Ketua DPR Minta Skenario Evakuasi WNI di Pakistan Disiapkan
Banjarmasin (SIB)
Pasca kematian Mantan Perdana Menteri Benazir Bhutto, situasi politik di Pakistan kian memanas. Konflik politik tidak saja berdampak pada warga Pakistan. WNI yang tinggal di negeri Asia Selatan itu dikhawatirkan ikut terkena imbas konflik yang sering kali meminta korban. KBRI di Pakistan harus siaga sewaktu-waktu untuk melakukan evakuasi terhadap WNI. “KBRI tentu diharapkan lakukan langkah-langkah pengamanan terhadap WNI. Bila perlu, disiapkan skenario evakuasi atau pengamanan lainnya,” ujar Ketua DPR Agung Laksono usai mengikuti gerak jalan santai dalam rangka HUT Golkar ke 43 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (29/12).
Menurut Wakil Ketum Golkar ini, upaya evakuasi juga dilakukan terhadap WNI yang sedang menimba ilmu di negeri muslim tersebut. Apalagi menjelang proses pemilu Pakistan yang tinggal 11 hari lagi. Meskipun semakin memanas, menurut Agung, pemerintah Indonesia belum perlu memberlakukan larangan kunjungan ke Pakistan bagi WNI, sebagaimana yang dilakukan Malaysia, Singapura dan Australia.”Adapun untuk travel warning, saya kira kita belum perlu untuk berlakukan,” pungkas Agung.
Politisi Indonesia Tak Usah Takut Seperti Benazir Bhutto
Para politisi Indonesia tak perlu khawatir bernasib seperti mantan PM Pakistan Benazir Bhutto. Sebab peta politik serta tradisi politik antara Asia Selatan dan Indonesia jauh berbeda.
“Tradisi politik kita berbeda, di Asia Selatan kekerasan relatif memang biasa terjadi,” ujar pakar komunikasi Effendy Ghazali dalam perbincangan dengan detikcom. Sabtu (29/12).
Namun demikian, sambung Effendy, tindakan preventif dalam Pemilu, Pilpres maupun Pilkada tetap harus ditingkatkan. Hal ini penting untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan.
“Jika sudah ada ancaman terhadap seseorang, harusnya penjagaan diperketat berkali-kali lipat,” jelasnya.
Effendy juga menilai beberapa teror bom yang terjadi di tanah air lebih dominan dilakukan dengan membawa-bawa nama agama bukan karena kepentingan politik.
“Hal itu dilakukan oleh orang-orang dengan tingkat keyakinan ideologis yang lebih dari biasanya. Kecenderungannya lebih kepada agama,” pungkasnya.
PKS : Tragedi Benazir Tidak Akan Terjadi di Indonesia
Kasus pembunuhan seperti yang menimpa mantan PM Pakistan tidak kan terjadi di Indonesia. Iklim politik di Indonesia dinilai masih lebih kondusif dibandingkan di Pakistan.
“Demokrasi di Indonesia terus tumbuh, dan makin terhindar dari hal-hal semacam itu,” ujar Sekjen DPP PKS, Anis Matta dalam perbincangan dengan detikcom, Sabtu (29/12).
Anis mengakui dalam Pilkada di Tanah Air, beberapa kasus kekerasan terjadi, namun sifatnya masih berupa intimidasi biasa, belum mengarah pada kepada tindakan pembunuhan kepada salah satu kandidat calon.
“Ini membuktikan indikator bahwa kehidupan berbangsa dan berpolitik masih bisa dikatakan bagus,” jelasnya. Senada dengan partai-partai lainnya, PKS juga mengutuk tindakan pembunuhan terhadap putri mantan PM Pakistan Zulfikar Ali Bhutto ini. “Tindakan pembunuhan itu adalah tindakan yang tidak beradab, PKS juga mengutuk tindakan tersebut,” pungkasnya.
PAN Kecam Pembunuhan Benazir Bhutto
Tragedi pembunuhan mantan PM Pakistan Benazir Bhutto dinilai sebagai langkah politik yang sangat tidak manusiawi. Bencana kemanusiaan seperti itu diharapkan tidak akan terjadi dalam dunia politik Indonesia.
“Kami berharap model penyelesaian politik seperti itu tidak pernah terjadi di Indonesia,” ujar ketua umum DPP PAN Soetrisno Bachir di sela-sela acara refleksi akhir tahun PAN di Warung Kopi PAN, Jalan Warung Buncit Raya Jakarta Selatan. Jum’at (28/12).
PAN menilai siapapun dalang pembunuhan ini adalah pembunuh berdarah dingin yang harus dihukum seberat-beratnya.
“Lepas dari partai oposisi atau bukan, ini adalah masalah tragedi kemanusiaan. PAN mengecam keras tindakan ini,” pungkasnya.
Kecam Pembunuhan Benazir, 10 Orang Aksi Bungkam di HI
Demonstrasi tak selamanya harus melibatkan banyak orang. Di Bundaran HI, 10 orang melakukan aksi bungkam mengecam pembunuhan mantan PM Pakistan Benazir Bhutto.
Para demonstran dari Front Mahasiswa Nasional itu berdiri di tepian Bundaran HI, Jakarta, Sabtu (29/12).
Para mahasiswa ini melakukan aksi diam. Mulut mereka ditutup plester yang ditempelkan menyilang.
Namun seperti aksi demo lainnya, para mahasiswa ini juga menenteng sejumlah spanduk. Spanduk-spanduk itu antara lain bertuliskan ‘Democracy for Pakistan’, serta ‘Musharaf US Puppet Fasis Rezim’. (detikcom/f)




Komentar