Sutiyoso Tersinggung Berat Diperlakukan Tidak Senonoh di Australia
Jakarta (SIB)
Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengaku sangat tersinggung dengan sikap polisi New South Wales, Australia,yang masuk ke kamarnya saat dia sedang beristirahat di kamar hotel tempatnya menginap.
“Saya tersinggung kepada Premier New South Wales atas sikap tidak senonoh pemerintah di sana terhadap pejabat negara yang diundang,” tegas Bang Yos dalam jumpa pers di Balaikota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (30/5).
Begitu mengalami kejadian tidak mengenakkan itu, Sutiyoso langsung menelepon Menlu Hassan Wirajuda. Dia lalu mendiskusikan masalah tersebut.
“Saya mohon kepada beliau agar saya tidak ikut acara yang tersisa, malam tanggal 29 Mei dan paginya untuk mengunjungi ibukota Australia, Canberra,” tutur Sutiyoso.
Sikap yang diambilnya itu, imbuh Sutiyoso, semata-mata untuk menjaga harkat dan martabat bangsa. “Karena itu saya putuskan pulang lebih awal dengan pesawat lain,” tuturnya.
Soal Bang Yos, Aussie Lecehkan Indonesia Besar-besaran
Pemanggilan polisi Australia terhadap Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso dinilai bentuk pelecehan besar-besaran terhadap Indonesia. Karenanya, perlu tindakan tegas dari pemerintah Indonesia.
“Terlalu dangkal dan terlalu gegabah polisi memanggil, apa cukup bukti,” ujar Wakil Ketua Komisi I DPR Yusron Ihza Mahendra, saat dihubungi detikcom, Rabu (30/5).
Dia mengatakan, pemanggilan itu merupakan tindakan yang aneh. Sebab, kedatangan Sutiyoso ke Australia adalah karena undangan pemerintah negara bagian New South Wales dalam rangka sister city.
Pemanggilan ini, lanjut Yusron, dapat mendorong masyarakat Indonesia membenci Australia.
“Sutiyoso kan Gubernur Jakarta yang dikenal banyak orang, terutama penduduk Jakarta,” lanjutnya.
Yusron pun meminta Pemerintah Indonesia agar melakukan tindakan untuk membantu Sutiyoso. Bersama Komisi I DPR yang membidangi masalah luar negeri, ia akan mengambil tindakan atas perlakuan Pemerintah Australia yang dinilai tidak beretika.
“Melalui Deplu, saya minta pemerintah untuk protes,” cetusnya.
Saat ini Yusron mengaku belum ada koordinasi apapun. Namun ia menambahkan, jika memang tidak ada alasan yang jelas, seharusnya Pemerintah Australia mempunyai etiket baik untuk mengakui kesalahannya.
“Paling tidak kita minta Australia minta maaf,” tukasnya.
Soal Sutiyoso, RI Harus Segera Panggil Dubes Australia
Banyak pihak merasa kecewa atas tindakan polisi Australia yang mencari-cari Gubernur DKI Sutiyoso hingga ke kamar hotelnya. Pemerintah diminta memanggil Dubes Australia untuk Indonesia Bill Farmer.
“Pemerintah harus segera memanggil Dubes Australia untuk memprotes tindakan tersebut,” ujar anggota Komisi I DPR Yudi Chrisnandi kepada detikcom, Selasa.
Hal itu harus dilakukan, sebab menurut Yudi, Australia tidak menunjukkan sikap bersahabat.
Ketika berada di Sydney, Australia, Bang Yos dicari-cari polisi setempat untuk datang ke pengadilan. Peristiwa itu terjadi 29 Mei sore waktu setempat.
Bang Yos dicari polisi untuk menghadiri sidang pembunuhan wartawan asing di Balibo, Timor Timur pada tahun 1975.
Polisi bahkan sampai mendatangi kamar purnawirawan berbintang tiga ini. Mereka meminta orang nomor satu di Jakarta ini untuk menghadiri sidang pembunuhan 5 wartawan asing di Balibo, Timor Timur pada tahun 1975.
