unita
Print This Post Print This Post

Wacana yang Cukup Luar Biasa, JK akan Disandingkan dengan Puan Maharani pada Pilpres 2009

Posted in Berita Utama by Redaksi on Juni 26th, 2007

Jakarta (SIB)
PDIP dan Partai Golkar membuat kejutan di bulan Juni 2007. Silaturahmi pimpinan dua partai besardi Medan 20 Juni 2007 membuat penasaran banyak orang. Akan ke mana pertemuan (baca: silaturahmi) itu bermuara?
Sudah banyak orang mengomentari silaturahmi ini dan dibeberkan media. Namun, masih ada satu hal yang luput dari perbincangan dan obrolan terkait pertemuan itu. Apa itu? Ada wacana yang cukup luar biasa dan bisa mengejutkan banyak orang: memasangkan Jusuf Kalla (JK) dan Puan Maharani sebagai calon presiden dan calon wakil presiden 2009!
Sebagai wacana, memasangkan JK dan Puan tentu sah-sah saja. Memang, usulan ini belum disetujui oleh kedua partai itu. Wacana ini menjadi salah satu dari sekian banyak pilihan yang bisa dilakukan PDIP dan Golkar dalam mempererat silaturahmi dan memuluskan strategi dalam perebutan kursi Presiden dan Wakil Presiden 2009.
“Arah silaturahmi ini adalah koalisi dalam Pemilihan Presiden 2009, bagaimana bisa memasangkan Jusuf Kalla dengan Puan Maharani,” kata salah seorang sumber detikcom yang aktif di salah satu partai besar ini, Senin (25/6). JK diusung Partai Golkar, sementara Puan Maharani diusung PDIP.
Wacana duet ini terus dibahas mengenai kemungkinannya. Sejumlah pihak di dua partai ini memandang duet ini cukup cocok. JK mewakili politisi senior, sedangkan Puan mewakili kaum muda. JK mewakili kaum lelaki, Puan mewakili kaum perempuan. JK mewakili luar Jawa, Puan bisa dikatakan mewakili kalangan Jawa.
Duet ini diprediksi akan bisa kuat, bila memang didukung penuh Partai Golkar dan PDIP. Bila dua partai ini mendukung, maka kekuatan duet ini sangat luar biasa, sebab Golkar dan PDIP merupakan dua parpol pemenang Pemilu 2004. Pada pentas politik 2009, dua parpol ini diprediksi banyak kalangan tetap menjadi dua parpol terbesar.
Yang jadi pertanyaan saat ini, mengapa PDIP memilih Puan Maharani? Padahal, selama ini PDIP telah mencalonkan Megawati sebagai Presiden 2009? Bagi PDIP, Megawati memang sudah menjadi harga mati. Tapi, kalau Megawati yang menginginkan Puan Maharani untuk maju, mau apalagi?
Pertimbangan PDIP memunculkan nama Puan Maharani, juga karena menganggap berat untuk bisa memenangkan Megawati dalam Pemilihan Presiden 2009, bila dilakukan dengan ’solo karir’. PDIPh harus berkoalisi. Dan Megawati bisa menang, bila Partai Golkar mendukungnya. Tapi, hal ini mustahil.
Mengapa? PDIP harus mengakui keunggulan Partai Golkar. Setidaknya, pada Pemilu 2004, Golkar meraih suara lebih banyak dibanding PDIP. Ini artinya, bila ingin berkoalisi dengan Golkar, PDIP tidak elok untuk meminta jatah lebih tinggi. Yang cocok dan kemungkinan bisa diterima kedua belah pihak, PDIP hanya bisa mengantarkan calonnya untuk duduk sebagai calon wakil presiden, sementara kursi calon presiden tentu milik Golkar.
Tidak mungkin memposisikan Megawati sebagai calon wakil presiden. Sangat tidak lucu, apabila seorang mantan presiden mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden. Karena itu, sebagai jalan tengahnya, dicari tokoh atau politisi dari PDIP yang bisa dicalonkan sebagai calon wakil presiden untuk mendampingi calon presiden yang diusung Partai Golkar. Salah satu nama yang muncul adalah Puan Maharani, putri kandung Megawati Soekarputri-Taufiq Kiemas. Puan diyakini akan lebih laku ‘dijual’ dibanding politisi PDIP lainnya, karena Puan masih memiliki darah Soekarno. Selain itu, nama Puan juga sudah cukup populer.
