Surya Tour
Print This Post Print This Post

SBY: Selamat Hari Buruh

Posted in Berita Utama by Redaksi on Mei 2nd, 2007

Palu (SIB)
Saat puluhan ribu buruh merayakan May Day di Jakarta, Presiden SBY memilih pergi ke Palu, Sulawesi Tengah. Dari tempat inilah, SBY mengucapkan selamat kepada para buruh.
“Secara pribadi saya mengucapkan selamat kepada para buruh yang merayakan Hari Buruh Internasional yang tepat jatuh pada hari ini, 1 Mei 2007,” kata SBY.
Ucapan selamat itu disampaikan SBY di hadapan seribuan buruh PT Cocoa Perkasa, Jl Trans Sulawesi, Kelurahan Mamboro, Palu Utara, Sulteng.
SBY menambahkan, seluruh buruh di dunia juga merayakan May Day. Meski pun, sambung dia, cara merayakannya berbeda-beda.
“Ada yang melakukan dialog, ada yang tasyakuran, ada yang berunjuk rasa, dan ada yang santap siang yang dilanjutkan silaturahmi,” ujar SBY.
SBY tidak mempersoalkan aksi unjuk rasa yang dilakukan para buruh di berbagai daerah. Menurut dia, hal tersebut sangat wajar sepanjang dilakukan dengan tertib.
“Unjuk rasa pada tanggal 1 Mei ini sepanjang tujuannya baik, menyampaikan aspirasi buruh, dilaksanakan secara tertib dan damai, itu wajar-wajar saja dalam kehidupan demokrasi,” tutur SBY.
Tiga Kali May Day, Presiden SBY Tidak Pernah di Istana
Sejak menjadi Presiden RI pada Oktober 2004 lalu, Presiden SBY sudah melewati peringatan 1 Mei alias May Day selama tiga kali. Selama tiga kali itu, ribuan buruh selalu berdemo ke Istana. Selama tiga kali itu pula, Presiden SBY selalu tidak berada di Istana Kepresidenan.
Untuk ketiga kalinya, Selasa (1/5/2007), Presiden SBY tidak beraktivitas di Istana Kepresidenan. Kali ini, Presiden SBY berada di Poso, Sulawesi Tengah untuk melakukan kunjungan resmi, setelah meninggalkan Jakarta pada Rabu pekan lalu. Dari Jakarta, SBY terbang ke Yogya, kemudian ke Bali, dan terakhir ke Sulawesi Tengah.
Di Poso, Presiden SBY akan melakukan peletakan batu pertama pembangunan Pondok Pesantren Modern Poso dan peresmian rehabilitasi masjid di Desa Tokorondo, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso. Setelah itu, Presiden SBY menuju ke Kecamatan Tentena, masih di Kabupaten Poso, untuk meresmikan beberapa proyek di bawah Yayasan Gereja Kristen Sulawesi Tengah, yaitu peletakan batu pertama pembangunan empat Sekolah Dasar dan perluasan pembangunan Sekolah Tinggi Teologia Tentena, peresmian RS Sinar Kasih Tentena dan Panti Asuhan Yahya dan Immanuel, serta peresmian rehabilitasi gereja.
Dari Kabupaten Poso, Presiden SBY dan rombongan menuju Palu untuk meresmikan sejumlah proyek di provinsi Sulawesi Tengah. Yakni, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mpanau 2×15 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Microhydro (PLTM) Hanga Hanga 3×1,2 MW, serta jembatan Teluk Palu. Acara peresmian proyek-proyek tersebut dipusatkan di lokasi PLTU Mpanau, Tawaeli, Kecamatan Palu Utara.
Dengan demikian, perwakilan dari ribuan buruh yang akan menggelar aksinya di depan Istana Merdeka dipastikan tidak akan bisa diterima Presiden SBY. Rencananya, dalam peringatan hari buruh ini, para buruh akan turun ke jalan. Tidak hanya di Jakarta, tapi juga di banyak kota/kabupaten di Indonesia.
Satu tahun lalu, 1 Mei 2006, Presiden SBY juga tidak berada di Istana saat para buruh ‘menyapanya’. Saat itu SBY sedang melawat ke Timur Tengah. Tepat 1 Mei, SBY berkunjung ke Kantor Berita Al Jazeera di Doha, Qatar dan bertemu para warga negara Indonesia yang berada di negeri kaya minyak itu.
Sedangkan dua tahun lalu, 1 Mei 2005, SBY juga tidak berada di Istana, meski ribuan buruh melakukan unjuk rasa. Tapi, saat itu SBY tidak melawat ke luar negeri. SBY hanya melakukan aktivitas internal di kediamannya di Puri Cikeas, Bogor. Maklum, 1 Mei 2005 bertepatan dengan hari Minggu.
