Kantor Wabup Bireuen Dilempar Granat
Banda Aceh (SIB)
Juru bicara Komite Peralihan Aceh (KPA), Ibrahim Syamsuddin KBS menyesalkan peristiwa pelemparan granat ke Kantor Wakil Bupati Bireuen, Minggu (29/7) malam, dan ia menilai ada kelompok tertentu yang ingin merusak perdamaian yang sedang berjalan di Provinsi Aceh.
“ Kami sangat menyesalkan peristiwa itu yang jelas ada gerombolan tertentu yang tidak senang melihat kedamaian di Aceh,†katanya di Banda Aceh, Senin, menanggapi peristiwa teror tersebut.
Kantor Wakil Bupati Bireuen yang menghadap ke jalan Laksamana Malahayati, tidak jauh dari Mapolsek Jeumpa di pusat Kota Bireuen pada pukul 22.45 WIB dilempar granat oleh orang tak dikenal. Namun, tidak ada korban jiwa pada peristiwa itu.
Ledakan yang sempat mengejutkan warga di sekitar mengakibatkan kaca nako pintu masuk ruang kerja Wakil Bupati Bireuen itu pecah terkena serpihan granat.
Ibrahim menilai, saat ini ada kelompok tertentu yang merasa dirugikan adanya perdamaian di Aceh, sehingga mereka berupaya merusak kedamaian dengan membuat kekacauan, untuk menciptakan citra seolah-olah Aceh masih belum kondusif.
“ Ternyata di Aceh masih ada gang-gang mafia yang tugasnya merusak perdamaian yang sudah berjalan dua tahun, dengan membuat keributan dan teror,†ujarnya.
Ia menyatakan, kasus di Kabupaten Bireuen bukan hal baru, karena kasus teror tersebut sudah terjadi sebelum pelaksanaan Pilkada di daerah itu Juni 2007.
Menurut dia , Aceh kini sudah aman dan damai, sehingga diharapkan tidak ada lagi pihak-pihak yang berusaha mengusik kedamaian yang sedang dinikmati oleh masyarakat.
“ Kepada kelompok-kelompok yang ingin merusak kedamaian, mulai sekarang supaya segera menghentikan aktivitasnya, karena akan menimbulkan kemarahan rakyat,†ujar Ibrahim.
KPA mengharapkan, semua rakyat Aceh untuk menjaga suasana yang telah aman , karena tingkat keamanan menjadi acuan dalam perbaikan kondisi perekonomian dan keamanan syarat mutlak untuk menumbuhkan investasi.
“ Jangan memberi ruang kepada pihak tertentu untuk melakukan tindakan yang dapat merusak dari dalam, harus disadari bahwa semua teror dan intimidasi adalah skenario dari kelompok yang tidak senang Aceh damai,? katanya.
“ Teror dan intimidasi akan merusak demokrasi yang sudah kita bangun dengan susah payah pasca MoU Helsinki,†tuturnya.
Disebutkan, semua tindakan intimidasi dan kekerasan akan menjadi alasan bagi pihak luar untuk melabelkan Aceh sebagai daerah rawan atau belum aman.
“ Untuk itu mari sama-sama kita mempertahankan suasana damai dan aman di Aceh,†harap Ibrahim. (Ant/g)




Komentar