Surya Tour
Print This Post Print This Post

Intensifkan Penanganan Wabah Diare

Posted in Tajuk Rencana by Redaksi on Juni 2nd, 2007

Akhir-akhir ini cuaca di Kota Medan dan beberapa daerah di sekitarnya sering tak menentu. Terkadang cuaca sangat panas, namun tak berselang beberapa lama lagi guyuran hujan pun datang. Akibatnya, kita sulit memprediksi cuaca dalam satu hari. Perobahan cuaca yang berlangsung tak menentu itu berpengaruh besar pada kesehatan manusia. Lingkungan menjadi kotor, terkontaminasi. Berbagai bentuk penyakit akan gampang mewabah. Mulai dari penyakit yang ringan, hingga ke penyakit (wabah) yang bisa merenggut nyawa manusia.
Salah satu wabah penyakit yang berpotensi muncul akibat pergantian musim yang tak menentu ini adalah wabah diare. Pasalnya, jika hujan turun, kemungkinan ada banyak tempat-tempat penampungan air yang tergenang yang menjadi lahan berkembangbiaknya nyamuk dan lalat. Misalnya di saluran air. Selokan air yang tak lancar akan menimbun sejumlah sampah yang bisa disinggahi nyamuk untuk kemudian berpindah ke makanan yang terhidang di rumah penduduk.
Bukti dari keganasan wabah diare sudah nyata. Sejumlah anak-anak telah menjadi pasien beberapa rumah sakit, bahkan ada di antaranya yang sudah meninggal dunia. Bahkan diprediksi, bahwa korban akan terus bertambah sepanjang penanganannya masih belum intensif. Inilah yang menjadi kekhawatiran kita.
Karena itu, kewaspadaan akan mewabahnya diare harus ditingkatkan. Pasalnya, wabah ini hampir tak mengenal waktu dan tempat untuk merenggut korban. Apa yang terjadi di Kota Medan dan beberapa kota lainnya di Sumatera Utara dalam satu bulan terakhir ini adalah bukti nyatanya dimana penderita diare terus bertambah. Bahkan di beberapa daerah, ketika itu, oleh karena banyaknya korban wabah diare, maka wabah ini bisa disebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Jika kita mengacu pada kejadian masa lalu, bahwa wabah diare bisa muncul sewaktu-waktu. Sebagaimana terjadi di beberapa daerah, wabah diare bisa dengan cepat berkembang, yang pada akhirnya akan menelan korban, baik korban meninggal dunia maupun yang dirawat di rumah sakit yang semakin besar. Dana yang dikeluarkan pun, baik oleh pemerintah maupun oleh korban, sudah sangat banyak.
Besarnya peluang wabah diare untuk cepat berkembang, membuat wabah ini sering disebut sebagai kejadian luar biasa (KLB). Disebut sebagai kejadian luar biasa karena dilihat dari luasnya cakupan dan banyaknya korban yang ditimbulkannya sudah berada di atas (luas dan jumlahnya) kejadian serupa di tahun (masa) yang lalu. Jika pada tahun 2004 hingga tahun 2006 yang lalu saja, korban akibat serangan wabah diare sudah sangat tinggi, maka untuk tahun 2007 ini, sangat dimungkinkan lebih tinggi lagi.
Di sejumlah daerah lainnya, wabah diare telah menjadi persoalan besar dan layak dijadikan sebagai sebuah permasalahan nasional. Beberapa kota besar di Indonesia, banyak masyarakatnya yang sudah terjangkit wabah yang sangat membahayakan. Di Jawa Barat misalnya, bahkan jauh-jauh hari wabah diare sudah ditetapkan menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). Demikian juga di Jakarta. Di Medan, bahkan pemberitaan tentang korban diare hampir tak pernah sepi dari liputan media massa.
Apa makna kejadian ini? Tentu sangat banyak. Tetapi, satu hal yang perlu kita catat adalah bahwa upaya-upaya untuk mengatasi wabah diare ini belum pernah tuntas. Demikian juga dengan korban yang ditimbulkannya terus bertambah. Namun, tingkat kesadaran kita dalam memberantasnya belum sepenuhnya mantap.
Kini, ketika wabahnya sudah menyebar, dan menimbulkan angka kesakitan dan bahkan kematian yang cukup tinggi, barulah kita sibuk dan panik. Untuk itu, satu hal yang perlu dikaji lebih dalam adalah penanganan yang sesegera mungkin perlu dilakukan. Pemerintah daerah perlu pro aktif. Misalnya dengan mendeteksi dan memetakan daerah-daerah yang sudah terjangkit diare, maupun yang potensial akan terjangkit.
Untuk mengantisipasi berkembangnya wabah diare ini, maka sistem kewaspadaan dini harus ditingkatkan, mulai dari hal-hal yang sederhana. Langkah-langkah intensif harus digagas. Misalnya mengkampanyekan budaya cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Kemudian pemerintah perlu membangun kordinasi yang mantap, pelibatan masyarakat, dan upaya-upaya lainnya. (*)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.