Presiden SBY Berdialog dengan Seribuan Buruh di Palu
Presidan SBY pukul 15.00 Wita berdialog dengan seribuan buruh PT Cocoa Perkasa di Kelurahan Mamboro, Palu Utara. Kegiatan ini bagian dari rangkaian peringatan May Day.
Informasi yang diterima detikcom, Senin (1/5/2007), sebelum melakukan pertemuan dengan buruh, Presiden SBY akan makan siang di kantor
Gubernuran Siranindi, Jl M Yamin, Palu Selatan, pukul 12.00 Wita.
Para buruh terus dimobilisasi ke lokasi pertemuan dengan SBY. Jalur trans Sulawesi yang melewati lokasi pertemuan ditutup untuk umum.
Sementara sekitar 1 km dari lokasi pertemuan SBY dan buruh PT Cocoa Perkasa, seratusan buruh dan aktivis mahasiswa berunjuk rasa. Mereka memperingati May Day sekaligus menolak kedatangan SBY.
Unjuk rasa ini berlangsung sejak pukul 09.00 Wita. Para demonstran tidak bisa memasuki lokasi pertemuan karena dibarikade oleh aparat keamanan dari Polresta Palu.
Demo Mayday Tuntut 1 Mei Jadi Hari Libur
Tuntutan buruh dalam demo Hari Buruh Dunia (Mayday) 1 Mei besok sama seperti tuntutan mereka zaman dulu. Mereka meminta 1 Mei sebagai hari libur nasional.
“Sepanjang belum diliburkan, kita akan terus (demo),” ujar Ketua Umum DPP Partai Buruh Mochtar Pakpahan di Balaikota DKI Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (30/4/2007).
Mochtar menjelaskan, para buruh yang berada di bawah pimpinannya akan disebar di 3 titik. Yakni 15 ribu demo di Balaikota, 10 ribu demo di Istana Negara dan 15 ribu buruh tidak berdemo melainkan dangdutan di Muara Baru, Cilincing, Jakarta Utara.
Mochtar menambahkan, pihaknya sudah melakukan pengaturan dengan pihak keamanan agar provokator tidak merasuki demo para buruh.
“Kita mau aksi berlangsung tidak anarkis,” pungkas Mochtar.
Ketua DPR: 1 Mei Tidak Perlu Jadi Hari Libur Nasional
Pemerintah tidak perlu menjadikan 1 Mei sebagai hari libur nasional. Jauh lebih penting memenuhi kesejahteraan yang dituntut oleh para buruh.
Hal tersebut diungkapkan Ketua DPR Agung Laksono di sela-sela kegiatan Inter-Parliamentary Union (IPU) di Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, Bali, Selasa (1/5/2007)
“Saya kira (1 Mei) tidak mesti libur. Apa gunanya libur kalau tuntutan buruh tidak dipenuhi,” kata Agung.
Menurut Agung, pemerintah harus merespons tuntutan kaum buruh dengan baik. Pemerintah harus mampu menciptakan keseimbangan di dunia usaha.
“Jadi jawabannya adalah upaya pemerintah merespons aspirasi buruh. Dunia usaha jangan sampai rusak. Itu yang bisa menyelesaikan masalah bukan meliburkan,” tutur Agung.
Kalla: May Day Libur, Kerja Kita Liburan Saja
Jusuf Kalla boleh dikenal sebagai pencetus liburan pada hari kejepit nasional alias harpitnas. Tapi begitu mendengar usulan agar May Day menjadi hari libur nasional, mantan Menko Kesra ini malah bersungut-sungut.
“Hari libur nasional kita sekarang sudah 16 hari. Ini yang termasuk tinggi di Asia. Kalau mau ditambah lagi, kerja kita liburan saja,” ketus sang wapres ini di Istana Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (1/5/2007).
Penolakan yang sama disampaikan Kalla soal tuntutan agar pemerintah menaikkan upah para buruh secara drastis.
“Mengenai kenaikan upah, kita tidak menganut upah rendah tapi minimum. Kalau terus dinaikkan, bisa-bisa lapangan kerja malah berkurang. Kenaikan harus sesuai dengan kondisi,” papar Kalla.
Meski begitu, Kalla menyampaikan terima kasihnya atas nama pemerintah atas aksi demonstrasi yang berlangsung damai hari ini. Dari laporan yang diterimanya, aksi Hari Buruh Internasional alias May Day tahun ini tidak ada yang berlangsung dengan kekerasan.
“Saya harap, mudah-mudahan ini berlangsung seterusnya. Buruh boleh sampaikan pendapatnya, berdemokrasi lewat demo atau mogok. Tapi yang penting tidak ada kekerasan,” tandas Kalla.
TIGA RIBU BURUH UNJUK RASA DI DEPAN ISTANA PRESIDEN
Sebanyak tiga ribu buruh yang berasal dari sejumlah elemen perburuhan di tanah air, Selasa, menggelar aksi unjuk rasa di depan Istana Presiden untuk menyambut Hari Buruh Sedunia, meski Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tengah melakukan kunjungan ke Palu, Sulawesi Tengah.
