Aparat Keamanan Kecolongan, Bendera RMS Dikibarkan di Hadapan Presiden
Ambon (SIB)
Puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XIV ternoda ketika sekitar 27 pemuda tiba-tiba masuk ke dalam arena di Lapangan Merdeka, Ambon, Jumat (29/6). Mereka menari Cakalele, mendekati podium utama dan mengeluarkan bendera RMS yang disembunyikan pada salah satu alat musik tifa yang mereka gunakan.
Para undangan yang menyaksikan acara tersebut di antaranya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu negara Ani Yudhoyono sangat terkejut.
Insiden terjadi pada saat Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu menyampaikan laporan tentang penyelenggaraan Harganas XIV sekitar pukul 10.30 WIT.
Ketika Gubernur sedang berpidato, tiba-tiba sekelompok pemuda muncul dan memasuki lapangan. Mereka menggunakan pakaian adat Maluku dan menari Cakalele, padahal kegiatan tersebut sama sekali tidak direncanakan oleh panitia. Setelah insiden itu, aparat keamanan langsung menggiring para pemuda keluar dari lapangan.
Kejadian mendadak tersebut mengagetkan Presiden serta aparat keamanan, baik TNI maupun Polri. Kapolda Maluku Brigjen Pol Guntur Gatot Setiawan dan Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Sudarmaidy langsung turun ke lapangan dan memerintahkan untuk menangkap para pemuda tersebut. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar juga langsung turun tangan untuk memeriksa para penari.
Begitu pula Presiden Yudhoyono, langsung memanggil Menko Polkam Widodo AS, yang duduk tidak jauh dari kursi Presiden. Setelah itu, Presiden dalam pidatonya memerintahkan aparat keamanan untuk melakukan investigasi terhadap aksi tersebut.
“Meskipun acara ini telah dipersiapkan dengan baik, namun ternyata masih ada pihak-pihak yang ingin mengganggu acara ini. Oleh karena itu, saya minta aparat keamanan untuk melakukan investigasi terhadap aksi ini,†katanya.
Presiden juga menyatakan menyesal karena acara yang baik dan dengan tujuan yang mulia harus terganggu dengan aksi seperti itu.
Ia menegaskan pula, kalau ada tujuan lain di balik aksi itu dan karena Indonesia adalah negara hukum, apabila ada kejadian yang menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban nasional (Kamtibmas) harus diselesaikan secara hukum. Presiden mengemukakan sejak beberapa waktu lalu telah meminta kepada panitia pelaksana Harganas XIV untuk mempersiapkan acara ini sebaik mungkin sehingga jangan sampai dikacaukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Pendukung RMS Kompak Kenakan Kolor Bermotif Bendera RMS
Setelah ditangkap aparat keamanan, 30 pendukung RMS diminta melepaskan celananya. Ternyata mereka mengenakan celana kolor yang sama dengan motif bendera RMS. Ada juga yang melarikan diri.
Tidak ada perlawanan dari pendukung RMS saat dibekuk aparat keamanan itu juga.
Namun ada juga yang melarikan diri masuk ke gang-gang di Jalan Pattimura. Aparat kepolisian pun terus mengejar.
Bagi yang tertangkap, mereka diminta melepas celananya. Ternyata pendukung RMS kompak mengenakan celana kolor bermotif bendera RMS dengan warna merah, putih, biru, dan hijau. Ada juga yang menyimpan bendera RMS ukuran kecil di saku celananya.
Bendera RMS ukuran jumbo yang disimpan di dalam alat musik tradisional Tifa pun ikut diamankan. Pendukung RMS itu langsung digiring ke Mapolda Maluku dengan mengendarai truk.
Puluhan pendukung RMS itu sebelum ditangkap, sempat menari dan membentangkan bendera RMS di depan SBY, SBY spontan marah.