Australia Harus Bisa Lebih Menghormati Tamunya
Protes tindakan polisi Australia yang ‘memaksa’ Gubernur DKI Sutiyoso datang ke sebuah persidangan terus mengalir. Australia diminta harus bisa lebih menghormati tamunya.
Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Komite Pemantau dan Pemberdayaan Parlemen Indonesia (KP3I) Tom Pasaribu kepada detikcom, Rabu (30/5).
“Tindakan semena-mena polisi Australia terhadap Sutiyoso, yang notabene seorang pejabat tinggi pemerintah, sudah mencemarkan nama baik Indonesia. Pemerintah Australia harus meminta maaf secara terbuka,” ungkap Tom.
Tom menambahkan, KP3I akan melayangkan surat keprihatinan kepada Kedubes Australia di Jakarta. Hal ini penting agar peristiwa serupa tidak terulang di kemudian hari.
“Kami menilai tindakan polisi Australia itu tidak masuk akal. Seharusnya mereka bisa lebih menghormati Sutiyoso yang datang atas undangan pemerintah Australia sendiri,” tukas Tom.
Bang Yos Menghadap Menlu RI Agar Minta Klarifikasi Australia
Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso akan menghadap Menlu Hassan Wirajuda Rabu siang. Bang Yos akan mengadukan dan membeberkan perlakuan polisi Australia yang telah mempermalukannya.
Kepada Menlu, Bang Yos akan menjelaskan secara detil kronologi kejadian tersebut.
“Saya mohon kepada beliau untuk secara resmi minta klarifikasi kepada pemerintah Australia atas tindakan tidak senonoh terhadap pejabat negara yang diundang,” tegasnya.
Bang Yos menyampaikan hal itu dalam jumpa pers di Balaikota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (30/5).
Dia akan menunggu penyelesaian kasus yang menyangkut dua negara ini. “Jadi kita serahkan kepada pemerintah dalam hal ini Menlu,” ujarnya.
Berulang Kali Aussie Lecehkan RI, Hubungan Cedera Lagi
Pemanggilan polisi Australia terhadap Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso memicu kecaman. Apalagi Australia sudah berulang kali melecehkan Indonesia.
Peristiwa tersebut juga menandakan hubungan Indonesia dan Australia yang selalu mengalami pasang surut.
Ketua FKB DPR Ida Fauziah menyesalkan tindakan tersebut. Dia menilai, apa yang dilakukan polisi Australia itu telah mencederai hubungan yang dibangun Indonesia dan Australia.
“Kita sangat menyesalkan tindakan tersebut, karena ini bukan yang pertama kali dilakukan Australia pada kita,” ujar Ida dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (30/5).
Politisi PKB ini menilai, masih ada kelemahan hubungan diplomatik Deplu RI dengan Pemerintah Australia. Hal ini ditunjukkan dengan tindakan-tindakan Australia yang dianggap mencederai hubungannya dengan Indonesia.
“Ini berarti ada kegagalan diplomasi pemerintah kita. Karena itu Menlu harus menjelaskan ini ke DPR,” imbuh perempuan berkerudung ini.
Hal senada disampaikan Ketua FPPP Lukman Hakim Syaifuddin. Tindakan polisi Australia itu dinilai sebagai bentuk pelecehan terhadap kedaulatan RI. Karena itu, pemerintah harus memanggil Dubes Australia untuk menjelaskan hal tersebut.
“Indonesia juga harus mengirimkan nota protes kepada Pemerintah Australia,” kata Lukman.
Polisi Aussie Masuk Kamar Sutiyoso Pakai Master Key
Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso benar-benar sedang istirahat saat dua polisi masuk ke kamar hotelnya. Sutiyoso terkaget-kaget karena saat itu dia masih menggenggam kunci kamar.
“Mereka bisa masuk karena memaksa minta master key ke pihak hotel,” ungkap Sutiyoso.
Sutiyoso menyampaikan hal itu dalam jumpa pers di Balaikota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (30/5/2007).
Apa Anda merasa dijebak? “Saya tidak tahu,” tegas Sutiyoso.
Yang pasti saat meminta penjelasan dari pemerintah negara bagian Australia, New South Wales, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena pemerintah tidak bisa menjangkau kepolisian.
