Mahasiswi Diperkosa Ramai-ramai, Adegan Direkam Pakai HP
Malang (SIB)
Mahasiswi PTN ternama di Kota Malang, diperkosa ramai-ramai selama 3 jam. Para pelaku juga merekam adegan perkosaan itu dengan HP, selama beberapa menit.
Dew (21) pada Jumat malam itu sibuk berdugem ria di sebuah tempat hiburan di Jl. Panglima Sudirman, Malang. Di tempat ini dia dicekoki minuman bersoda yang dicampur obat tidur oleh dua temannya Guh (23) dan Yut (22).
Kedua lelaki ini membawa mahasiswi berparas cantik ini ke sebuah hotel kelas melati, sesampainya di hotel mereka memesan kamar dan memapah Dew ke kamar hotel. Di kamar motel itulah mereka melakukan perbuatan asusila itu serta merekamnya.
Belum puas dengan perbuatan nistanya, mereka kemudian menelpon tiga temannya untuk bergabung.
4 pelaku ditangkap
Dew telah melaporkan peristiwa itu ke Polresta Malang, kini petugas telah melakukan identifikasi serta memintai keterangan sejumlah saksi.
“Kami telah menangkap empat tersangka, juga diburu seorang tersangka yang merekam dengan HP. Kasus ini menjadi perhatian,†kata Kapolresta Malang AKBP, Atang Heradi kepada wartawan di ruang kerjanya, Jl Jaksa Agung Suprapto, Senin (30/7).
21 bocah sd diculik
Sementara itu, komplotan penculik bocah yang mempreteli perhiasan korbannya gentayangan di wilayah Kedung Halang, Bogor. Dalam kurun waktu sebulan tercatat sudah 12 bocah SD diculik, lalu perhiasan diambil. Salah satu bocah perempuan rambutnya sempat dibotaki.
Korban rata-rata dibebaskan beberapa jam setelah disekap dan perhiasan yang dipakai dibawa kabur. Aksi pelaku tergolong berani karena lokasi tempat bocah-bocah ini diculik tak jauh dari markas Brimob Kedung Halang, Bogor.
Kasus terakhir menimpa Adinda Putri Salsabila (6) bocah kelas 1 SDN Kedunghalang 3 yang diiculik tiga pria tak dikenal saat pulang sekolah. Bocah perempuan ini dibawa berputar-putar pakai mobil, perhiasan dipreteli, rambut dibotaki setelah itu ditinggal di jalan.
Ny Ema Sumarnah (35) ibu korban menuturkan kejadian yang menimpa anak semata wayangnya pada Senin (23/7). “Anak saya tidak pernah keluyuran usai pulang sekolah. Paling ke rumah neneknya. Kami benar-benar panik, mengingat sampai sore belum juga pulang, kata warga Jalan Pelita, Kelurahan Kedung Halang, Kecamatan Bogor Utara ini.
Penculikan menimpa anaknya yang duduk di kelas 1 SDN Kedung Halang 3 ini, saat perjalanan pulang menuju rumah. Menjelang sore anaknya baru pulang. Alangkah kagetnya sang ibu melihat kondisi anaknya ketika pulang karena rambutnya botak.
Sambil menangis Adinda bercerita. “Di jalan mereka gunting rambut saya, karena anting saya mau diambil,†ungkap Adinda.
Beruntung dalam peristiwa ini, Adinda tidak mengalami pelecehan seksual ataupun kekerasan fisik lainnya. “Saya tidak di apa-apain Pak. Hanya rambut saya yang dicukur,†tandasnya.
Menurut Ny Ema, sudah 12 bocah menjadi korban penculikan komplotan penjahat. Para orangtua korban melaporkan kasus ini ke Polsek Bogor Utara.
terlambat lapor
Kasus penculikan yang menimpa belasan anak di Kedung Halang, sudah dilaporkan ke pihak berwajib dan sekolah mereka. Sifa (7), siswa kelas 2 SDN Kedung Halang (3) juga mengalami hal yang sama.
Penuturan Sifa, dirinya diculik dua ibu yang merayunya untuk pergi bersama membeli sepeda. Dibonceng sepeda motor, Sifa malah dibawa ke sebuah gubuk terbuat dari kardus, lalu mulutnya dilakban.
“Tempatnya sepi. Mulut saya dilakban di atas ranjang bambu, gelang saya diambil,†ucapnya.
Peristiwa yang menimpa anak kedua dari dua bersaudara ini, membuat Ellen, sang ibu masih diliputi kecemasan. “Saya jadi takut sendiri, sekarang saya antar-jemput. Saya takut anak saya jadi korban mutilasi,†papar Ellen diamini ibu lainnya saat berada di sekolah anak mereka.
Ayu Diah Pratiwi (7) bocah yang menimba ilmu di Pesantren Al-Amin juga mengalami nasib serupa. Ia dibebaskan dua wanita yang menculiknya di sebuah kolam ikan yang berjarak 50 meter dari rumahnya, setelah gelang tangan seberat 2 gram diambil pelaku.
Menurut Sunarti (52) wali kelas di SDN Kedung Halang (3) para siswa yang pulang sendiri sangat mempermudah pelaku melakukan aksinya. Pihak sekolah sangat menyayangkan, sikap orangtua murid korban penculikan yang tidak segera melapor ke pihak berwajib. “Kejadian itu terjadi di luar jam sekolah. Jika mereka cepat lapor, maka tidak mungkin korban akan sebanyak ini,†tandasnya.
Kepala Satuan II Pelopor Brimob Kedung Halang, Kombes Pol Syaiful BD saat dikonfirmasi menegaskan, akan memperketat pengawasan keamanan di lingkungan sekitar.
“Kami koordinasi dengan pihak Polresta Bogor untuk menyelidiki identitas para pelaku,†tegas Syaiful. (Pk/r)




Komentar