Filipina Tahan 100 Perwira Militer dan 40 Jurnalis, 12 Tentara Pemberontak Diburu
Manila (SIB)
Upaya kudeta yang dilancarkan tentara pemberontak dengan menguasai sebuah hotel di distrik keuangan Makati Filipina kemarin telah berhasil digagalkan pemerintah. Namun langkah Presiden Gloria Macapagal Arroyo menumpas pemberontakan tidak berhenti di situ saja. Lebih dari 100 perwira militer dan pendukung mereka ditahan dan lainnya sedang dikejar.
Kepala polisi nasional Avelino Razon mengatakan, 101 orang ditahan di hotel Makati dan sedang mengejar sedikitnya 12 tentara pengkhianat yang melarikan diri. Razon lebih lanjut menjelaskan tentara menemukan sejumlah dokumen yang menunjukkan rencana kudeta telah direncanakan dengan baik.
Menteri Dalam Negeri Ronaldo Puno mengatakan, jam malam berlaku mulai dari tengah malam sampai fajar di Manila dan provinsi-provinsi sekitarnya. Pengenaan jam itu tak akan diperpanjang meskipun operasi-operasi masih terus dilakukan untuk melacak mereka yang terlibat dalam aksi pembangkangan Kamis itu. “Tujuan jam malam telah dilakukan, yakni melarang gerakan-gerakan pengacau, dan mencegah mereka berkegiatan di malam hari,†katanya.
Puno mengakui bahwa 33 tentara pemberontak telah diidentifikasi. Mereka menguasai Hotel Peninsula di distrik keuangan Manila, Kota Makati, Kamis, dan hanya tinggal 21 orang pada saat aksi mereka berakhir selama tujuh jam.
“Menurut dokumen-dokumen yang disita dari para pengacau itu, ada empat regu berbeda yang bergerak disekitar hotel,†katanya. “Setidaknya 12 orang masih hilang dan mereka sedang dikejar,†tambahnya. Puno mengatakan, tentara-tentara yang hilang itu termasuk Kapten Angkatan Darat Nicanor Faeldon dan dua orang pembantu keamanan Senator Antonio Trillanes. Trillanes sendiri ditahan setelah makar tersebut bersama dengan Jenderal angkatan darat Danilo Lim, mantan wakil presiden Teofisto Guingona dan seorang uskup Katolik.
Faeldon dan Tillanes keduanya menghadapi pengadilan karena memimpin pemberontakan yang gagal terhadap Arroyo pada 2003, sedangkan Lim juga dihadapkan pada pengadilan untuk tuduhan terlibat dalam kudeta yang gagal sebelum dilakukan pada tahun 2006.
Puno mengatakan, tentara-tentara pemberontak direncanakan tetap berada di dalam hotel sampai Jum’at, dalam rangka mendorong berbagai kelompok yang berencana melakukan aksi-aksi demontrasi anti pemerintah, untuk mendukung aksi-aksi mereka dan berkumpul di Peninsula Manila.
“Mereka pikir mereka akan melakukannya semalam karena pemerintah tidak akan menyentuh mereka, karena di sana akan ada banyak penduduk sipil, termasuk media, yang akan merintangi tindakan pemerintah,†katanya. “Itu adalah bagian dari rencana mereka,†tambahnya.
Tetapi polisi menyerang hotel itu setelah para tentara pemberontak mengabaikan batas waktu yang diberikan untuk menyerah. Polisi menembakkan gas airmata dan tembakan-tembakan peringatan sebelum menyelundupkan seorang personil bersenjata ke dalam lobi hotel tersebut.
Para tentara dan para pendukung sipil mereka sepakat untuk meninggalkan hotel dan mereka ditahan. Lebih dari 40 wartawan dan awak media juga ditahan oleh polisi sebagai bagian dari penyelidikan. Tindakan itu memicu kecaman-kecaman oleh kelompok-kelompok kebebasan pers dan organisasi-organisasi pers.
