Agar Tidak Rewel, Bayi Jangan Sering Digendong
Jakarta (SIB)
Oek…oek…oek… Tangis bayi tidak selalu terdengar indah. Bayi yang rewel dan menangis terkadang membuat kesal orang di sekitarnya.
Agar tidak terus-terusan menangis, orangtua maupun pengasuh anak pun memilih untuk sering menggendong si bayi. Ternyata, terlalu sering menggendong bayi berdampak kurang baik.
“Kalau sering digendong, tidak ada keleluasaan bergerak. Akibatnya motorik kasar tidak berkembang. Kalau rewel diajak bermain saja,” kata dokter spesialis anak dr Attila Dewanti SpA.
Hal itu disampaikan dia dalam diskusi bertajuk “Mengembangkan kecerdasan anak sejak dini” di Brawijaya Women and Children Hospital, Jl Taman Brawijaya, Jakarta, Sabtu (22/9).
Attila kemudian menyampaikan tahapan perkembangan motorik kasar pada anak sejak bayi. Umur 3-4 bulan, bayi mulai tengkurap. Umur 5-6 bulan duduk. Pada umur 7-8 bulan merangkak. Lalu pada 9-11 bulan berdiri. Umur 12-13 bulan bayi berjalan. Pada umur 18 bulan mulai bisa jongkok dan berdiri. Sedangkan di umur 36 bulan, bayi sudah bisa melakukan gerakan spesifik dan kompleks.
“Semua tahapan itu harus dilewati. Kalau tidak melewati, orangtua harus mengarahkan. Bila terlewat, nanti saat dewasa ada kemampuan motorik kasar yang tidak bisa dilakukan juga,” jelas perempuan berkacamata itu.
Ditambahkan dia, sebaiknya bayi juga tidak menggunakan baby walker. Alat ini membuat bayi pasif, berjalan jinjit, dan rentan jatuh.
Pencapaian tahapan perkembangan motorik halus juga ada tahapan-tahapannya. Misalnya saja, telapak tangan mulai terbuka biasa dilakukan bayi umur 3 bulan. Pada umur 10 bulan sudah mulai meniru gerakan dan suara. Karena rentan meniru, orangtua jangan menggunakan bahasa bayi saat berkomunikasi dengan anak. Hal itu bisa mengakibatkan anak bicara cadel meski sudah besar.
Seiring bertambahnya umur, anak mulai bisa menggunakan tangan untuk memegang benda besar dan kecil. Mereka juga mulai bisa membalik lembaran buku.
“Tapi sebaiknya, orangtua juga memberi kesempatan agar semua tahap perkembangan anak berjalan normal sesuai usia. Jangan diburu-buru,” sambung Attila.
Ciluk…ba! Bikin Anak Jadi Gaul
Permainan ini memang sederhana dan kerap dimainkan ibu dengan bayinya. Meski sederhana, namun manfaatnya cukup luar biasa. Ciluukk…baa!!
Semakin banyak orang yang bermain ciluk…ba dengan seorang bayi, dampaknya semakin bagus. Sebab, bayi akan mengenal banyak wajah, bukan hanya ayah dan ibunya. Sehingga kelak akan menjadi anak yang mudah bergaul.
“Ini melatih kemampuan bersosialisasi. Kalau sudah cukup besar, diajak bermain petak umpet. Itu permainan sederhana yang bisa membuat anak melihat lebih banyak orang,” kata dokter spesialis anak dr Attila Dewanti SpA.
Hal itu disampaikan dia dalam diskusi bertajuk “Mengembangkan kecerdasan anak sejak dini” di Brawijaya Women and Children Hospital, Jl Taman Brawijaya, Jakarta, Sabtu (22/9).
Ketika bayi berumur 6 bulan, lanjut Attila, kurangi kebiasaan memakai popok bayi. “Biarkan dia merasa risih karena basah dan merasa jijik. Ini melatih dia untuk tidak pipis di tempat,” sambung perempuan berkacamata ini.
Ada baiknya juga anak-anak balita diajak menonton televisi beberapa menit. Kegiatan ini bagus untuk melatih kontak mata dengan gambar-gambar yang bergerak cepat.
“Tapi bila saat menonton televisi si anak dipanggil-panggil tidak menyahut, stop televisinya dan pergi ke dokter. Sebab ada kemungkinan dia autis,” lanjut Attila.
Pada anak autis, dia akan asyik dengan dunianya sendiri. Sehingga, meski dipanggil namanya, tidak akan merespons. “Karena itu, sejak bayi, harus diperhatikan juga kontak matanya. Dia merespons suara tidak,” tutup Attila. (Detikcom/l)




Komentar