stmiksmxii
Print This Post Print This Post

Ketua MPR Minta Zaenal Minta Maaf Saja ke SBY & Keluarga *Zaenal Serahkan “Amplop Rahasia” ke DPR, DPD, MPR, MK

Posted in Berita Utama by Redaksi on Juli 31st, 2007

Jakarta (SIB)
Zaenal Ma’arif, wakil ketua DPR yang direcall, diminta tidak memperpanjang tudingan pernikahan pertama Presiden SBY. Zaenal lebih baik menyelesaikan masalahnya secara bermartabat dan minta maaf kepada SBY dan keluarganya.
Imbauan itu disampaikan Ketua MPR Hidayat Nurwahid di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Senin (30/7).
Sebab, kata Hidayat, MPR tidak punya kewenangan menindaklanjuti laporannya.
“Kami akan menerima, hanya menerima saja. Apakah kami akan menindaklanjuti atau tidak itu harus disesuaikan dengan tugas MPR. MPR tidak berperan untuk investigasi, karena itu bukan tugas MPR,” jelas Hidayat.
Lebih baik, imbuh Hidayat, sebaiknya masalah ini diselesaikan dengan cara elegan dan bermartabat. Karena rakyat sudah jenuh dengan isu-isu sejenis ini. Dia berharap seluruh pemimpin negara bersikap sebagai negarawan bukan mencetus masalah.
“Dulu SBY dengan Amien Rais bisa diselesaikan. Saya kira kalau Pak Zaenal mau, SBY bisa memaafkan,” kata Hidayat.
Sebaiknya, kata dia, Zaenal mencabut tudingan itu dan meminta maaf kepada Presiden dan keluarganya. Jika itu dilakukan, Hidayat yakin SBY bisa memaafkan dan mencabut laporannya ke polisi.
“Dulu sudah ada, kalau Pak Hartono tidak ribut, kenapa Pak Zaenal yang meributkan. Karena Pak Zaenal sudah bilang tidak menuduh, cabut saja pernyataan itu secara terbuka, minta maaf pada Presiden dan keluarganya,” ujar dia.
zaenal ma’arif ke gedung dpr
Terlambat satu jam dari jadwal semula, akhirnya mantan Wakil Ketua DPR Zaenal Ma’arif, didampingi kuasa hukumnya, tiba di Gedung DPR tepat pukul 11.00 WIB, Senin (30/7) siang.
Dia menyerahkan berkas data yang dimiliki tentang apa yang disebutnya perkawinan Susilo Bambang Yudhoyono sebelum masuk taruna Akabri kepada DPR, MPR, dan setelah itu menuju Kantor Mahkamah Konstitusi untuk menyerahkan data yang sama.
Sebelum tiba di gedung DPR, Zaenal Ma’arif menegaskan dirinya diperlakukan tidak adil oleh Presiden Yudhoyono. Pasalnya, Presiden hanya melaporkan dirinya ke Polda, Minggu (29/7), sedangkan mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) R Hartono yang juga mengungkap soal yang sama tidak dilaporkan ke polisi.
“Saya diperlakukan tidak adil. Ibarat ketimun melawan durian, pastilah ketimun itu hancur,” ujar Zaenal mengumpamakan dirinya dengan Presiden.
Namun, dia masih menyatakan siap menghadapi gugatan dari Presiden tersebut dan beberapa praktisi hukum akan mendampingi.
Zaenal Tenteng Amplop Putih Bertuliskan ‘RAHASIA’
Satu amplop putih berukuran folio ditenteng Zaenal Ma’arif. Amplop itu tampak mencolok dengan tulisan ‘RAHASIA’ bertinta merah di bagian tengah.
“Isinya apa pak? Buktinya berupa apa? Ada fotonya yah? Atau berupa dokumen?” berondong wartawan.
Namun Zaenal terdiam seribu bahasa. Tak satu pun pertanyaan itu dijawab.
Dia hanya menunjukkan amplop itu kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (30/7).
Wakil Ketua DPR yang bakal segera lengser ini akan melakukan ‘roadshow’ ke DPR, MPR, DPD, dan MK untuk membeberkan data pernikahan Presiden SBY sebelum masuk Akmil.
“Ya sudah, nanti ya, biar saya serahkan dulu ini. Nanti kita jelaskan di press room,” kata Zaenal yang dibalut safari coklat.
Saat ditanya tanggapannya terkait permintaan islah dengan SBY dan diminta bersikap negarawan, Zaenal menjawab enteng. “Dipelajari dululah dengan baik,” cetusnya.