Tangkapi Wartawan
Selain menangkapi perwira militer, polisi juga menahan jurnalis. Polisi Filipina menahan 40-an jurnalis setelah tentara pemberontak menyerah. Mereka merupakan jurnalis yang bersama tentara mbalelo itu di dalam Hotel Peninsula. Beberapa jurnalis diseret masuk ke dalam bus polisi dengan tangan terborgol. Lembaga penyiaran setempat ABS-CBN mengatakan, tujuh stafnya telah ditahan dan beberapa diantaranya dirampas peralatan siarnya,
Menteri Dalam Negeri Ronaldo Puno menjamin para jurnalis hanya akan dimintai keterangan untuk memastikan mereka benar-benar pekerja pers. “Mereka akan diperlakukan dengan baik dan terhormat namun mereka menolak perintah polisi untuk meninggalkan hotel itu,” kata Puno seperti dilansir AFP, Kamis (29/11).
Sementara itu, Persatuan Wartawan Filipina meminta pemerintah untuk segera mengakhiri penahanan terhadap juru warta itu. Persatuan wartawan itu juga mengecam tindakan kekerasan yang dipakai polisi. Penyekapan jurnalis tersebut sebagai buntut dari pemberontakan yang dilakukan oleh sekelompok tentara yang dipimpin oleh Senator Antonio Trillanes. Dengan demikian, pemerintahan Arroyo telah berulang kali digoyang pemberontakan oleh tentaranya sendiri.
Selama ini telah terjadi tujuh percobaan kudeta di Filipina sejak 1986 dan angkatan bersenjata tetap memegang peranan penting dalam kehidupan politik di negara itu. Para pemberontak tersebut menduduki hotel itu, Kamis (29/11), setelah keluar dari pengadilan Manila yang menyidangkan percobaan kudeta pada 2003.
Sesalkan Upaya Kudeta
Upaya kudeta yang dilancarkan tentara pemberontak ternyata tidak mendapat sambutan hangat, media-media Filipina dalam editorialnya edisi hari Jumat (30/11) menyesalkan pemberontakan itu. Emil Jurado, kolumnis di harian Manila Standard Today, menggambarkan kudeta hari Selasa di distrik keuangan Makati sebagai “Tragedi Komedi Menyedihkan.â€
Satu kelompok tentara pemberontak yang disidangkan atas upaya kudeta tahun 2003 menguasai sebuah hotel mewah dan meminta militer menarik dukungannya kepada Arroyo. Namun upaya kudeta itu berhasil digagalkan pasukan pemerintah.
“Komedi, ya, karena kita semua tahu tidak akan terjadi apapun. Tragedi dalam artian di saat ekonomi menguat, kita memiliki karakter yang tidak bisa menunggu Presiden Gloria Macapagal Arroyo mundur tahun 2010. Menyedihkan, insiden itu terjadi saat ini,†tulis Jurado seperti dilansir AFP, Jumat (30/11).
Sementara harian Philippine Star, dalam headline editorialnya menuliskan: “Kedua pria itu bukanlah orang baru dalam upayanya menjatuhkan pemerintahan. Lim pernah memimpin pengambil alihan sebuah hotel di Makati pada Desember 1998 dalam usaha kudetanya menjatuhkan pemerintahan Corazon Aquino,†tulis harian itu. Harian Philippine Daily Inquirer menyatakan pemberontakan telah gagal. “Ide bahwa seorang komandan bisa menguasai pemerintahan dengan menguasai sebuah gedung di Makati adalah lelucon dan menyedihkan.â€
Terlibat Sejak 1989
Pemimpin aksi upaya kudeta Brigjen Danilo Lim punya sejarah panjang terlibat dalam aksi kudeta militer atas pemerintah. Lim bahkan sudah terlibat dalam aksi kudeta sejak tahun 1989 saat mereka menduduki kawasan Makati selama sembilan hari.
Lim, saat itu masih kolonel, ikut dalam aksi kudeta kelompok perwira muda yang menyebutkan dirinya Serikat Perwira Muda (YOU) menduduki Makati. Aksi ini bagian dari kudeta atas mantan Presiden Corazon Aquino.
Saat pemerintahan mantan Presiden Fidel Ramos, para perwira militer pembelot ini diampuni. Namun Lim, tamatan akademi militer West Point AS tahun 1978 dan pernah memimpin operasi militer atas kelompok bersenjata Moro dan komunis, tak pernah tenang. Tahun 2003, dia kembali terlibat aksi. Kini saat sidang pengadilan atas aksi tahun 2003 itu, Lim kembali berupaya menciptakan “People Power†III tetapi gagal. (Ant/DPA/ Detikcom/AP/WH/h)




Komentar