Air Mata & Gugur Bunga Sambut Jasad 2 TKI Korban Polisi Arab
Tangerang (SIB)
Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya 2 jenazah TKI korban gamparan polisi di Arab Saudi tiba. Hujan tangisan dan lagu gugur bunga pun menyeruak.
Kedua jenazah Siti Tarwiyah dan Susmiyati yang menghembuskan nafas terakhir sekitar 2 bulan lalu itu tiba di ruang tunggu TKI Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pukul 16.20 WIB, Sabtu (29/9).
Kedua jenazah yang diletakkan di dalam peti berwarna coklat, saat didatangkan dengan mobil pembawa barang, langsung disambut penuh haru keluarga.
Ahmad, suami Tarwiyah sempat menangis di samping peti jenazah istrinya.
Peti jenazah kemudian diletakkan ke dalam pesawat terpisah, masing-masing sesuai tujuan keberangkatan. Rombongan keluarga turut mengiringi jenazah sampai tiba di lokasi.
Pesawat yang membawa Tarwiyah akan berangkat dengan Pesawat Garuda GA 226 pukul 17.10 WIB ke Solo, Jawa Tengah. Diteruskan ke rumahnya di Ngawi, Jawa Timur dengan ambulans.
Sedangkan Susmiyati diterbangkan dengan pesawat Garuda GA 244 pukul 18.25 WIB ke Semarang, Jawa Tengah. Dilanjutkan ke rumahnya di Pati, Jawa Tengah dengan ambulans.
Keluarga Siti Tarwiyah dan Susmiyati Terima Rp 65 Juta
Jenazah Siti Tarwiyah dan Susmiyati sudah diterima keluarga masing-masing setelah penantian sekitar 2 bulan. Bahkan keluarga keduanya menerima uang asuransi dan hibah sejumlah masing-masing Rp 65 juta plus sisa gaji.
Uang tersebut diserahkan Direktur Perlindungan WNI Deplu Teguh Wardoyo kepada keluarga korban. Suami Siti Tarwiyah, Hamid, menerima uang tersebut dengan air mata berlinang. Sementara keluarga Susmiyati diwakili oleh adik korban, Supomo.
Menurut Direktur Migrant Care Anies Hidayah, rincian uang Rp 65 juta tersebut sebagai berikut: santunan dari asuransi Rp 40 juta, biaya pemakaman Rp 5 juta, uang duka dari Menakertrans Rp 5 juta, dari PJTKI Rp 10 juta, dan dari BNP2TKI Rp 5 juta. Sisa uang gaji Siti Tarwiyah sebesar 3.320 real diserahkan kepada Hamid. Namun sisa gaji Susmiyati tidak diketahui oleh Anies.
Suami TKI Korban Gamparan Polisi Arab Tolak Beri Maaf
Hamid, suami Tarwiyah, salah satu TKI yang digampar 7 polisi Arab Saudi hingga tewas, tidak akan memaafkan pelaku. Meskipun pelaku sudah berkali-kali mengontak Hamid untuk meminta maaf.
“Nggak akan dimaafkan karena tidak manusiawi,” cetus Hamid di ruang tunggu TKI, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (29/9).
Awalnya Hamid mengaku bisa bernapas lega. Namun dirinya kini mengaku khawatir dengan masa depan anaknya.
“Perasaan saya benar-benar sakit, menyesal, terutama kehilangan masa depan anak saya,” kata Hamid.
Hamid mengaku selama 5 bulan berhubungan via telepon, Tarwiyah tidak pernah mengeluhkan pekerjaannya. Sehinggga tidak ada perasaan yang mencurigakan.
“Dia kan kerja sudah 9 bulan. 5 Bulan kita berhubungan, 4 bulan terakhir sudah nggak, tapi tidak ada keluhan apa-apa, cuma mau kasih tahu kalau mau kasih gaji,” kata pria yang sudah menikah dengan Tarmiyah selama 11 tahun itu.
Sejak diketahui Tarwiyah meninggal, Hamid mengaku selalu melakukan tahlilan di rumahnya.
Hamid mengetahui istrinya meninggal saat dihubungi pihak KBRI Arab Saudi Pada 4 Agustus 2007. Kemudian pada 8 Agustus 2007, Hamid yang tinggal di Ngawi, Jawa Timur itu, tancap gas ke Jakarta dan bermukim di kantor Migrant Care. (detikcom/d)




Komentar