usxii
Print This Post Print This Post

Myanmar Berdarah, Pemimpin Junta Ungsikan Keluarga ke Laos

Posted in Berita Utama by Redaksi on September 30th, 2007

Yangon (SIB)
Kerusuhan antara demonstran yang dipimpin biksu dengan tentara Myanmar terus terjadi. Pemimpin junta Jenderal Senior Than Shwe dikabarkan mengungsikan keluarganya ke Laos dengan pesawat carter.
Pesawat yang dimiliki konglomerat Myanmar Tayza mendarat di Vientianet pada Kamis 27 September 2007 waktu setempat. Diperkirakan pesawat itu ditumpangi oleh 8 orang, yang salah satunya adalah istri Jenderal Than Shwe.
Rumor ini tersebar luas di Myanmar. Kabarnya, Jenderal Than Shwe mengungsikan keluarganya setelah ada perpecahan dalam kubu junta yang sudah berkuasa sejak tahun 1962. Demikian seperti diberitakan Merinews online yang dilansir nationmultimedia.com, Sabtu (29/9).
Masih Mencekam
Suasana di kota Yangon juga masih mencekam. Pada Jumat 28 September 2007, warga masih terus melakukan unjuk rasa. Bunyi dar der dor masih kerap terdengar. Bahkan beberapa saksi mata mengatakan pada BBC bahwa masih ada korban nyawa.
Warga dunia masih belum mengetahui jumlah korban kekerasan junta Myanmar. Saat ini yang terdengar hanya 9 orang saja. Namun jumlah itu masih simpang siur, mengingat akses informasi dari negeri tiran tersebut sudah tertutup. Media tak berdaya, informasi dari para netter juga sudah tertutup, mengingat pemerintah Myanmar telah memutus jaringan internet.
Jepang Cari Penembak Jurnalisnya ke Myanmar
Kematian kamerawan Jepang Kenji Nagai (50) yang tewas didor tentara Myanmar menjadi gambaran dramatis kesadisan pemerintahan junta. Jepang akan melacak si penembak.
Tidak hanya itu, Jepang juga akan mendesak Myanmar menghukum orang-orang yang bertanggung jawab atas penembakan jurnalis video untuk APF News yang berbasis di Tokyo itu.
Wakil Menlu Jepang Mitoji Yabunaka dijadwalkan mengunjungi Myanmar Minggu 30 September 2007 untuk menyampaikan desakan tersebut. Demikian dilaporkan Yomiuri Shimbun seperti dilansir AFP, Sabtu (29/9).
Sementara President of APF News Toru Yamaji bertolak ke Yangon, Myanmar dari Tokyo untuk mengambil jasad Nagai dan barang-barangnya, termasuk kamera video yang digunakan dan digenggam Nagai hingga hembusan nafas terakhirnya.
Di Tokyo, 80-an demonstran mendatangi Kedubes Myanmar. Mereka membawa foto tokoh pejuang demokrasi Aung San Suu Kyi dan tubuh Nagai yang terkapar di jalanan di Yangon saat ditembak tentara Myanmar.
Nagai menjadi warga asing pertama yang menjadi korban tewas akibat kekerasan junta Myanmar. Nagai yang malang melintang dengan liputan daerah konflik ini tewas bersama 12 orang lainnya, termasuk para biksu.
Sebelum meninggalkan dunia fana, Nagai masih berusaha merekam aksi tentara yang sedang menembak dirinya. Timah panas kemudian menembus dada kanan Nagai. Sementara si tentara melenggang meninggalkan Nagai untuk membubarkan aksi demonstran.
Jepang Pertimbangkan Tarik Dubesnya Dari Myanmar
Pemerintah Jepang dengan keras memprotes kematian wartawan video mereka yang ditembak tentara junta militer dalam pembubaran paksa unjuk rasa anti pemerintah. Merespon protes keras tersebut, pemerintah Myanmar melalui menteri luar negeri mereka, Nyan Win telah menyatakan permintaan maaf mereka. Nagai merupakan orang asing pertama yang tewas dalam aksi protes anti pemerintah junta militer Myanmar. Demikian seperti dilaporkan kantor berita Kyodo, Sabtu (29/9).
Wartawan video senior, Kenji Nagai (50) tewas tertembak tentara junta militer Myanmar, Kamis kemarin di Yangon. Tayangan berita TV di seluruh dunia termasuk di Indonesia menunjukkan bagaimana tubuh Nagai tergeletak sambil menggenggam kameranya di kerumunan massa dan pihak militer yang berusaha mengejar para demonstran.
Menlu Myanmar, Nyan Win mengungkapkan rasa penyesalan dan permohonan maaf pemerintah mereka dengan mengatakan, “Aksi demontrasi mulai mereda, dan kami juga akan belajar bagaimana menangani aksi serupa dengan cara-cara yang lebih manusiawi,” demikian ungkap Nyan.
