Polri Kini Berbeda dengan Massa Lalu
Medan (SIB)
Sejumlah 159 Mahasiswa PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian) angkatan ke-47 saat ini tengah melaksanakan Pengabdian Masyarakat/KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang disebar di seluruh wilayah Polda Sumut. Pengabdian masyarakat ini merupakan kebijakan yang baru pertama kali diterapkan di PTIK untuk menghasilkan sosok polisi pengayom dan dekat dengan masyarakat.
“Kami ditugaskan menjalankan pengabdian masyarakat di wilayah Polda Sumut oleh Kapolri untuk melihat bagaimana keberhasilan kepolisian di Sumatera Utara dalam menegakkan peraturan dan memberikan perlindungan kepada masyarakat,†kata AKP Agus Setiawan didampingi rekannya AKP Budi Hermanto dan AKP Victor D Mackbon, mahasiswa PTIK yang berkunjung kepada tokoh masyarakat Sumut DR GM Panggabean, Jumat (27/4) di Kantor SIB Medan.
Ikut mendampingi mahasiswa PTIK, Kapolsek Medan Kota AKP M Anggi Siregar. Sedangkan Pak GM didampingi Penanggungjawab Harian SIB Drs Victor Siahaan SH.
Selama mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat, mahasiswa PTIK selain berkunjung ke Kantor SIB juga telah melakukan kunjungan ke sejumlah sekolah, universitas, pondok pesantren serta Balai Kemitraan Polisi Masyarakat (Polmas).
Dikatakan mahasiswa PTIK, program pengabdian masyarakat ini merupakan salah satu kebijakan yang dilakukan pimpinan Polri untuk membentuk citra polisi yang dekat dengan rakyat. Selain melakukan pengabdian masyarakat, mahasiswa PTIK juga kerap disertakan mengikuti rapat dengar pendapat Kapolri dengan DPR RI.
“Dengan cara seperti itu, kami memang melihat langsung bahwa setiap kesalahan oknum polisi langsung menjadi tanggungjawab Kapolri. Ini membuat kami aparat kepolisian harus berhati-hati,†kata mahasiswa PTIK menuturkan pengalamannya kepada Pak GM. Dalam kesempatan itu, mahasiswa PTIK menyerahkan 3 buah buku yang antara lain berjudul “Merenungi Kritik Terhadap Polriâ€, karangan Jend. Pol (Purn) Drs Kunarto MBA (2 jilid), dan “POLRI dalam Cobaan†juga karangan Jend.Pol Kunarto.
Polri kini berbeda dengan masa lalu
DR GM Panggabean mengatakan, pada umumnya masyarakat pada dewasa ini sungguh merasa bangga menyaksikan, bahwa di era reformasi, Polri kini adalah Polri yang berbeda dengan masa lalu. Bahkan di masa kepemimpinan Kapolri Bapak Jenderal Sutanto, wajah Polri kini sudah sangat ramah dan simpatik.
Jika di masa lalu, Polri lebih dekat kepada kekuasaan, Polri kini adalah Polri yang mendekatkan diri kepada masyarakat.
Menurut Pak GM, motto: “Polisi Adalah Mitra Masyarakatâ€, bukan hanya lip service belaka.
Dalam berbagai peristiwa penting, terbukti motto ini amat ampuh.
Kita ingat, kata Pak GM, bagaimana gembong teroris berhasil ditangkapi karena polisi menerima informasi dari masyarakat.
Penangkapan pelaku kejahatan juga, karena polisi menerima informasi dari masyarakat. Di Medan, polisi sedang terus menerus menggulung premanisme.
Semuanya juga tidak terlepas dari kerjasama antara masyarakat dengan polisi. Artinya, Polri kini benar-benar mencitrakan diri sebagai bagian atau mitra dari masyarakat. Dengan kata lain, Polri sudah menjadikan diri sebagai bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan masyarakat sendiri. Dan ini membuat masyarakat bangga dan senang, puji Pak GM.
Pada kesempatan menerima mahasiswa tugas akhir PTIK di Kantor Harian “Sinar Indonesia Baruâ€, Jumat (27/4-07), DR GM Panggabean juga memaparkan, bahwa di Medan khususnya Sumatera Utara umumnya, sampai menjelang akhir tahun 2005, citra Polri sempat sangat buruk.
Oknum-oknum pejabat Polri berkolaborasi dengan mafia-mafia judi dan kepala-kepala premanisme.
Kota Medan saat itu sudah dikuasai mafia judi dan premanisme. Mereka pada saat itu, bahkan sudah menyusup ke dunia pers dan merambah ke kancah politik.
Mahasiswa pernah menggelar demo besar-besaran untuk menutup Capital Building yang ditengarai sebagai tempat Casino, tapi mereka dihadang oleh Polisi dengan kekuatan penuh. Dan pada waktu yang bersamaan, diciptakan “demo tandingan†di depan Capital Building, yang tujuannya untuk menjaga gedung itu terhadap demo mahasiswa.
Tersangka Narkoba yang ditangkap Polisi Militer pun, ketika diserahkan ke Poltabes Medan, langsung dilepaskan Kasat Reskrimnya, yang mengundang unjuk rasa dari mahasiswa. Akhirnya, mahasiswa menggelar demo susulan membawa spanduk: “Copot Kasat Reskrim Maruli Siahaanâ€.
Harian SIB, waktu itu adalah satu-satunya yang masih berani membawa suara kebenaran, mendesak supaya Polri menindak perjudian-perjudian yang merajalela dan memberantas premanisme, namun mendapat balasan brutal, kantor SIB diserang dan dirusak, staf dan karyawan koran ini dipukuli, Redaksinya diancam akan diculik.
