stmiksmxii
Print This Post Print This Post

AS: Asean “Terlalu Lunak” Hadapi Myanmar

Posted in Luar Negeri by Redaksi on Juli 31st, 2007

Washington, DC, (SIB)
Kendati tidak secara terang-terangan mengkritik, Pemerintah Amerika Serikat menganggap ASEAN terlalu lunak terhadap Myanmar, salah satu anggota ASEAN yang dinilai dunia internasional —terutama AS dan Uni Eropa— memiliki catatan hak azasi manusia yang buruk.
AS, sementara itu, menaruh harapan bahwa ASEAN menjadi organisasi yang lebih kuat dengan mengubah mekanisme ‘konsensus’ (persetujuan bersama) menjadi ‘voting’ (pemungutan) dalam mengambil keputusan di antara negara-negara anggota ASEAN. “Negara-negara ASEAN tidak terlalu banyak bertanya (kepada Myanmar, red). Menurut saya, ASEAN sangat sabar, sangat ramah,” kata Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Asia-Pasifik, Christopher Hill, di Washington DC, Senin.
“Saya tidak suka mengkritik ASEAN. ASEAN memiliki sistem konsensus yang membuat mereka harus sabar…,” tambah Hill dalam kesempatan wawancara di kantornya membahas isu-isu seputar Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN dan Forum Kawasan ASEAN (ARF) yang berlangsung pekan ini di Manila, Filipina.
AS sendiri akan membawa masalah Myanmar menjadi salah satu isu utama yang ingin dibahas pemerintahan Presiden George W Bush itu dengan mitra-mitranya di ASEAN dalam pertemuan ARF. Untuk ARF, Hill memastikan bahwa Menlu Condoleezza Rice tidak akan hadir karena akan diwakili Wakil Menlu , John D. Negroponte.
Di mata AS, Myanmar selama ini telah menjadi “batu sandungan” bagi ASEAN dalam mencapai kesepakatan bersama di antara 10 negara ASEAN. “Semua orang bisa melihat adanya masalah hak azasi manusia (di Myanmar, red)… ASEAN harus menghadapi masalah ini: bagaimana menggabungkan Burma (ke dalam ASEAN, red) tanpa ASEAN sendiri harus kehilangan strukturnya. Ini adalah tantangan yang besar bagi ASEAN,” kata Hill yang menyebut ‘Myanmar’ sebagai ‘Burma’.
Sejalan dengan itu, Hill menyambut baik upaya sebagian pihak di ASEAN untuk mengupayakan mengubah mekanisme pengambilan keputusan melalui cara ‘voting’. “(Selama ini) pengambilan keputusan melalui konsensus oleh ASEAN mengalami tantangan dari negara yang tidak terlihat mau menjalankan kesepakatan bersama,” kata Hill dengan mengacu kepada kasus Myanmar.
“Seperti diketahui, AS selalu siap mengadakan dialog dengan Burma. Masalah yang kita hadapi adalah bukan kurangnya dialog dengan Burma. Masalahnya adalah Burma tidak mau mendengar apa yang kita sampaikan kepada mereka. Jadi ini bukan masalah salah pengertian. Ini masalah ketidaksetujuan,” papar Hill.
ASEAN DESAK MYANMAR
Sementara itu, ASEAN mendesak Myanmar untuk menunjukkan proses yang nyata yang akan membawa negeri itu menuju pada demokrasi melalui sebuah transisi yang damai, dalam waktu dekat. Desakan ASEAN itu tercantum dalam komunike bersama pertemuan ke-40 tingkat Menlu ASEAN/AMM ke-40 di Balai Sidang Internasional Filipina (PICC), Manila, Selasa (31/7), demikian laporan ANTARA dari Manila, Selasa. “Kami mencatat briefing yang diberikan Myanmar mengenai perkembangan terakhir dalam proses rekonsiliasi nasional dan transisi damai untuk mewujudkan peta jalan menuju demokrasi,” menurut komunike bersama menlu ASEAN.
ASEAN juga menyatakan menyambut baik dimulainya kembali sesi terakhir dari Konvensi Nasional pada 18 Juli 2007 serta mendorong selesainya proses Konvensi Nasional dalam dua bulan ke depan, sebagaimana jaminan Myanmar.
Perhimpunan Bangsa-Bangsa se Asia Tenggara (ASEAN) juga berharap agar selesainya Konvensi Nasional akan membawa ‘si bungsu di ASEAN’ itu menuju tahap selanjutnya dalam peta jalan menuju demokrasi. ASEAN juga kembali menyeru ke Myanmar agar segera membebaskan semua tahanan politik. “ASEAN menyadari fakta bahwa Myanmar mencoba untuk melaksanakan berbagai perubahan yang dihadapinya. ASEAN mengulangi kembali komitmennya untuk bekerja sama secara konstruktif dengan Myanmar sebagai bagian dari ‘kepedulian dan berbagi rasa’ bersama di kawasan.”
Selama beberapa tahun terakhir Myanmar menjadi sorotan dunia internasional karena menjalankan rezim militer dan menahan pemimpin politik Aung San Suu Kyi selama 17 tahun terakhir. (Ant/r)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.