kepada wartawan. “Mereka tidak akan kredibel,†katanya. “Sebagian besar partai politik utama telah mengumumkan pemboikotan mereka.â€
Sharif adalah musuh lama Musharraf. Ia digulingkan dalam kudeta tahun 1999 oleh Musharraf. Sharif mengatakan “tuntutan nomor satu†negara itu adalah agar Presiden Musharraf mundur secepat mungkin. “Musharraf harus mundur. Ini adalah tuntutan utama negara saat ini. Dan saya lihat rakyat menginginkan ini terjadi secepat mungkin tanpa ada penundaan lagi,†katanya kepada wartawan.
Di sisi lain, juru bicara perdana menteri Muhammad Mian Soomro menyatakan terlalu dini untuk memutuskan menunda pemilu tanggal 8 Januari mendatang, karena situasi yang tidak kondusif di Pakistan pascainsiden pembunuhan Bhutto. Soomro menghimbau partai-partai politik untuk berdialog dengan pemerintah sehingga keputusan yang diambil adalah hasil konsensus bersama.
Sharif sendiri awalnya berencana berziarah ke makam Benazir Bhutto, meski hubungan antara Sharif dan Bhutto di masa lalu sebagai politisi di Pakistan tidak begitu harmonis. Saat Sharif menjadi perdana menteri Pakistan di era 1990-an, Sharif pernah berupaya menjebloskan Bhutto ke penjara dengan tuduhan korupsi.
Namun Sharif ––yang menggambarkan pembunuhan itu sebagai peristiwa paling tragis dalam sejarah Pakistan–– menunda rencananya itu atas permintaan suami Bhutto, Asif Ali Zardani. Saat Sharif berbicara dengan Zardani via telepon Jumat pagi kemarin, suami Bhutto itu menasehati Sharif untuk tidak melakukan perjalanan ke Larkana dengan alasan keamanan, kata sejumlah sumber Pakistan People’s Party (PPP), partai pimpinan Bhutto.
Zardani menuturkan kehadiran Sharif dapat membuat situasi di Larkana semakin buruk dan semakin tegang, terang sumber-sumber itu. Pendukung-pendukung PPP memang telah melancarkan aksi protes berujung aksi kekerasan di Larkana, mereka juga membakari gedung-gedung pemerintahan, mobil dan kereta api. Sejauh ini telah 46 orang tewas di seluruh kawasan Pakistan setelah meletusnya kekerasan pasca terbunuhnya Bhutto.
Salah seorang pemimpin Al-Qaedah Bitullah Mehsud— yang dituduh Pemerintah Pakistan terlibat dalam pembunuhan mantan Perdana Menteri Pakistan, Benazir Bhutto — membantah terlibat apa pun atas kematian Benazir, kata jurubicaranya kepada AFP, Sabtu.
“Ia tidak terlibat dalam serangan itu,†kata jurubicara Maulana Omar lewat telepon, dan menandaskan, “Ini merupakan suatu persekongkolan pemerintah, angkatan darat, dan agen-agen rahasia.â€
Jurubicara itu mengatakan, ia menelepon dari kawasan Waziristan, suatu kawasan suku yang terlibat peperangan antara pasukan pemerintah dan gerilyawan.
“Pembunuhan itu menyalahi tradisi suku dan adat istiadat untuk menyerang seorang wanita,†kata Omar.
Ia mengatakan, transkrip yang disiarkan pemerintah, menuduh pembicaraan telepon antara Mehsud dan seorang anggota garis keras untuk mendiskusikan kematian Benazir setelah kejadian itu, merupakan suatu “drama†dan mengekspresikan kesedihan atas pembunuhannya pada Kamis.
Menurut dia, sesungguhnya sangat mustahil para militan menyusup dalam pengamanan ekstra ketat dalam iring-iringan kampanye, tempat kematian Benazir.
“Benazir tidak semata-mata seorang pemimpin Pakistan, tapi juga seorang pemimpin terkenal di mata internasional. Kami menyampaikan belasungkawa mendalam dan terkejut atas kematiannya,†ujar Omar. (detikcom/AP/Ant/AFP/JL/WH/c)




Januari 3rd, 2008 at 4:12 am
Afganistan dan Pakistan merupakan dua negara yang didalamnya banyak “Teroris Bagudung Saba”.