Ini salah satu jalan strategis yang dipilih PDIP untuk masa depannya. Bisa saja, PDIP tetap mencalonkan Megawati sebagai calon presiden 2009. Namun, bila jalan ini yang dipilih PDIP, maka itu sama saja menjadikan PDIP sebagai oposisi pemerintah untuk periode 2009-2014. Karena itu, PDIP kemungkinan besar tidak akan memilih nasib seperti ini. PDIP berpikir sudah saatnya untuk memimpin kembali pemerintahan pada 2009, meski hanya sebagai wakil presiden. Namun, bila Puan berhasil menjadi wakil presiden 2009-2014, itu berarti peluang Puan untuk menjadi presiden 2014-2019 akan terbuka lebar. Inilah target cerdas PDIP ke depan: mengalah untuk menang!
Sementara Golkar dipastikan mengusung JK sebagai capres 2009. Apalagi, JK masih memimpin Partai Golkar hingga akhir 2009. Selain itu, JK sudah bertambah populer, dengan posisi wakil presiden saat ini. Untuk mengusung kadernya sebagai calon presiden, Partai Golkar juga harus berkoalisi dengan partai lain untuk memuluskannya.
Bila JK ingin menjadi presiden 2009, maka tawaran dari PDIP untuk memposisikan Puan Maharani sebagai calon wakil presiden, kemungkinan akan diamini Partai Golkar.
Hingga saat ini, belum ada pejabat PDIP atau Golkar membenarkan wacana duet JK-Puan Maharani. Namun, indikasi-indikasi mengarahkan duet ini sudah terlihat. Sekjen PDIP Pramono Anung misalnya, optimistis PDIP dan Golkar bisa berkoalisi dalam Pemilihan Presiden 2009. Menurut Pramono, bila Golkar dan PDIP berkoalisi, maka suara yang akan diperoleh bisa 86%.
Sementara tokoh PDIP Tjahjo Kumolo telah mengisyaratkan calon presiden lain selain Megawati. “Dalam kongres, kami sudah memutuskan Ibu Megawati. Tapi terserah Ibu Mega mau atau tidak,” kata Tjahjo dalam sebuah diskusi Sabtu (23/6) lalu.
Agung Laksono Belum Dengar Wacana Duet JK-Puan
Sayup-sayup wacana duet Jusuf Kalla (JK)-Puan Maharani dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 mulai terdengar. Bisa jadi, wacana ini akan menjadi pro dan kontra di tubuh Partai Golkar, partai yang dipimpin Jusuf Kalla. Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono malah belum mendengar wacana ini.
“Tidak ada itu. Itu karena pertemuan Medan tidak melalui rapat pleno,” kata Agung Laksono saat dihubungi detikcom, Senin (26/6). Agung ditanya apakah pertemuan PDIP dan Golkar di Medan 20 Juni 2007 lalu merupakan penjajakan duet JK-Puan.
Dari awal, Agung Laksono terkesan tidak mengetahui pertemuan antara Golkar dan PDIP. Karena itu, Agung berkali-kali menyatakan bahwa pertemuan itu digelar tanpa melalui rapat DPP Partai Golkar. Entah ada apa dengan Agung Laksono.
Padahal, Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla mengaku sudah memberitahukan informasi pertemuan itu kepada Presiden SBY sebelumnya. Pertemuan yang mengejutkan itu juga diwakili secara resmi oleh pejabat teras Golkar. Ada Ketua Dewan Penasihat Surya Paloh, Sekjen DPP Partai Golkar Sumarsono, dan Ketua DPP Syamsul Muarif.
Karena itulah, Agung tidak mengetahui isu pertemuan ini, termasuk rencana PDIP dan Golkar dalam melakukan koalisi dalam Pilpres 2009. “Tidak tahu saya. Tanya saja sama Puan,” ujar Agung lagi saat ditanya lagi mengenai peluang duet JK Puan.
Apa mungkin ke arah sana, sehingga tidak perlu konvensi seperti sebelumnya? “Ya, kalau itu, lihat nanti. Kan masih jauh pemilu. Jadi tidak memikirkan itu dulu-lah,” kata dia.
Ketika ditanya apakah dirinya juga akan maju dalam Pilpres 2009, Agung tidak berani berkata tidak. “Ah, itu nanti,” jawab Agung singkat.
Pram Tepis Duet JK-Puan 2009
Wacana duet Jusuf Kalla-Puan Maharani sebagai implementasi koalisi Golkar-PDIP untuk Pilpres 2009 ditepis Sekjen PDIP Pramono Anung. “PDIP tetap mengusung Ibu Mega,” tegasnya.
Pram juga enggan memberikan komentar mengenai kemungkinan duet JK-Puan. “Hal Seperti itu kok ditanyakan ke saya,” elaknya saat dihubungi detikcom, Senin (25/6).
Menurut Pramono, dalam kongres telah ditetapkan, PDIP akan mengusung Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden dalam Pillpres 2009.
