stmiksmxii
Print This Post Print This Post

Tersangka Teroris Nomor Satu Abu Dujana Berhasil Dibekuk Polri

Posted in Berita Utama by Redaksi on Juni 14th, 2007

Jakarta (SIB)
Mabes Polri tengah bungah. Abu Dujana (39), buruan nomor satunya, telah dicokok. Saat ini Dujana terus diinterogasi untuk menggeber jaringannya.
Selama pelarian, Abu Dujana menggunakan nama alias yang cukup banyak, yaitu Yusron Mahmudi alias Mahfud alias Ainul Bahri alias Sobirin alias Sorem alias Dedi. Yusron dibekuk di Desa Kebarongan, Kemranjen, Banyumas, Jateng, pada 10 Juni 2007 lewat baku tembak. Dia dilumpuhkan setelah kakinya tertembus timah panas.
Polisi awalnya menyangkal Yusron adalah Abu Dujana, tapi mengakui keduanya memiliki kemiripan. Polisi hanya menyebut Yusron adalah orang dekat Abu Dujana. Polisi enggan berkoar-koar lebih jauh karena khawatir teman-teman Yusron yang diintai kabur.
Namun uniknya, dari Australia, Menlu Alexander Downer pada Senin 11 Juni menyatakan bahwa Abu Dujana telah ditangkap, berdasarkan informasi pejabat Indonesia.
Pada Selasa kemarin, pernyataan itu disangkal oleh Mabes Polri, dan Dubes Australia di Jakarta “meralat” pernyataan bosnya.
Namun pada malam harinya, tepatnya pukul 22.00 WIB, Mabes Polri meyakini bahwa Yusron adalah Abu Dujana. Rabu (13/6) digelarlah jumpa pers untuk mengumumkan bahwa Yusron adalah Abu Dujana.
Mabes Polri menyatakan, Abu Dujana adalah kepala sayap militer Jamaah Islamiyah (JI). Jabatannya lebih tinggi dibandingkan gembong teroris Noordin M Top. Dia terlibat dalam kepemilikan amunisi dan bahan peledak di Sleman, Sukoharjo, Poso dan penyembunyian pelaku bom Hotel JW Marriott.
QAbu Dujana lahir pada 1968 di Cianjur, Jawa Barat, dengan nama Ainul Bahri. Dujana mengikuti latihan militer dan pembuatan bom di kamp mujahidin di Pakistan pada 1986.
Dia juga pernah berjuang di Afghanistan bersama Hambali, yang juga berasal dari Cianjur. Hambali dibekuk oleh CIA di Thailand pada 2003 dan saat ini dipenjara di Guantanamo Bay, Kuba. Abu Dujana juga pernah bergabung dengan pergerakan Moro Islamic Liberation Front (MILF) di Filipina.
Bersama tersangka teroris lainnya, yaitu Dulmatin, Noordin M Top, Djulkarnaen dan Aris Munandar, Abu Dujana dijuluki sebagai the five stars jaringan teroris di Asia Tenggara.
Di mana Abu Dujana saat ini? Mabes Polri enggan mengungkapkannya. Dia hanya menyebut saat ini Abu Dujana dan 7 rekannya berada di sebuah tempat di Jawa Tengah. Tampaknya, tak lama lagi makin banyak teman Abu Dujana yang menghuni sel polisi.
AUSTRALIA SAMBUT BAIK
Australia menyambut baik setiap langkah Polri dalam menumpas teror di Indonesia, termasuk upaya menangkap tersangka teroris, Abu Dujana, dan menggulung jaringannya.
“Kami belum mendapatkan kepastian (tentang telah tertangkapnya Abu Dujana-red), tapi seandainya anggapan itu benar adanya dan Indonesia meyakini hal itu, kami akan dengan hangat menyambutnya,” kata Menteri Luar Negeri Alexander Downer seperti dilaporkan ANTARA dari Canberra, Rabu.
Penangkapan Abu Dujana, tersangka teroris yang disebut media Australia sebagai tokoh senior Jemaah Islamiyah (JI), itu menggambarkan betapa suksesnya Indonesia dalam “memerangi terorisme”, kata Downer.
“Mereka (Indonesia) telah melakukan pekerjaan sangat-sangat bagus dalam beberapa tahun terakhir ini, dan sangat wajar mereka menerima ucapan selamat penuh dari negara seperti Australia yang menjadi korban terorisme,” katanya.