Kalau banyak yang tidak mau menindaklanjuti laporan Bapak? “Ya silakan,” pungkasnya.
Zaenal Serahkan kepada Wakil Ketua DPD
Wakil Ketua DPR yang segera lengser, Zaenal Ma’arif, akhirnya diterima Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Laode Ida. Zaenal secara resmi memberikan amplop bertuliskan ‘rahasia’ berisi data tentang isu pernikahan Presiden SBY sebelum masuk Akademi Militer (Akmil) kepada DPD.
“Bismillahirahmaanirrahiem, ini saya serahkan agar masalahnya menjadi jelas. Semoga tidak ada lagi bencana di negeri ini,” kata Zaenal usai diterima Laode di lantai 8 Nusantara III Gedung DPR, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Senin (30/7).
Menurut Zaenal, pemberian dokumen mengenai bukti-bukti isu pernikahan SBY ini, maka kasus ini menjadi clear. “Dengan pemberian dokumen ini kepada lembaga negara, semoga tidak ada lagi fitnah dan desas-desus,” kata dia.
Zaenal Di-back Up TPM
Saat menyampaikan dokumen data-data ini, Zaenal didampingi sejumlah pengacara dari Tim Pembela Muslim (TPM). Antara lain Mahendradatta, Achmad Michdan, dan Fachmi Bahmid.
Seusai menyerahkan dokumen kepada Laode, Zaenal benar-benar tidak mau membocorkan isi dokumen yang dibawanya itu. Begitu juga dengan TPM. Namun, Zaenal berharap dokumen ini bisa ditindaklanjuti oleh lembaga negara.
Wakil Ketua DPD Tak Berani Buka Dokumen Zaenal
Meski sudah menerima dokumen mengenai isu pernikahan SBY sebelum masuk Akademi Militer (Akmil) dari Zaenal Ma’arif, namun Wakil Ketua DPD Laode Ida belum berani membukanya. Dia akan membuka dokumen ‘rahasia’ itu setelah berkonsultasi dengan pimpinan DPD lainnya.
“Karena ini rahasia, kami akan membicarakan dulu dengan teman-teman yang lain,” kata Laode.
Menurut Laode, saat ini Ketua DPD Ginandjar Kartasasmita masih berada di luar negeri. Sedangkan Wakil Ketua DPD Irman Gusman sedang tidak berada di ruang kerjanya.
Menurut Laode Ida, data-data yang diberikan Zaenal ini akan dijadikan bahan untuk mengklarifikasi atas pertanyaan-pertanyaan konstituen di daerah mengenai kebenaran isu ini. “Sehingga kami jelas dalam menjelaskan posisi konflik antara Pak Zaenal dan Pak SBY, karena DPD yang juga anggota MPR bisa menjelaskannya bagi konstituen di daerah,” ujar dia.
Laode Ida juga berharap perseteruan antara SBY dengan Zaenal tidak berlanjut dengan desas-desus yang tidak karuan. Menurut dia, kasus ini terjadi karena buruknya komunikasi antara pejabat negara, khususnya antara Zaenal dengan SBY.
Pimpinan DPR Absen, Data Diserahkan Zaenal ke Sekjen
Setelah DPD, giliran DPR yang dihampiri Wakil Ketua DPR yang segera lengser Zaenal Ma’arif. Namun tak satu pun pimpinan DPR yang didapatinya.
Akhirnya Zaenal menyerahkan apa yang disebutnya data pernikahan Presiden SBY sebelum masuk Akademi Militer (Akmil) ke Sekjen DPR Faisal Djamal.
“Seharusnya hari ini saya yang piket. Tapi mungkin karena kesibukan teman-teman DPR yang lain, jadi nggak sempat menggantikan saya. Jadi kami serahkan pada sekjen saja. Kami berharap agar disampaikan pada pimpinan DPR,” kata Zaenal.
Menanggapi hal itu, Sekjen DPR Faisal Djamal berjanji akan menyampaikan data tersebut pada pimpinan DPR. “Iya, ini saya terima, nanti akan saya sampaikan pada pimpinan,” kata Faisal.
Entah mengapa Senin kemarin tak ada satu pun pimpinan DPR di gedung rakyat. Informasi yang dikumpulkan detikcom menyebutkan, Ketua DPR Agung Laksono dan 2 wakilnya Muhaimin Iskandar dan Soetardjo Soerjogoeritno sedang berada di luar kota.