Membawa Tombak
14 Dari 24 lebih penari cakalele dan pembentang bendera RMS diperiksa polisi di Mapolres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease. Kepada polisi, mereka mengaku melakukan aksi itu atas suruhan 2 orang.
Siapa 2 orang itu, identitasnya belum diketahui. Demikian informasi yang dihimpun detikcom dari Mapolres, Jumat (29/6).
Sekitar 30-an pria menari cakalele dengan membawa tombak di sela-sela peringatan Harganas ke-14 di Lapangan Merdeka, Ambon. Banyak undangan mengira mereka adalah bagian dari acara.
Tapi tak lama kemudian mereka membentangkan bendera RMS. Mereka pun diusir dari lapangan dengan cara yang cukup halus, sembari masih tetap berjingkrak-jingkrak. Setelah keluar dari lapangan, mereka ditangkapi. Ada juga yang mencoba kabur.
SBY Marah Disuguhi Bendera RMS dan Tarian Cakalele
Dengan bertelanjang dada dan membawa parang serta tameng, 40 pendukung Republik Maluku Selatan (RMS) menarikan tarian cakalele (tarian perang). Bendera RMS pun dibentangkan. SBY yang menyaksikannya terkejut dan marah.
Kedatangan pendukung RMS tidak disangka-sangka dalam peringatan Hari Keluarga Nasional ke-14 di Lapangan Merdeka Ambon, Jalan Pattimura, Ambon, Jumat (29/6).
Tarian ini disajikan setelah Gubernur Maluku Albert Karel Ralahalu memberikan sambutannya, tepat di tengah-tengah lapangan dan berjarak 5 meter dari panggung tempat SBY duduk.
Meski diguyur hujan, mereka menari dengan penuh semangat sambil membentangkan bendera RMS atau benang raja yang berwarna merah, putih, biru dan hijau ukuran jumbo.
Tarian itu sontak mengejutkan SBY, sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu, dan tamu undangan lainnya. SBY pun langsung berdiri dan memperingatkan.
“Jangan orang lain yang berbuat semua kena getahnya,” kata SBY yang mengenakan setelan jas warna abu-abu itu dengan nada menahan marah.
Kapolda Maluku Brigjen Guntur Gatot Setiawan berserta anak buahnya dan Paspampres turun tangan. Pendukung RMS itu langsung diamankan.
Usai Insiden RMS, SBY Salat Jumat di Masjid Alfatah
Usai menghadiri peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-14 yang kebobolan pendukung RMS, Presiden SBY dijadwalkan menunaikan salat Jumat di Masjid Alfatah, Ambon. Ratusan aparat keamanan berjaga-jaga di masjid tersebut.
Pengamanan masjid Alfatah, Jl Sultan Baabulah, Ambon, Jumat (29/6), terlihat sangat ketat. Sejumlah personel Brimob ditempatkan di setiap pintu masuk Masjid Alfatah.
Pengamanan juga terlihat di sepanjang jalan yang merupakan akses menuju Masjid Alfatah, seperti Jl AM Sangaji dan Jl Yos Sudarso. Sejumlah aparat TNI/Polri berdiri di pinggi jalan.
Aparat keamanan juga disiagakan di sejumlah pertokoan. Semakin dekat ke Masjid Alfatah, pengamanan semakin ketat. Di setiap sisi pagar Masjid Alfatah disiagakan kendaran taktis (Rantis) Brimob Polda Maluku.
Namun hingga pukul 12.00 WIT, Presiden SBY dan rombongan masih belum terlihat memasuki Masjid Alfatah. Presiden dan rombongan masih berada di rumah Gubernuran Maluku, Kompleks Mangga Dua, Ambon.
Cara Polisi dan Paspampres Mengusir Penari RMS
Puluhan pendukung Republik Maluku Selatan (RMS) yang menari di Lapangan Merdeka Ambon membuat Presiden SBY marah. Para pendukung RMS yang menarikan tarian cakalele (tarian perang) ini diusir dari arena lapangan dengan cara yang cukup halus.
