stmiksmxii
Print This Post Print This Post

Pasien Kanker Paru Tak Mau Kemo, Kini Ada Kemo Oral

Posted in Berita Utama by Redaksi on Juni 30th, 2007

Jakarta (SIB)
Penderita kanker paru-paru kini bisa memilih terapi sesuai dengan kondisinya. Takut rambut rontok karena kemoterapi atau ngeri dioperasi, kini ada ganti oralnya.
“Namanya erlonitib. Ini merupakan obat oral antikanker. Kalau tidak bisa dikemo karena kondisi tertentu minum obat ini. Kalau paru-paru tidak mungkin diangkat obat ini juga bisa digunakan,” kata spesialis paru-paru dr. Elisna Syahruddin, Ph.D, Sp.P dari Divisi Onkologi Thoraks RS Persahabatan dalam Media Luncheon di Tea Addict, Jl Gunawarman, Jakarta, Kamis (28/6/2007).
Erlonitib ini, lanjut Elisna merupakan salah satu bentuk obat antikanker golongan terbaru dengan mekanisme kerja spesifik atau targeted therapy. Erlonitib adalah molekul yang menghambat human epidermal growth factor receptor 1 (HER1).
HER1 sendiri adalah protein yang ditemukan di permukaan sel secara ekslusif berikatan dengan faktor pertumbuhan. HER1 ini berperan dalam pembentukan dan pertumbuhan beragam jenis kanker.
“Erlonitib ini bekerja pada pasien kanker paru pada stadium berapa saja. Dan ini hanya untuk kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil. Itu salah satu dari dua jenis sel kanker,” ujarnya.
Keberhasilan Erlonitib ini, sudah diuji oleh National Cancer Institute Canada Clinical TRials Group (NCIC CTG) dan OSI Pharmaceuticals melibatkan 86 pusat studi dari 17 negara di dunia.
Penelitian tahun 2001 yang melibatkan 731 pasien ini, memberikan harapan hidup 42% lebih lama atau sekitar 6,7 bulan dibandingkan dengan efek pengobatan plasebo (diberi obat yang tidak menimbulkan efek).
“31% pasien yang menerima Erlonitib tetap hidup setelah satu tahun,” ujar Elisna.
Lebih penting lagi, kualitas hidup pasien bisa ditingkatkan dengan obat dari kimia sintetik ini. “Gejala yang berhubungan dengan kanker paru seperti batuk, sesak napas serta nyeri dapat dikendalikan lebih lama jika mengkonsumsi obat ini,” tutur dokter wanita berambut cepak ini.
Hasil yang akan dicapai akan lebih baik, bila targeted therapy dengan erlonitib ini digabungkan dengan pengobatan kanker lain. Jadi, tidak hanya pengobatan tunggal, namun dikombinasikan dengan kemoterapi, radioterapi atau pembedahan.
Namun sayang, lanjut Elisna, obat yang baru masuk ke tanah air awal tahun 2007 ini, masih sangat mahal. “Rp 24,6 juta untuk 30 tablet. Itu untuk 1 bulan. Belum masuk askes, yang sudah masuk baru kemoterapi,” jelasnya.
Wanita Penderita Kanker Paru Meningkat
Data menunjukkan wanita penderita kanker paru-paru cenderung menunjukkan peningkatan. Kanker yang salah satu sebab terbesarnya asap tembakau ini, meningkat sejak wanita bekerja di luar rumah.
“Ya sejak wanita itu lebih banyak di berkiprah di luar. Kalau dia stres bekerja, larinya ke rokok,” spesialis paru-paru dr. Elisna Syahruddin, Ph.D, Sp.P dari Divisi Onkologi Thoraks RS Persahabatan dalam Media Luncheon di Tea Addict, Jl Gunawarman, Jakarta, Kamis.
Hal tersebut tidak saja terjadi di Indonesia, namun juga terjadi di Amerika Serikat. Dari data US Mortality Public tahun 2006, kanker paru memang pembunuh nomor 1 di negara Paman Sam itu. Namun, grafiknya mulai menunjukkan penurunan.
“Ini artinya angka perokok pada pria cenderung menurun. Pada wanita cenderung meningkat. Jadi, kecenderungan wanita menderita kanker paru-paru juga meingkat,” jelas Elis sambil menunjukkan grafik kanker paru-paru.
Sedangkan untuk data terbaru yang dirilis RS Persahabatan dari tahun 2004-2006, total penderita kanker paru-paru yang berobat adalah 648 orang. Dari jumlah terseut, 159 diantaranya wanita (25%), dan sisanya 489 laki-laki (75%).
Pasien kanker paru-paru yang disebabkan oleh merokok, untuk wanita dari 159 orang, 46% perokok. Sedangkan laki-laki dari 489 orang 86 % yang perokok. (detikcom/x)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.