Virus Flu Burung Merebak di 12 Negara Tewaskan 190 Jiwa
Medan (SIB)
Dari 312 kasus virus flu burung yang merebak di 12 negara, telah menewaskan 190 jiwa manusia (sesuai data WHO per 12 Juni 2007), dan masih terus menjadi ancaman. Karena, mutasi virus H5N1 (avian influenza/AI) ini tidak hanya dari unggas ke manusia, tetapi dikhawatirkan terjadi dari manusia ke manusia.
“Sebelum berjangkit antarmanusia, maka mutasi virus flu burung ini perlu diawasi dengan sangat ketat melalui pemantauan secara terus menerus,†ujar pakar media penyakit menular dari AS, Dan Rutz dalam acara yang digelar Badan Infokom Sumut, Dinas Kesehatan Sumut dan Konjen AS di Medan di Bina Graha Pemrovsu, Jumat (29/6).
Di hadapan Konjen AS di Medan Sean B Stein dan Kepala Badan Infokom Sumut Eddy Syofian serta sejumlah pejabat humas dari 25 kabupaten/ kota se-Sumut, Dan Rutz menegaskan upaya antisipasi semakin merebaknya virus (melalui mutasi) perlu dilakukan berbagai pihak. Karena wabah virus flu burung tidak hanya merugikan sektor formal, tetapi juga membuat manusia enggan mengkonsumsi unggas dan turunannya.
Dan Rutz mengaku, antisipasi perkembangan virus flu burung melalui survei, gerakan cuci tangan, memasak dengan benar, memisahkan kandang unggas dari rumah tinggal, dan segera melaporkan jika ada indikasi kasus di sekitar lingkungan tempat tinggal, tidak bisa dianggap enteng.
Disebutkan, daya tahan virus flu burung belum diketahui apakah akan mati dengan sendirinya setelah sekian lama, atau semakin bertambah ganas. “Karenanya, kepada masyarakat perlu digalakkan edukasi tentang flu burung. Jika tidak, masyarakat akan menderita karena ketidakpastian, sehingga menimbulkan sikap apatis jika terjadi gejala (suspect) flu burung di lingkungannya,†ujar Dan Rutz.
Satu hal yang sangat penting tentang antisifasi flu burung, perlu adanya sikap terbuka pejabat terkait kepada pers. “Pejabat jangan lagi menutup diri untuk mengungkapkan segala hal tentang flu burung. Karena, konsekuensi ketertutupan itu akan membuat langkah antisipasi menjadi tidak fokus dilakukan,†tegasnya.
Sementara itu Sean B Stein mengatakan, pemerintah AS sangat peduli memberikan bantuan kepada pemerintah Indonesia, temasuk ke Pemprovsu dalam upaya antisipasi flu burung. Sikap peduli pemerintah AS, diakui Sean B Stein dibuktikan dengan mendorong dana 17 juta dolar AS atau setara Rp153 miliar (kurs Rp9.000 per dolar AS) ke Indonesia untuk antisipasi flu burung dan penyakit menular lainnya.
“Bantuan dana tersebut, tidak hanya berguna buat pemerintah di sisi (Indonesia), tetapi juga berguna untuk pemerintah AS sendiri. Karena, tidak tertutup kemungkinan wabah flu burung bisa merebak ke AS,†ungkapnya.
Sekaitan itu, Eddy Syofian atas nama Pemprovsu menjelaskan, upaya antisifasi flu burung yang dilakukan pemerintah selama ini memang membutuhkan dukungan dari banyak pihak. Sebab, Indonesia tidak akan mampu sendirian menuntaskan wabah flu burung untuk tidak menjadi pandemi, tanpa mendapat dukungan negara lain. (M3/j)




Komentar