Mantan Atlet Senam Nasional Khairudin Pasaribu “Curhat” ke Kantor Perwakilan SIB Jakarta, Pemerintah Hanya Memperhatikan Cabang Olahraga Populer
Jakarta (SIB)
Mantan atlet cabang olahraga senam Khairuddin Pasaribu (35 tahun) mengharapkan agar pemerintah hendaknya jangan hanya memperhatikan cabang olahraga tertentu yang populer, karena seluruh atlet yang tersebar di berbagai cabang olahraga memiliki keinginan yang sama untuk membela panji-panji negara dan bangsa Indonesia baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Saya melihat saat ini perhatian masih berbeda-beda. Pemerintah masih cenderung memperhatikan cabang olahraga yang populer di mata masyarakat dan kebetulan sekarang ini memiliki prestasi yang lebih tinggi dibanding dengan cabang olahraga lain,†kata Khairuddin Pasaribu, ketika berkunjung ke kantor Perwakilan “SIB†Jakarta, Jl Balikpapan, Rabu (31/10) Jakarta Pusat.
Sebagai putra daerah asal Sibolga, Tapteng, Khairuddin berkunjung ke kantor Perwakilan ‘SIB†menemui Pemred Harian “SIB†GM Immanuel Panggabean BBA, karena sebagai pers nasional yang terbit di daerah, harian “SIB†dinilai punya peran penting menyuarakan aspirasi masyarakat di berbagai aspek kehidupan. Seperti masalah olahraga, budaya, sosial ekonomi, hukum, politik dan lain sebagainya.
Peraih medali emas perorangan palang tunggal cabang olahraga senam pada PON XIII tahun 1996 ini mengemukakan, cabang olahraga populer seperti bulutangkis, sepakbola, bola voli, tampaknya mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Perhatian yang sama juga datang dari perusahaan-perusahaan yang bersedia sebagai sponsor. Tidak demikian halnya dengan cabang olahraga sepak takraw dan cabang olahraga lainnya, nyaris terabaikan.
“Saya berharap, ke depan, semua atlet cabang olahraga harus mendapat perhatian yang sama,†ujar Khairuddin sembari menyebutkan, melorotnya prestasi beberapa cabang olahraga dewasa ini berkaitan dengan pembinaan yang kurang berkesinambungan.
Atlet senam Indonesia pada Sea Games tahun 1997 di Jakarta ini berpendapat bahwa prestasi seorang atlet tidak datang begitu saja, melainkan harus melalui latihan dan pembinaan yang kontiniu. “Melalui pembinaan yang berkesinambunganlah, terjadi regenerasi, dalam arti muncul atlet muda yang berprestasi menggantikan atlet tua yang sudah dimakan usia,†katanya.
Anggota tim Indonesia pada kejuaraan dunia senam di Australia tahun 1994 ini berpendapat, prestasi atlet senam Indonesia dewasa ini memang cenderung menurun. Setelah masa jaya Jonatan Sianturi dan Eva Butar-butar berakhir hingga kini belum muncul lagi atlet yang kemampuan dan prestasi yang setara. “Gap atlet tua dengan yang muda masih terlalu jauh,†tukasnya sambil menyebutkan salah satu penyebabnya adalah pembinaan yang masih kurang memadai.
Pada Sea Games tahun 1997 di Jakarta, Indonesia tampil sebagai juara II beregu semua alat. Selain Khairuddin, anggota regu lainnya adalah Jonatan Sianturi, Jeffry Lulu Manurung, Zaikim, dan Ashari.
Ayah dari Ovi dan Silva hasil perkawinannya dengan Yulianti pada tahun 1996 ini menyatakan bahwa kehidupan mayoritas mantan atlet/olahragawan Indonesia dewasa ini masih perlu mendapat perhatian. Terbatasnya lapangan pekerjaan memang salah satu kendala yang perlu segera diatasi oleh pemerintah. Terkait dengan itulah, selepas mengikuti event Sea Games tahun 1997 di Jakarta, dianya masih mencari lowongan kerja yang memadai dan sesuai dengan kemampuannya. Sambil mencari yang lebih layak, kini dia kerja sambilan sebagai tukang ojek.
“Saya sendiri, mau mengerjakan apapun, demi menghidupi isteri dan kedua anak saya,†ujarnya seraya memberi tahu dirinya agar tertolong karena sudah memiliki rumah sendiri yang dibelinya dari bonus yang diberikan Pemda DKI Jakarta, usai PON XIII tahun 1996 lalu. Ketika itu, Khairuddin mendapat bonus sebesar Rp 70 juta dari Rp 55 juta di antaranya digunakan untuk membeli rumah. (J1/l)




Komentar