Kalau Mega menunjuk Puan? “Kita tidak usah berandai-andailah,” kilah Pram.
Puan merupakan anak Megawati Soekarnoputri dan Taufiq Kiemas. Pasca pertemuan antara Partai Golkar dan PDIP di Medan, Sumut, nama Puan santer disebut-sebut akan diduetkan dengan JK pada Pilpres 2009.
Puan Maharani, Penari yang Lulus Belajar Politik
Selama ini Puan Maharani jarang disebut sebagai politisi. Ya, dia bukan pengurus sebuah partai politik, bukan anggota DPR. Dia tidak memiliki jabatan politik. Tapi sebenarnya penggemar menari ini tanpa disadari sudah melakukan aktivitas politik. Dia disiapkan sebagai penerus Megawati.
Puan merupakan anak ketiga Megawati Soekarno Putri, atau anak pertama Megawati dari suaminya, Taufiq Kiemas. Sebelum melahirkan Puan Maharani, Megawati telah memiliki dua anak, M Rizki Pratama dan M Prandanda Prabowo, dari suami sebelumnya, seorang pilot bernama Surendro.
Dari ketiga anaknya, Puan Maharani-lah yang lebih sering tampil di depan publik mendampingi Megawati. Karena itu, wajar bila kemudian nama Puan lebih dikenal luas masyarakat dibanding dua anak laki-laki Mega. Saat Megawati menjadi Presiden 2001-2004, Puan Maharani selalu berada di sampingnya, bila melakukan kunjungan resmi ke daerah atau ke luar negeri.
Inilah aktivitas politik Puan Maharani yang mungkin tak disadarinya. Dengan mendampingi Megawati, Puan Maharani semakin familiar di kalangan publik. Wajah ibu muda kelahiran 6 September 1973 ini pun semakin dikenal. Beberapa kali Puan Maharani dipercaya Megawati melakukan aktivitas sosial.
Istri dari Happy Hapsoro ini belajar banyak mendekati ‘wong cilik’. Dia menjadi duta Megawati untuk mengirim bantuan untuk para korban bencana, dari Sabang sampai Merauke. Sering kali, saat memberikan bantuan itu, Puan menyatakan bahwa dirinya diutus Megawati.
Proses belajar politik Puan Maharani semakin ditempa saat Pemilihan Presiden 2004 lalu. Sarjana Komunikasi Universitas Indonesia (UI) ini terpaksa semakin dalam untuk ikut terlibat dalam proses politik. Puan membantu sekuat tenaga ibunya agar menjadi presiden kedua kalinya. “Saya harus membantu. Betapa pun beliau ibu saya,” kata ibu muda ini saat diwawancarai Gatra, 2004 lalu.
Puan ikut terlibat dalam Mega Center, lembaga yang menangani pemenangan Mega sebagai presiden. Sebagai observer di lembaga itu, setiap hari, Puan selalu bertemu dengan konstituen, mendengarkan keluhan dan harapan banyak orang.
Puan juga memiliki hobi yang bisa mendekatkan dirinya dengan wong cilik: menari. Dengan berbekal sebagai penari Jawa yang baik, Puan semakin lihai untuk mengenal budaya.
“Ibu yang mengajari sejak saya kecil. Bapak juga mengenalkan pada budaya Palembang tetapi saya kurang bisa menguasai dibandingkan tari Jawa. Saya beruntung dibesarkan oleh orangtua berlatar kebudayaan Jawa dan Palembang, meski saya hanya menguasai tari Jawa,” ujar Puan suatu saat.
Sebagai utusan Megawati, Puan juga belajar melobi tokoh atau politisi. Puan pernah diminta Megawati untuk mewakilinya bertemu ulama ternama di Pekalongan, Habib Muhammad Luthfi Ali Yahya pada 2004 lalu. Puan melobi agar sang habib mendukung pasangan Mega-Hasyim. Puan juga pernah diminta untuk bertemu politisi kaliber lainya.
Setelah Megawati gagal sebagai Presiden 2004-2009, Puan Maharani tetap terus mendampinginya. Puan masih sering mendapat jatah mewakili ibunya sebagai ketua umum DPP PDIP untuk memberikan bantuan kepada masyarakat yang mengalami kesusahan.
Yang belum terlihat selama ini adalah gaya Puan Maharani melakukan orasi di depan publik. Meski begitu, Puan sepertinya sudah dianggap lulus untuk belajar politik. Wajar, bila saat ini Puan disebut-sebut akan diajukan sebagai calon wakil presiden untuk diplot menjadi pasangan Jusuf Kalla dalam Pemilihan Presiden 2009. (detikcom/j)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.