Massa itu berasal dari elemen, seperti, Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI), Aliansi Buruh Menggugat (ABM), Migran Care, Pergerakan Indonesia, Kongres Serikat Buruh Indonesia (KASBI), dan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI).
Di bawah penjagaan ketat aparat kepolisian, massa yang berasal dari sejumlah perusahaan industri di Jabodetabek itu menggelar orasi yang intinya mengecam sikap pemerintah yang tidak pernah memberikan perhatian dan perlindungan kepada para buruh.
Bahkan mereka juga menggelar aksi “happening art” yang melakonkan sosok Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menerima bingkisan dari para buruh, yang kemudian diikuti oleh yel-yel khas buruh.
Kedatangan massa buruh itu, berasal dari tiga titik lokasi awal aksi, yakni, dari arah Bundaran Hotel Indonesia (HI), Patung Tani, dan Gedung Balaikota, mereka bergerak secara konvoi baik berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.
Akibatnya ruas Jalan Thamrin, terpaksa ditutup oleh petugas kepolisian untuk memberikan kesempatan kepada massa buruh itu untuk melakukan longmarch demikian pula sebaliknya di Jalan Merdeka Barat. Bagi kendaraan yang datang dari arah Jalan Gatot Subroto ke Jalan Merdeka Barat terpaksa dialihkan melalui Kebon Kacang yang kemudian masuk ke Jalan Abdul Muis dan Harmoni.
Maklumat yang disampaikan Pergerakan Indonesia DKI Jakarta, menyatakan, tolak neoraliberalisme, tolak fleksibiltas pasar tenaga kerja, tolak upah buruh murah, revisi Jamsostek Nomor 3/1992, bubarkan pengadilan hubungan industrial, tolak kriminalisasi perburuhan, dan ganti menakertrans.
“Pemerintah harus ganti Menakertrans karena sampai sekarang belum sedikitpun memberikan pembelaan terhadap nasib buruh Indonesia. Kami juga menuntut agar pemerintah menjadikan 1 Mei sebagai hari libur nasional,” kata orator aksi unjuk rasa di depan Istana Presiden tersebut.
Sempai berita ini, diturunkan ribuan massa buruh tersebut masih bertahan di depan Istana Presiden RI.
5.000 Buruh Long March ke Gedung DPR
Sekitar 5.000 buruh dari Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) se-Jabotabek mulai long march dari depan kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di Jalan Gatot Soebroto menuju Gedung DPR di jalan yang sama. Mereka bergerak pukul 11.00 WIB, Selasa (1/5/2007).
Dalam aksi long march itu, mereka membentangkan spanduk bertuliskan tuntutan mengenai perberlakuan KEK Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Mereka juga membawa satu keranda mayat yang dipayungi payung berwarna pink. Tidak hanya keranda, mereka juga membawa gong dan topeng leak.
Buruh yang mengenakan seragam kemeja biru yang bertuliskan FSPMI itu memenuhi seluruh jalur lambat Jalan Gatot Soebroto yang menuju DPR. Mereka tidak memberi kesempatan kepada kendaraan pengguna jalan di jalur itu.
Sementara mobil yang mengangkut mereka di parkir di sekitar gedung perkantoran yang berada antara BKPM dan Mapolda Metro Jaya.
Rayakan May Day, Upah Buruh Dipotong Rp 45 Ribu
Ribuan buruh terlihat antusias merayakan Hari Buruh Internasional (May Day). Padahal upah mereka harus dipotong karena tidak masuk kerja.
Menurut Atin (32), perusahaan tempatnya bekerja memang memberikan libur khusus pada Selasa (1/5/2007). Namun upah mereka harus dipotong Rp 45 ribu.
“Perusahaan sudah memberi tahu kalau hari ini libur. Tapi kami tidak digaji,” kata perempuan muda yang bekerja di perusahaan garmen di kawasan Cakung, Jakarta Utara, itu.
Begitu pula dengan Sodik (55). Buruh perusahaan industri kulit di kawasan Jakarta Utara ini mengaku tidak mendapat uang makan, uang transpor dan bonus mingguan. “Hari ini kehilangan Rp 11 ribu,” ujar pria paruh baya ini kepada detikcom saat berdemo di depan Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.
Sodik mengatakan, di perusahaan tempatnya bekerja, dia mendapat gaji mingguan. Tiap minggu, Sodik dan sesama buruh lainnya mendapat gaji Rp 286.500. Selain dipotong, Sodik juga harus mengganti hari kerja pada tanggal merah nanti.
Lain halnya dengan Marjana. Meski upahnya tidak dipotong, dia dan rekan-rekannnya sesama buruh di salah satu perusahaan di Tangerang itu harus mengganti hari liburnya untuk bekerja.
“Kami dapat libur dua hari, tapi besok kami harus mengganti pada saat tanggal merah,” ujar pria 27 tahun ini. (detikcom/Ant/e)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.