Pemerintah Jepang melalui menlunya, Masahiko Komura menyampaikan protes keras mereka ketika bertemu dengan menlu Myanmar, di markas PBB, New York. Tokyo juga mengatakan akan mengirim seorang pejabat seniornya ke negara itu untuk menekan junta militer agar menanggapi kecemasan internasional.
Dalam pertemuan dengan Nyan Win di PBB, Komura menyebut kematian Nagai “sangat disayangkan.” Tokyo sejauh ini menolak segera dijatuhkannya sanksi kepada Myanmar, namun Komura mengatakan negaranya mingkin akan mengambil sikap keras.
Kantor berita Kyodo melaporkan Jepang mempertimbangkan memanggil dubesnya dari Myanmar dan memotong atau membekukan bantuan teknis ke negara berkembang tersebut. Namun kemenlu mengatakan saat ini keputusan belum dibuat.
Para pejabat negara Sakura itu mengatakan Nagai yang bekerja untuk kantor berita APF Jepang yakin tewas tertembak di bagian dada. Keyakinan itu berdasarkan video yang ditayangkan stasiun televisi Jaringan Televisi Fuji yang memperlihatkan seorang tentara Myanmar menembaknya dari depan.
TUNTUT PELAKUNYA DIHUKUM
Jepang akan menuntut dijatuhinya hukuman terhadap siapa yang bertanggungjawab atas penembakan yang menewaskan seorang wartawan Jepang dalam aksi penumpasan berdarah terhadap para pengunjukrasa anti pemerintah di Myanmar, kata suratkabar-suratkabar di sini Sabtu.
Kenji Nagai, 50 tahun, seorang wartawan-video APF News yang bermarkas di Tokyo yang berpengalaman bertahun-tahun meliput daerah-daerah gawat di dunia, adalah orang asing pertama yang tewas pada saat pemerintah Myanmar mengirim tentaranya untuk memadamkan gelombang aksi protes di Yangon Kamis.
Wakil Menteri Luar Negeri Jepang, Mitoji Yabunaka, dijadwalkan akan berkunjung ke Myanmar hari Minggu (30/9) untuk menyampaikan tuntutan itu kepada rezim militer, kata suratkabar Yomiuri Shimbun, mengutip sumber-sumber pemerintah. Jepang, salah satu negara donor terbesar bagi Myanmar, akan mempertimbangkan larangan investasi Jepang di Myanmar setelah pihaknya menerima banyak reaksi untuk tuntutan itu, kata suratkabar bersirkulasi besar itu.
Jepang pada tahun 2003 menangguhkan pinjaman berbunga rendah kepada proyek-proyek besar di negara tersebut, seperti di bidang infrastruktur, guna memprotes terus berlanjutnya penahanan terhadap pemimpin pro demokrasi Aung San Suu Kyi. Namun Jepang mengatakan, pihaknya akan terus melanjutkan pemberian bantuan untuk kasus-kasus darurat dan keperluan kemanusiaan.
Amerika Serikat dan negara-negara Eropa juga telah memutuskan untuk memperketat sanksi-sanksi terhadap Myanmar, dan menyerukan kepada dunia untuk meningkatkan desakan kepada Myanmar untuk menghentikan tindakan keras berdarah terhadap para pelaku aksi protes. Tetapi Jepang, yang seringkali saling berebut pengaruh dengan China, sekutu utama Myanmar, sejauh ini lebih cenderung pada pendekatan yang dilakukan oleh banyak negara di kawasan tersebut yakni berusaha membujuk junta.
Distribusi Makanan Mulai Seret, Anak-anak Kelaparan
Badan Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) di bawah PBB cemas. Kerusuhan Myanmar membuat distribusi makanan terhambat. Anak-anak bisa-bisa kelaparan.
“Kami minta kepada otoritas setempat agar diberikan akses ke semua bagian di negeri itu,” kata Direktur Eksekutif WFP Josette Sheeran di Markas PBB, New York, AS, seperti dilaporkan AFP, Sabtu (29/9).
Aksi kekerasan junta militer Myanmar terhadap demonstran yang dimpimpin biksu telah menewaskan 13 orang dan ratusan orang dipenjara.
Diungkapkan WFP, Mynamar telah menghentikan semua distribusi komoditas makanan dari Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar.
Kerusuhan Myanmar juga telah memperlambat upaya distribusi makanan di Sittwe, 560 km barat Yangon.
“Kami harus melindungi orang-orang yang rentan diserang. Mereka yang lapar kebanyakan anak-anak kecil, begitu juga penderita HIV/AIDS, dan TBC,” kata Sheeran.
Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) di bawah PBB menempatkan Myanmar sebagai negara kedua terburuk soal sistem kesehatan setelah Sierra Leone.
Myanmar tercatat sebagai negara dengan penderita TBC cukup tinggi, yakni 97 ribu kasus per tahun. Begitu juga dengan malaria yang bisa menyebabkan kematian. (Ant/AFP/Rtr/AP/LBN/WH/detikcom/o)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.