Zaenal meninggalkan Gedung DPR sekitar pukul 13.00 WIB.
Hidayat Janji Bawa Dokumen Zaenal ke Rapim MPR
Ketua MPR Hidayat Nurwahid akan membaca dokumen isu pernikahan SBY sebelum masuk Akademi Militer (Akmil) secara sembunyi-sembunyi. Ini karena dokumen itu bersifat rahasia. Dia pun akan membawa dokumen ini rapat pimpinan (rapim) MPR yang akan digelar segera.
“Karena ini rahasia, saya harus membacanya secara sembunyi-sembunyi. Kami akan bawa dalam rapat pimpinan dulu, karena surat ditujukan kepada pimpinan MPR, bukan ditujukan kepada saya pribadi. Karena aspirasi, bukan berarti itu kebenaran itu sendiri,” kata Hidayat seusai menerima Zaenal Maarif.
Menurut Hidayat, bila memang kasus yang digelindingkan Zaenal ini sudah masuk dalam ranah hukum, maka biarkanlah proses hukum yang akan menentukannya. “Kalau ini terkait dengan hukum, ya silakan aparat hukum menindaklanjuti. Silakan masalah hukum ditegakkan,” pinta dia.
Lebih lanjut, Hidayat tidak mungkin gegabah melakukan sidang impeachment terkait dokumen itu. “Jika memang bukti-bukti yang diajukan Zaenal kuat, kami tidak akan gegabah. Sidang impeachment itu bukan dari MPR, tapi usulan dari DPR. Tidak bisa semudah itu menggelar sidang impeachment,” jelas Hidayat.
Sambangi MK
Zaenal Cuma Diterima Staf Jimly
Mahkamah Konstitusi (MK) menjadi tempat terakhir yang disambangi Zaenal Ma’arif guna memberikan bukti-bukti isu pernikahan Presiden SBY. Namun Zaenal hanya diterima staf panitera MK.
Zaenal Ma’arif yang didampingi kuasa hukumnya, Ahmad Rozi, tiba di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin pukul 13.15 WIB. Zaenal menumpang Nissan X-Trail warna hitam B 63 LR.
Zaenal yang mengenakan safari warna coklat menenteng amplop putih bertuliskan “rahasia”.
“Saya tahu Pak Jimly tidak mungkin menemui saya, beliaunya sibuk. Saya ke paniteranya saja,” kata Zaenal.
Wakil Ketua DPR yang dilengserkan ini lantas menuju ruang resepsionis.
“Saya harus ke mana nih. Ke panitera ya, lantai berapa nih, lantai berapa,” tanya Zaenal.
“Lantai III Pak,” sahut resepsionis.
Di lantai III, Zaenal diterima staf bagian regitrasi panitera Wiryanto.
“Ini Pak, saya serahkan bukti-bukti mengenai masalah Pak Presiden karena dulu yang saya tahu yang ngetok sah tidaknya adalah Mahkamah Konstitusi,” ujar Zaenal sambil menyerahkan amplop “rahasia” itu.
Setelah 10 menit, Zaenal pun keluar ruangan.
“Saya nggak punya target apa-apa. Saya punya bukti-bukti bahwa Pak Presiden melakukannya. Biar Pak Jimly langsung yang melihat,” cetusnya.
JK: Zaman Dulu, Tinggal Ditangkap Saja Itu Orang
Zaman dahulu orang yang mencemarkan nama baik Presiden bisa ditangkap. Tetapi kini tidak bisa lagi. Bahkan Presiden terpaksa pergi ke polisi.
Komentar singkat JK ini disampaikan saat memberikan sambutan membuka Munaslub KONI di Hotel Sheraton Media, Jalan Gunung Sahari Raya, Jakarta, Senin (30/7).
Entah ditujukan kepada siapa omongan JK itu. JK tidak menyebut persis nama orang yang dimaksudnya itu. Namun, diduga ini berkaitan dengan kasus Zaenal Ma’arif Vs SBY.
“Pejabat sekarang tidak laku lagi harganya, Presiden terpaksa pergi ke polisi. Zaman dahulu tinggal ditangkap itu orang, sekarang tidak bisa lagi,” kata JK.
Menurut dia, langkah itu merupakan perubahan mendasar dalam demokrasi. “Jadi banyak berubah negeri ini dalam hal demokrasi. Jadi orangnya harus lebih demokratis,” cetus JK yang mengenakan kemeja warna biru muda. (detikcom/t)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.