Menlu Rice: Iran “Ancaman Utama†di Timur Tengah
Sharm el-Sheikh. (SIB)
Menlu Amerika Serikat Condoleezza Rice memperingatkan soal ancaman yang ditimbulkan Iran terhadap kepentingan Amerika di Timur Tengah pada awal kunjungan ke sekutu AS di kawasan. Menlu Rice dan Menhan Robert Gates akan bertemu Presiden Mesir Hosni Mubarak dan para menteri Arab di kawasan wisata pesisir Laut Merah, Sharm el-Sheikh. Demikian dilaporkan BBC, Selasa (31/7).
Pertemuan ini berlangsung sementara Washington mengukuhkan rencana menjuala persenjataan dalam jumlah besar ke kawasan. Kunjungan ini bertujuan untuk mempersatukan para sekutu Amerika untuk menghadapi Iran, Suriah dan Hizbullah.
Rice menepis tudingan Iran bahwa politik Amerika menyebarkan ketakutan di Timur Tengah. Jurunicara kementerian luar negeri Iran Mohammad Ali Hosseini menuduh Amerika mencemari hunungan baik di antara negara-negara di kawasan. Program nuklir Iran dan pengaruh negara itu di kalangan kelompok-kelompok militan muslim Syiah sudah lama menjadi sumber kekhawatiran Amerika.
Saat singgah di Shannon, Irlandia, Rice mengatakan kepada wartawan: “Tidak ada keraguan, saya rasa, Iran merupakan satu tantangan saling penting oleh satu negara terhadap … kepentingan-kepentingan AS di Timur Tengah dan kondisi Timur Tengah yang kita ingin saksikan.”
Selama kunjungan lobi ke kawasan, Rice dan Gates diperkirakan akan meminta Raja Arab Saudi, Abullah agar berbuat lebih banyak untuk mendukung pemerintah Irak pimpinan Perdana Menteri Nouri Maliki. Dubes AS untuk PBB, Zalmay Khalilzad menuduh Arab Saudi menggerogoti upaya untuk menstabilkan Irak.
Ini merupakan kunjungan bersama kedua menteri Amerika itu ke kawasan. Mereka akan berkunjung ke Mesir dan Arab Saudi secara bersama, dan ke negara-negara lain secara terpisah. Gates mengatakan kepada wartawan bahwa para pejabat Amerika ingin “menegaskan kembali kepada semua negara bahwa politik yang ditempuh (Presiden AS George W Bush) di Irak selama ini dan akan terus menjadikan stabilitas dan keamanan kawasan sebagai prioritas yang sangat tinggi”.
Beri Bantuan Militer
Sebelumnya Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan paket bantuan militer untuk Israel dan Mesir. AS juga mengumumkan kesepakatan perdagangan senjata baru dengan Israel dan negara-negara Teluk lainnya. Israel akan menerima 30 miliar dolar AS sedangkan Mesir akan mendapatkan bantuan senilai 13 miliar dolar. Sementara bantuan untuk Arab Saudi dan beberapa negara di kawasan tengah dirundingkan. Bantuan ini diberikan selama jangka waktu 10 tahun untuk kedua negara.
Bagi Israel, bantuan itu berarti kenaikan 40% lebih dibandingkan periode 10 tahun sebelumnya karena seperti kata para pejabat AS, Israel membutuhkan pergantian peralatan yang dibutuhkan dalam perang melawan Hisbullah musim panas tahun lalu. Bantuan ini juga dimaksudkan untuk mempertahankan keunggulan militer Israel. Sementara bantuan untuk Mesir masih mempertahankan tingkat yang sekarang.
Rice mengumumkannya di Washington Senin sebelum melakukan perjalanan bersama Menteri Pertahanan Robert Gates ke Timur Tengah guna mencari dukungan bagi stabilisasi Irak. Rice mengatakan bantuan itu diharapkan bisa mengatasi apa yang ia sebut sebagai pengaruh buruk Al Qaeda dan Hisbullah.
Para pejabat AS mengatakan penjualan itu merupakan bagian dari strategi untuk menghadapi kekuatan Iran yang menguat di kawasan dan untuk memperlihatkan dukungan AS yang berkesinambungan terhadap sekutu Sunni. Teheran menuduh Washington berupaya untuk menciptakan ketakutan dan perpecahan di kawasan.
Kesepakatan senjata itu menimbulkan masalah yang serius di Kongres AS yang berpendapat Saudi tidak banyak membantu dalam perang melawan Irak. Kongres juga menilai Saudi tidak bisa diandalkan dalam melawan terorisme sehingga tidak layak mendapat persenjataan yang canggih. (BBC/Voanews/x)




Komentar