Camat dan Lurah Juga Demo di Kedubes Aussie
Tidak terima sang atasan dilecehkan, anak buah Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso berunjuk rasa di kantor Kedubes Australia. Camat dan Lurah dari Tanjung Priok mengecam keras tindakan Australia.
Bak aktivis 1998, Camat Tanjung Priok Darwis M Adji lantang berorasi di kantor Kedubes Australia, Jalan Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (30/5/2007).
Darwis dikelilingi 7 orang lurah. Mereka mengenakan baju dinas warna coklat-coklat.
“Saya datang karena Bapak saya dilecehkan di Australia. Pak Gubernur Sutiyoso datang ke sana kan diundang. Jadi aparat dan polisi Australia menggeledah Sutiyoso adalah pelecehan,” kata Darwis dengan nada berapi-api.
Jika pemerintah Australia tidak minta maaf, Darwis mengancam akan menurunkan aparat Pemda se-Tanjung Priok untuk demo selama seminggu berturut-turut.
“Mulai besok dan minggu depan kalau pemerintah Australia tidak minta maaf kita akan demo terus,” ujarnya sambil berteriak “Hidup Sutiyoso” berulang kali.
Nggak kerja Pak?
KRONOLOGIS KEJADIAN
Menyinggung tentang kronologis kejadian, Dino mengatakan, kedua orang polisi itu menemui Gubernur Sutiyoso yang sedang berada di kamarnya dengan menggunakan kunci master (master key) hotel kendati yang membukakan pintu kamar itu adalah seorang petugas hotel yang mendampingi mereka.
“Kejadian itu terjadi sekitar Pukul 16.00 waktu Sydney. Gubernur Sutiyoso tidak bersedia ditemui dan meminta ajudan untuk menemui kedua polisi ini di luar kamar. Gubernur Sutiyoso yang meminta mereka keluar,†katanya.
“Di situlah baru diketahui tujuan kedua polisi itu untuk menemui dia. Gubernur Sutiyoso merasa tersinggung karena keberadaannya di Sydney adalah sebagai tamu pemerintah New South Wales, dan penyerahan surat pemanggilan itu sama sekali tidak ada dalam daftar acara beliau,†katanya.
Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu TM Hamzah Thayeb sempat mengikuti sesi pertama pertemuan menteri energi Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Darwin, Selasa pagi hingga siang.
Namun Dubes Thayeb meninggalkan Darwin, Selasa siang, untuk kembali ke Canberra guna menyambut kedatangan rombongan gubernur tanpa mengetahui adanya kejadian ini sebelumnya.
Kehadiran Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso di Sydney, seperti dikatakan Konsul Bidang Ekonomi Konsulat Jenderal RI Sydney, Kusno Wibowo Mazwar, dalam penjelasannya kepada ANTARA 25 Mei lalu, bertujuan untuk menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang menandakan pengaktifan kembali kerja sama “provinsi kembar†(sister province) dengan Negara Bagian New South Wales.
“Agenda utama Pak Sutiyoso selama berada di Sydney dari 27 hingga 29 Mei adalah mengaktifkan kembali kerja sama ‘sister state/province’ antara DKI Jakarta dan NSW,†katanya.
Kerja sama “provinsi kembar†itu sebenarnya telah pernah dijalin tahun 1994 namun belum terlaksana secara penuh karena berbagai kendala, seperti pergantian pejabat di lingkungan Pemprov DKI Jakartan dan krisis ekonomi 1997, katanya.
Kusno mengatakan, selama beberapa hari kunjungannya di Sydney itu, selain bertemu Kepala Pemerintah (Premier) NSW, Morris Iemma, dan sejumlah pejabat terkait NSW lainnya, Sutiyoso juga bertemu kalangan pengusaha Australia dan Indonesia di kota terpadat dan terbesar Australia itu.
Terkait dengan kasus Balibo Five, Mantan Perdana Menteri Australia, Gough Whitlam, yang memberikan keterangan di Pengadilan Glebe Coroners, Sydney, 8 Mei lalu, mengatakan, dia tidak pernah melihat adanya dokumen apapun yang menunjukkan tentara Indonesia memerintahkan pembunuhan terhadap lima wartawan Australia di Balibo. (detikcom/Ant/t)




Komentar