Tokoh Masyarakat, Kades dan Pengurus Parpol Minta Camat Habinsaran Tobasa Diganti
Tobasa (SIB)
Lima tokoh masyarakat, enam kepala desa (kades) dan pengurus partai politik (parpol) serta beberapa masyarakat Kecamatan Habinsaran, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), mendesak Bupati segera mengganti Camat Habinsaran karena dinilai bersikap arogan dan otoriter serta diduga terlibat penggelapan beras miskin (Raskin).
Tuntutan masyarakat itu disampaikan kepada Bupati Tobasa melalui Asisten III Sedih Simanjuntak serta beberapa pejabat Pemkab Tobasa di ruang Balai Data Kantor Bupati Tobasa, Selasa (31/7).
Dalam tuntuntannya yang dibacakan di hadapan Asisten III Pemkab Tobasa, perwakilan masyarakat Kecamatan Habinsaran mengungkapkan sikap kepemimpinan Camat Habinsaran, Bernhard Siahaan ST, terkesan arogan dan otoriter. Salah satunya terbukti pada Rabu lalu Camat Habinsaran memukul dan menendang secara berulangkali salah seorang stafnya mengakibatkan luka bocor pada kepala.
Selain itu Camat Habinsaran tidak mendistribusikan beras miskin (Raskin) terhitung sejak Juni hingga September tahun anggaran (TA) 2006. Demikian pula dengan Raskin TA 2007 periode Januari sampai April tersendat-sendat karena oknum camat Habinsaran menunggak sebesar Rp 49 juta.
Honor pemungut pajak PBB TA 2006 tidak diberikan kepada Kades selaku pemungut pajak PBB, TKPD Kades TA 2006 juga tidak jelas serta TKPD Kades TA 2007 sudah direalisasikan namun tidak sampai kepada yang berhak. Disamping itu dana PKK Desa Lumban Balik dan Desa Panamparan Rp 99 juta diduga dikorupsi oknum camat, dan hal ini telah dilaporkan ke Polres Tobasa.
Dalam suratnya, masyarakat Habinsaran juga melaporkan bahwa dana pemekaran atas delapan desa Rp 150 juta dikorupsi Camat Habinsaran (bukti kwitansi terlampir). Ironisnya, kebaktian mingguan di kantor kecamatan tidak lagi dilaksanakan karena pendeta kecewa atas pernyataan Camat Habinsaran yang mengatakan bahwa mereka (pendeta-red) hanya mengharapkan persembahan dari peserta ibadah.
Salah seorang staf kantor Kecamatan Habinsaran, Mula Pardede yang hadir saat penyampaian aspirasi itu juga mengutarakan bahwa dirinya dianiaya Camat Habinsaran menyebabkan kepala belakang sebelah kiri mengalami luka bocor sehingga terpaksa harus jahit sebanyak lima jahitan. Menurut Mula, penganiayaan itu dilatarbelakangi karena dirinya meminjam sepeda motor dinas dari isteri Camat untuk keperluan mengambil berkas yang tertinggal di rumahnya. “Tanpa tanya, Pak Camat memukuli saya,†ujarnya seraya menambahkan bahwa dirinya tidak melaporkan penganiayaan itu ke polisi dengan pertimbangan sesama PNS namun telah dilaporkan kepada Asisten I Pemkab Tobasa.
Dalam suratnya, masyarakat Habinsaran juga melampirkan surat pernyataan keberatan para PNS kantor Kecamatan Habinsaran yang ditujukan kepada Bupati Tobasa. Dalam surat pernyataan yang ditandatangani 7 PNS dan 1 pegawai honorer itu menyebutkan bahwa Plt Camat Habinsaran Bernard Siahaan sering menghina seluruh staf kantor. (T19/o)




Komentar