Mengenai apakah Australia turut terlibat dalam operasi penangkapan Abu Dujana dan anggota jaringannya itu, Menlu Downer mengatakan, Australia tidak terlibat secara spesifik dalam apa yang dilakukan Indonesia dalam operasi penumpasan terorisme.
Namun Australia dari waktu ke waktu bekerja sama erat dengan Indonesia dalam tugas-tugas kontra terorisme.
POLRI : ABU DUJANA ADALAH YUSRON
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Sisno Adiwinoto mengatakan Polri telah berhasil menangkap tersangka berbagai terorisme di Indonesia, Abu Dujana alias Yusron beserta tujuh anak buahnya.
“Penangkapan tersebut dilakukan oleh Tim Mabes Polri di beberapa tempat di Jawa Tengah dan Yogyakarta, kata Sisno di Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan kepastian tertangkapnya Abu Dujana tersebut diperoleh setelah polisi memeriksa intensif Yusron yang tertangkap di Banyumas, pada Sabtu lalu (9/7).
“Setelah diperiksa secara intensif pemeriksaan sidik jari dan dikonfrontasikan ke pihak lain ternyata Yusron adalah Abu Dujana,” katanya.
Ia mengatakan polisi belum dapat memastikan Abu Dujana saat penangkapan karena warga Cianjur ini memiliki banyak nama yakni Pak Guru, Mas Ud, Ainul Bachri, Thorim, Sobirin dan Dedi.
Sisno menjelaskan nama yang berlainan tersebut selalu dipakainya dan nama Abu Dujana sendiri hanya dipakai dalam komunitas terdekatnya, sedangkan dengan pihak lain selalu memakai nama yang berlainan.
Setelah tertangkapnya Abu Dujana, maka polisi menangkap tujuh tersangka lain yakni AI (45), NA (33), IAN (17), NFAS (19), AM (33), AW (31), AS (29). Namun demikian, Polri belum dapat menyebutkan lokasi penangkapan ketujuh tersangka karena masih dipakai untuk memburu tersangka lainnya.
Sisno mengatakan penangkapan Abu Dujana di Banyumas merupakan hasil olah keterangan anak buahnya yang telah tertangkap Februari 2007 lalu di Sleman. Dari keterangan itulah polisi mendapatkan Yusron yang tidak lain adalah Abu Dujana.
Tentang latar belakang Abu Dujana, Sisno Adiwinoto mengatakan, pernah bertemu dengan pimpinan Al Qaeda, Osamah bin Laden.
Pertemuan keduanya terjadi saat mereka berada di medan perang Afghanistan, katanya.
“Kecerdasannya saat mengikuti pendidikan militer dan kemampuannya menguasai bahasa Arab dan Inggris membuatnya dekat dengan petinggi Al Qaeda dan sempat bertemu secara pribadi dengan Osamah bin Laden,” katanya.
Ia mengatakan selama perang di Afghanistan, kemampuan Abu Dujana untuk membunuh mulai terasah dan mulai menguasai penggunaan senjata, membuat bom dan berbagai taktik perang.
“Abu Dujana ini berangkat ke Afghanistan tahun 1989 dan masuk akademi militer Mujahiddin. Ia berperang hingga tahun 1991,” katanya.
Setelah kembali ke Indonesia tahun 2002 itulah, Abu Dujana mulai terlibat dalam berbagai aksi teror di Indonesia termasuk bom Bali I tahun 12 Oktober tahun 2002.
“Ia terus menerus terlibat dan ambil peran dalam setiap aksi teror yang dilakukan oleh Azahari dan Noordin M Top,” katanya.
Sejauh ini, polisi telah menangkap tujuh anggota Abu Dujana di Sleman, Temanggung dan Surabaya, Februari 2007 lalu.
Indonesia merupakan salah satu negara anggota Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) yang menjadi korban aksi terorisme sejak tahun 2000. Dalam insiden bom Bali pertama tahun 2002, sebanyak 202 orang tewas, dan Australia kehilangan 88 orang warganya. (Ant/l)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.