Mengatasi Anak Yang Sulit Belajar Karena Kecanduan Nonton TV
Oleh S Puri SPd
Ternyata siaran televisi (TV) tidak hanya mengganggu jam belajar anak-anak Indonesia seperti yang dikeluhkan oleh para orangtua akhir-akhir ini, tetapi juga jadi masalah bagi para orangtua di AS. Karena anak-anak yang kecanduan TV jadi mogok belajar dan kalau di sekolah mengantuk. Selain itu, perhatian mereka terhadap pelajaran sekolah juga kurang. Apalagi jika pelajarannya memerlukan konsentrasi. Jelas, hal ini kalau dibiarkan akan merusak masa depan anak. Oleh karena itu para pakar pendidik anak dari University of Illinois, Urbana, AS, mencarikan jalan keluar bagi para orangtua untuk mengatasinya. Adakah Anda juga memerlukannya?
SEJAK USIA 2 TAHUN
Menurut hasil penelitian Lilian Katz, PhD dari Universitas Illinois, anak mulai tertarik nonton TV sejak usia 2 tahun. Dalam usia ini ia mulai bisa menikmati karena sistem daya tangkapnya mulai aktif dan otaknya dapat mengolah - untuk penikmatan. Oleh karena itu, bila anak Anda dibiarkan sejak usia tersebut telah kecanduan nonton TV, maka akan sulit dipisahkannya dari kotak ajaib tersebut. Padahal orangtua yang kedua-duanya (ayah dan ibunya) bekerja, biasanya pengasuh si anak akan menghibur momongannya dengan TV. Dengan demikian si pengasuh ikut menikmati pula. Yang ‘mencelakakan’ adalah, acara yang ditonton si anak sembarangan, tergantung selera pengasuhnya. Sungguh ‘mengerikan’ bukan? Apa jadinya bila anak sejak dini telah kecanduan nonton opera sabun atau novella? Padahal si anak paling-paling baru pantas nonton film semacam Sesame Street yang tentunya bagi si pengasuh dianggap tidak menarik. Maka kasus ini perlu dipikirkan para orangtua, agar anaknya tidak kecanduan TV dengan program yang merusak perkembangan anak.
PERLU PENGARAHAN
Apapun alasan kesibukan orangtua, kini memang sudah tiba saatnya untuk memperhatikan perkembangan anak, agar tidak terpengaruh dampak negatif terhadap adanya siaran TV yang boleh dikatakan 24 jam. Tanpa sensor lagi. Semua bebas dipindah-pindah chanel-nya. Untuk mengatasi hal tersebut, Katz memberi saran agar orangtua menciptakan pola menonton TV bagi anak-anaknya. Pola tersebut bermaksud untuk mengarahkan anaknya agar hidupnya tidak melulu nonton TV, mengingat hasil riset, anak merupakan penonton TV terbanyak di dunia.
Pola yang dimaksud adalah, orangtua wajib mengatur jam-jam kapan anaknya boleh nonton TV. Jam-jam tersebut hendaknya yang programnya menyiarkan acara untuk anak. Itu pun dengan catatan, prioritaskan jam belajar, jam membaca buku ilmu pengetahuan, jam bermain dan jam istirahat. Mengapa demikian banyak ‘jam-jam’ yang perlu diatur bagi anak? Karena anak selain memerlukan belajar juga perlu jam membaca imu pengetahuan untuk memperluas wawasannya.
Lalu, perlu juga jam bermain, untuk belajar sosialisasi (bermasyarakat dan mengembangkan gerak motoriknya) dan jam istirahat - untuk menjaga kelangsungan kesehatannya. Semuanya itu dapat tercipta dengan baik bila diarahkan oleh orangtuanya.
Caranya, susun jadwal kegiatan anak dengan seksama sesuaikan dengan usia dan perkembangan fisik serta intelektualnya. Bila jadwal telah tersusun, serahkan kepada si anak dan pengasuhnya sambil diberi pengarahan, pengertian untuk mereka pahami. Bila hal ini diberikan sejak dini, anak akan menerimanya dengan senang dan wajar.
PENGARUH DARI LUAR
Nampaknya memang mudah bila jadwal telah tersusun tinggal dilaksanakan bukan? Tetapi kenyataannya pasti mengalami kendala, yaitu adanya pengaruh dari ‘luar’. Entah itu godaan dari teman-temannya atau orang terdekatnya atau karena gencarnya cerita seru seputar acara TV yang digandrungi anak-anak. Untuk mengatasi hal ini, peran orangtua adalah mengontrol, memantau dan memberikan pengertian dan kelonggaran aturan, agar anak merasa tidak tertekan. Bila Anda seorang Ibu Rumahtangga, tentunya dapat menemani anak-anak nonton TV dan kalau ternyata acaranya tidak pas untuk anak, langsung bisa melarangnya. Tetapi bagaimana bila dengan Anda yang seharian bekerja di luar rumah? Di sinilah diperlukan kebijakan yang sifatnya tidak menghukum anak. Antara lain, pesawat TV jangan terbuka. Taruhlah di kamar, dengan alasan untuk keamanan agar tidak dicuri orang, baru dikeluarkan pada jam yang telah ditetapkan. Atau carikan alternatif hiburan lain yang membuat anak dapat melupakan TV. Tetapi ingat, permainan yang dapat memacu kreativitas anak. Bila anak Anda telah cukup umur, barangkali dapat diberikan pelajaran tambahan atau sekadar menyalurkan hobinya. Dapat dipastikan anak dapat menerimanya bila diajak dialog dengan kondisi seperti teman. Bukan selaku orangtua yang telah dimitoskan suka menggurui dan mengatur anak (anak akan sebel). Coba ini dapat Anda praktekkan. Pada permulaannya barangkali sulit, tetapi selanjutnya akan berjalan lancar.
BUKAN SEGALA-GALANYA
Ciptakan pengertian sejak dini bahwa TV adalah bukan segala-galanya, selain sebagai sarana informasi dan hiburan ala kadarnya. Maka dari itu, atmosfir keluarga pun jangan sampai memitoskan bahwa TV segala-galanya. Nyalakan TV seperlunya dan sebagai pendamping Anda dapat memutar lagu-lagu atau film kartun yang lucu-lucu melalui laser-disc. Atau, hidupkan lagi budaya mendengarkan radio. Dan, pada hari libur usahakan agar anak-anak diajak keluar rumah. Sehingga tidak terangsang menyalakan TV melulu.
Ciptakan jalinan kasih sayang yang mesra di antara keluarga, sehingga cara dialog/temu keluarga menjadi acara yang menarik dibandingkan dengan acara TV. Dalam kesempatan ini masing-masing dapat tukar cerita pengalamannya, sambil menikmati hidangan yang dimasak ibunya. Atau Anda suka masak bersama? Lakukan di dapur sambil bercanda dan sebelumnya Anda belanja bersama anak-anak dan suami. Dalam pertemuan yang mesra ini Anda dapat memberi pengertian kepada anak-anak, bahwa TV bukan segala-galanya, yang penting adalah pelajaran sekolah sebagai bekal masa depan. Silakan coba. (c)




Komentar