Bahkan kantor SIB ini didemo oleh seratusan orang yang mengaku sebagai “Pekerja Judi†dan polisi tidak menangkapi mereka.
Waktu itu, moral masyarakat betul-betul sudah diracuni.
Syukurlah, kemudian Presiden SBY mengangkat Jenderal Drs Sutanto menjadi Kapolri.
Pak Sutanto langsung mengeluarkan perintah, semua perjudian harus ditutup, premanisme diberantas, dan perintah ini harus dilaksanakan tuntas dalam satu bulan.
Keajaiban pun terjadi. Mafia-mafia judi, preman-preman, penjualan kupon togel yang dulu bebas berkeliaran lenyap seketika seperti ditelan bumi.
Maka bagi saya pribadi, kata Pak GM, Kapolri Jenderal Sutanto adalah tokoh yang diberkati Tuhan Yang Mahakuasa. Apa yang tidak dapat dilakukan orang lain, dapat dilakukannya.
Menurut Pak GM, masyarakat Sumatera Utara sangat mengenal dari dekat siapa Pak Sutanto, karena beliau pernah Kapolda di Sumatera Utara, walau hanya beberapa bulan. Masyarakat Sumatera Utara sangat mencintai beliau.
Maka, masyarakat sangat gembira, ketika kemudian, Kapoldasu diganti dan Kapoltabes Medan waktu itu bersama Dansat Reksrimnya dicopot.
Masyarakat lebih gembira lagi, karena Kapoltabes Medan yang baru Kombes Irawan Dahlan sangat komit memberantas judi, premanisme, narkoba dan kejahatan-kejahatan lainnya.
Beliau bulan kemaren sudah pindah tugas ke Jakarta, sedang penggantinya Kapoltabes Medan yang baru sekarang, AKBP Drs Bambang Sukamto juga sudah mengatakan, akan terus komit memberantas judi, premanisme, narkoba serta berbagai kejahatan lainnya di kota ini. Pernyataan beliau itu, membuat masyarakat tenang, kata Pak GM.
Dengan mengemukakan hal-hal tersebut di atas, Pak GM menarik kesimpulan, bahwa Polri sudah menjadikan diri sebagai bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan masyarakat sendiri.
Kita patut berterimakasih pada Polri atas hal ini, kata Pak GM.
“Kita menyadari, bahwa menjadi Polisi memang tidak mudah,†kata Pak GM.
Polri Harus Tetap menjadi DIrinya sendiri
Lebih lanjut, DR GM Panggabean mengatakan, di tengah-tengah berbagai kepentingan masyarakat yang semakin beragam, aparat Polri kini dituntut oleh berbagai pengakuan dan aturan-aturan yang menyangkut HAM, etika dan hukum serta budaya dan martabat manusia. Namun, menurut Pak GM, hal itu wajar-wajar saja. Dan biarlah semua perubahan yang ada itu, dimaknai secara bijak.
Bagaimana pun, tegas Pak GM, Polri harus tetap menjadi dirinya sendiri.
“Jati diri Polisi yang kita maksud di sini adalah Polri yang membangun dirinya sendiri di atas kultur bangsa Indonesia sendiri,†kata Pak GM.
Kepada para mahasiswa tugas akhir dari PTIK itu, Pak GM juga tidak lupa memberitahukan, bahwa Kapoldasu yang baru Irjen Pol Nurudin Usman SMIK, sudah menginstruksikan kepada semua aparat kepolisian di daerah ini, agar Undang-Undang Pers No 40/1999, diterapkan dalam kasus-kasus pemberitaan pers.
Menurut Pak GM, ini luar biasa. Kalau tidak salah, mungkin di seluruh Indonesia, baru inilah pertama kali seorang Kapolda mengeluarkan instruksi seperti itu, yang dengan sendirinya disambut gembira.
Tentu dunia pers, teristimewa SKH Sinar Indonesia Baru (SIB), sangat gembira dan bangga atas hal ini. Sebab dengan instruksi itu, Kapoldasu Irjen Pol Nurudin Usman SMIK, telah berusaha dengan cukup bijaksana menegakkan hukum secara benar.
Pada kesempatan itu, Pak GM juga memuji bagaimana komitmen Polri pada pemberantasan illegal logging. Setiap tahunnya negara dirugikan triliunan rupiah. Negara kita sampai-sampai dicap sebagai “Nomor 1†dalam kerusakan hutan. Tapi apa yang terjadi? Amat menyedihkan, jika pelaku yang dengan susah payah ditangkap dan disidik oleh Polri, justeru dibebaskan di lembaga pengadilan. Kapolri sudah mengatakan kesungguhan dalam mengejar para pelaku illegal logging itu, namun kelihatannya semangat dari Polri itu harus didukung oleh semangat institusi lainnya seperti Kejaksaan dan Pengadilan.
Namun bagaimana pun, kata Pak GM kita tetap mendorong supaya Polri tidak patah arang melihat kenyataan itu, bahkan harus semakin lebih tangguh untuk terus bekerja, berbuat yang terbaik untuk bangsa dan negara.
“Kapolri Drs Sutanto dengan unsur pimpinan Polri lainnya, pada dewasa ini berusaha sekuat tenaga membangun “Polisi Yang Baikâ€, hendaknya cita-cita yang indah dan mulia itu, dapat dihayati dan diamalkan dengan sungguh-sungguh oleh seluruh mahasiswa PTIK sebagai generasi penerus calon-calon pemimpin Polri di kemudian hari,†pesan Pak GM kepada para mahasiswa PTIK tersebut. (A2/R1/h/f)




Komentar