Pemantauan detikcom, Jumat (29/6), di tengah guyuran hujan di saat Gubernur Maluku Albert Karel Ralahalu berpidato, puluhan penari yang bertelanjang dada dan membawa tombak serta tameng ini tiba-tiba memasuki arena lapangan. Mereka tampak menari di hadapan Presiden SBY dan rombongan para pejabat.
Dari tampilannya, mereka memang seperti penari profesional. Namun, yang mengejutkan, mereka tampak membentangkan bendera RMS atau benang raja yang berwarna merah, putih, biru dan hijau ukuran jumbo. Inilah yang membuat para undangan peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) terkejut.
Presiden SBY dan para pejabat lain juga langsung beranjak dari kursinya, berdiri, dan menanyakan tarian pendukung RMS ini. Kapolda Maluku Brigjen Guntur Gatot Setiawan beserta para anak buahnya pun langsung turun ke lapangan. Sejumlah Paspampres yang mengenakan pakaian batik juga turun ke lapangan untuk menghalau mereka.
Para penari RMS ini diminta segera pergi dari arena. Tapi, cara polisi dan Paspampres mengusir mereka cukup halus, meski ada sebagian dari mereka yang ditendang.
Namun, mereka tidak langsung ditangkap begitu di lapangan. Mereka dibiarkan untuk menari dan berjoget sambil digiring ke luar lapangan.
Setelah keluar dari lapangan, para penari ini ditangkap dan diperiksa oleh polisi. Namun, sejumlah orang dari mereka berhasil kabur. Bendera RMS juga disita oleh aparat.
Demo RMS di Depan SBY Tamparan Keras Bagi Polri
Demo pendukung Republik Maluku Selatan (RMS) di hadapan Presiden SBY menjadi tamparan keras bagi kepolisian RI menjelang HUT-nya yang ke-61 pada 1 Juli nanti. Harusnya peristiwa itu tidak terjadi.
“Ini musibah pengamanan. Tamparan keras bagi Polri. Seharusnya ini tidak terjadi. Harus diselidiki internal panitia bagaimana. Saya khawatir panitia disusupi pendukung RMS yang ingin unjuk gigi di mata presiden,” ujar anggota Komisi Kepolisian Novel Ali kepada detikcom, Jumat (29/6).
Polri, imbuh Novel, harus melihat dan introspeksi diri di mana titik kelemahan proses pengamanan Presiden yang harusnya sangat ketat.
“Tidak hanya sisi polisi saja, tapi juga harus dilihat kelemahan sistem atau sub tertentu yang memang bukan tanggung jawab polisi. Misalnya, panitia seni untuk penyambutan presiden,” ujar Novel.
Novel menduga kasus yang memalukan ini terjadi karena faktor human error yang harusnya bisa dihindari.
“Harusnya untuk presiden, pengamanan polisi luar biasa. Ini kejadian langka dan aneh yang harusnya tidak terjadi. Bagaimana bisa? Dalam sistem keamanan, ini tidak layak,” tanya Novel.
Selain polisi, harus dicari pula satuan lain yang memiliki akses dalam pengamanan presiden yang mungkin disusupi simpatisan RMS, sehingga kejadian ini tidak bisa diantisipasi.
“Kalau disengaja apa bisa, bisa jadi ada unit keamanan di luar polisi yag ingin membuat malu presiden. Jadi ini perlu diproses dari semua sisi, tidak hanya polisi karena menyangkut pengamanan presiden,” tegasnya.
Kecolongan RMS SBY Panggil Gubernur Maluku
Presiden SBY langsung turun tangan memanggil Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu dan jajarannya menyusul insiden kebobolan pendukung RMS di acara Hari Keluarga Nasional (Harganas).
SBY melakukan pertemuan di kantor Gubernur, Jalan Pattimura, Ambon, Jumat (29/6).
