Menyusul Dibunuhnya Sandera Kedua, Keluarga Sandera Minta Bantuan AS dan Seluruh Dunia
Seoul (SIB)
Dibunuhnya kembali sandera Korsel oleh militan Taliban membuat keluarga para sandera Korsel memohon bantuan dari AS menyelesaikan krisis yang telah memasuki hari ke-13 dengan damai. Permohonan itu disampaikan saat mereka berkabung menyusul dibunuhnya sandera kedua dan Taliban mengeluarkan tenggat waktu baru. “Kami memohon bantuan dari rakyat Amerika dan seluruh dunia untuk menyelesaikan krisis ini secepat mungkin,†kata Kim Jung-ja, ibu dari sandera Lee Sun-young seperti dilaporkan Associated Press, Selasa (31/7).
Mayat sandera Korsel kedua yang dibunuh dan diidentifikasi bernama Shim Sung-min (29) di daerah yang sama ditemukannya mayat sang pastor, sandera pertama yang dibunuh, tepatnya di pinggir sebuah jalan di desa Arizo Kelley, Distrik Andar, sekira 6 mil barat kota Ghazni, kata Abdul Rahim Deciwal, kepada pemerintahan kawasan itu.
“Khususnya, keluarga ingin AS mengesampinkan kepentingan-kepentingan politik dan memberikan dukungan aktif lebih untuk menyelamatkan nyawa 21 orang tak bersalah,†katanya saat membaca pernyataan sebelum keluarga sandera berkabung di Gereja Komunitas Saemmul di Bundang. “Ini bukan masalah agama, ideologi atau nasionalitas. Ini masalah di mana hidup anggota,†tambahnya.
Permohonan juga datang dari kantor presiden Korsel. Dalam pernyataan yang dilansir kantor berita Associated Press, Selasa (31/7), Korsel meminta komunitas internasional hidup manusia lebih dipertimbangkan. “Pemerintah tahu benar bagaimana komunitas internasional menghadapi kasus seperti ini. Namun juga yakin akan sangat berguna menggunakan fleksibilitas menyelamatkan nyawa sandera dan memohon komunitas untuk melakukannya,†kata pernyataan itu Seoul juga menyatakan tidak memiliki kekuasaan untuk memenuhi tuntutan Taliban. “Pemerintah Korsel mengecam keras dan mendesak segera penghentian pembunuhan orang tak bersalah hanya karena tuntutan mereka tidak dipenuhi.â€
Sementara utusan Khusus Korea Selatan (Korsel) Kim Jooseok mengatakan negaranya akan menyambut baik bila intervensi Pakistan untuk pembebasan dengan selamat atas warganya yang disandera oleh Taliban di Afghanistan, media massa setempat, Selasa.
“Saat ini kami mencari siapa yang dapat membantu kami dan mempengaruhi Taliban untuk membebaskan para warga Korsel sejak kami tak bisa memenuhi permintaan mereka ketika mereka menginginkan pembebasan kawan-kawan mereka, yang ditahan AS dan Afghanistan,†katanya dalam wawancara dengan suratkabar Nation.
Taliban menyandera 23 warga Korea ––18 diantaranya wanita–– yang tergabung dalam tim bantuan Kristen pada 19 Juli lalu dari sebuah bus di Ghazni. Taliban sebelumnya telah menembak mati seorang pastor yang merupakan pimpinan tim tersebut pada Rabu lalu (25/7). Jasad pastor Bae Hyung-Kyu sendiri sudah tiba di Rumah Sakit Kota Anyang, Korsel. Pihak keluarga Bae memutuskan untuk menunda pemakaman sampai ada kejelasan nasib para sandera lainnya.
SERUKAN PEMBEBASAN WARGA KOREA
Di Manila, para menteri luar negeri Asia Tenggara memberikan penghormatan kepada dua sandera Korsel yang dibunuh dengan mengheningkan cipta yang dipimpin Menlu Filipina Alberto Romulo sebelum dimulainya pertemuan dengan rekan kerja dari Cina, Jepang dan Korsel.
“Ini tragedi mengerikan dan kami semua mengungkapkan rasa simpati kami mendalam dan belangsungkawa kepada anggota keluarga yang ditinggalkan,†kata Menlu Thailand Nitya Pibulsonggram. Para menteri luar negeri dan delegasi Konferensi Asia Timur (East Asia Summit) telah mengeluarkan sebuah pernyataan bersama yang berisi seruan pembebasan warga Korea Selatan yang disandera di Afghanistan.
Hal itu dikemukakan oleh Menteri Luar Negeri Filipina Alberto G Romulo seusai pertemuan dengan negara-negara anggota EAS —ASEAN, Australia, Jepang, China, India, Selandia Baru, Korea Selatan— di Balai Sidang Internasional Filipina, Manila, Selasa.
Negara-negara EAS juga menyatakan keprihatinannya atas pembunuhan dua orang sandera Korsel oleh gerilyawan Taliban di Afghanistan. “Ini adalah pernyataan yang menyatakan solidaritas dengan para sandera, warga Korea Selatan dan semua orang yang berharap keselamatan dan kebaikan para sandera,†katanya.
Romulo menggarisbawahi prinsip “one caring and sharing community†ASEAN harus selalu dikembangkan untuk menjamin kesejahteraan warga negara dari negara lain, terutama yang menjadi sahabat dekat ASEAN. “Tidak ada pembenaran atas upaya pengambilan nyawa warga yang tidak bersalah, bahkan di negara yang sedang dilanda konflik sekalipun atau baru bangkit dari konflik,†katanya.
Wakil Menteri Luar Negeri Korea Selatan Park In-Sook yang memimpin delegasi EAS Korea Selatan menggantikan Menteri Luar Negeri Korea Selatan Song Min-Soon yang datang kemudian, menyatakan apresiasi yang mendalam kepada pernyataan EAS.
KECAM PENYANDERAAN WARGA KORSEL
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Organisasi Konferensi Islam (OKI) Prof. Ekmelddin Ihsanoglu mengecam keras tindakan gerilyawan Taliban yang menyandera sekelompok warga sipil Korea Selatan (Korsel) di Afghanistan, dan mendesak agar mereka segera dibebaskan.
“Penculikan dan penyanderaan itu merupakan kejahatan serius melawan kemanusian, dan hal itu bertentangan dengan prinsip dan nilai-nilai Islam. Oleh karena itu tidak bisa dibenarkan,†kata Sekjen Ihsanoglu dalam siaran persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Selasa.
Pernyataan keceman tersebut bertalian dengan aksi penyanderaan oleh gerilyawan Taliban terhadap 23 pekerja kemanusiaan asal Korsel di Afghanistan, salah satu korban dilaporkan telah ditembak mati. Sekjen OKI menyerukan kepada para pelaku penyanderaan untuk mengakhiri tindakan yang bertentangan dengan Islam tersebut.
Prof Ihsanoglu juga menyampaikan rasa simpati kepada pemerintah Afghanistan menyangkut krisis yang tidak menguntungkan ini, dan menyerukan rakyat Afghanistan yang cinta damai untuk mengutuk penculikan dan penyanderaan sebagai suatu tindakan yang tidak manusiawi dan benar-benar telah menodai kesucian Islam. (Ant/DPA/AP/WH/x)




Komentar