Pertemuan itu dihadiri Kapolda Maluku Brigjen Guntur Gatot Setiawan dan Pangdam XVI/Pattimura, Mayjen TNI Sudarmaidy.
Puluhan pendukung RMS sebelumnya sempat menari sambil membentangkan bendera RMS pada peringatan Harganas ke-14 di Lapangan Merdeka Ambon. Acara ini dihadiri Presiden SBY. SBY jelas marah melihat insiden itu. 30 Orang pendukung RMS pun diamankan di Mapolda Maluku.
Mbah Tardjo: Copot Kapolda Maluku & Pangdam
Wibawa Presiden SBY rusak menyusul insiden kecolongan aksi pendukung RMS saat peringatan Hari Keluarga Nasional di Ambon. Kapolda Maluku Brigjen Guntur Gatot Setiawan dan Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Sudarmaidy harus dijatuhi sanksi.
“Harus ada pemikiran ke arah itu (pencopotan) baik Kapolda dan Pangdam sebagai satu hukuman jabatan,” kata Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (29/6).
Menurut dia, wibawa SBY rusak akibat insiden pembentangan bendera RMS warna merah, putih, biru dan hijau di Lapangan Merah, Ambon itu.
“Presiden jadi tidak punya wibawa sama sekali,” ujarnya.
Puluhan pendukung RMS sebelumnya sempat menari sambil membentangkan bendera RMS pada peringatan Hari Keluarga Nasional ke-14 di Lapangan Merdeka Ambon. Acara ini dihadiri Presiden SBY. SBY jelas marah melihat insiden itu. 24 Orang lebih pendukung RMS pun dimintai keterangan di Mapolda Maluku dan Mapolres Ambon.
Kapolri Evaluasi Kapolda
Sementara Kapolri Jenderal Sutanto di Ciputat, Tangerang, menyatakan pihaknya akan mengevaluasi Kapolda Maluku terkait insiden RMS tersebut.
“Nanti kita tunggu hasilnya,” ujarnya usai menutup acara di Sekolah Lanjutan Perwira (Selapa).
Kapolri juga menyangkal insiden itu adalah kecolongan. “Tidak ada istilah kecolongan,” ujarnya.
Komandan Paspampres Juga Perlu Dipecat Terkait Insiden RMS
Ketua FPDIP DPR Tjahjo Kumolo menilai pihak yang paling bertanggung jawab dalam insiden pengibaran bendera RMS adalah Komandan Paspampres, Kapolda Maluku, dan Pangdam Pattimura. Sebagai bentuk ketegasan, ketiganya perlu dipecat.
“Wajar Presiden SBY marah, karena merasa dilecehkan sebagai kepala negara. Harusnya ada tindakan tegas terhadap Komandan Paspamres, Kapolda dan Pangdam. Sangat perlu untuk diberhentikan, karena ini tanggung jawab mereka,” kata Tjahjo.
Masalah pembentangan bendera RMS ini, lanjut Tjahjo, merupakan masalah yang sangat prinsip. Karena itu, lanjutnya, tanggung jawabnya jangan dilimpahkan kepada anak buah.
“Ini kesalahan serius, bukan sekadar kelalaian atau kecelakaan,” imbuh Tjahjo yang sedang berada di Rembang dalam acara PDIP ini.
Kejadian ini, lanjut dia, membuktikan aparat keamananan dan intelijen khususnya di Ambon, tidak bekerja dan bersikap masa bodoh.
“Mereka tidak cermat. Dan ini menunjukkan tidak adanya kepekaan intelijen serta koordinasi pusat dan daerah,” ujarnya.
Tjahjo mempertanyakan persiapan yang dilakukan oleh Paspampres yang datang lebih awal ke Ambon. “Mereka tidak bekerja dengan baik sehingga muncul insiden tersebut,” pungkasnya. (detikcom/SH/r)




Komentar